
Tiba di kantor mereka berdua tampak canggung dan merasa aneh. setelah turun dari motor dan masuk kantor merekapun berpisah dikarenakan keyla bekerja di bagian finance di lantai atas, sedangkan marvin berada di lantai bawah bekerja sebagai customer service.
"aku ke atas dulu" kata keyla sambil melambaikan tangan ke suaminya itu
"iya, nanti aku hubungi kalau sudah mau menghadap" jawab marvin tanpa menerima jawaban dari keyla karena sudah berlalu menaiki tangga kantor.
waktu berlalu tak terasa sudah menjelang istirahat makan siang. tepat pukul 12.00 hp keyla berbunyi dan melihat pesan dari suaminya.
"ayo ke bawah kita harus memberitahukan ke bapak" bunyi pesan marvin mengajak keyla untuk segera..
tanpa membalas pesan tersebut keyla langsung bergerak ke bawah dan melihat marvin yang menunggu di ujung tangga.
tangan keyla sudah basah dan gemetar. pegawai lain menatap mereka berdua bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan masuk di ruangan direktur.
marvin menuju ruangan diikuti langkah kecil keyla kemudian mengetuk pintu dengan tangan gemetar juga.
"silahkan masuk" balasan dari ketukan marvin
"maaf pak mengganggu" kata marvin
"iya kalian ada apa kemari? kok firasat saya gak enak" jawab direktur sambil tersenyum.
__ADS_1
Direktur sangatlah baik dengan karyawan-karyawan yang dianggapnya seperti saudara dan teman tanpa ada batas bawahan dan atasan.
keyla dan marvin pun duduk dan ingin memulai pembicaraan. marvin melihat ke arah keyla namun keyla seolah menjawab "kamu aja yang ngomong"
"ada apa? kok pada diem" direktur pun bingung
"eh iya pak maaf sebelumnya sudah mengganggu, saya hanya ingin kasih tau ke bapak kalau saya dan keyla sudah menikah pak" kata marvin gugup
"aaahh.. yang bener?" jawab direktur tidak percaya
"iya pak, kami sudah menikah" keyla memberanikan diri untuk bicara
"iya pak, kami mengerti" jawab marvin tertunduk
"tapi kalau beda cabang sih boleh, kalau marvin mau dipindahkan ke cabang lain di daerah. gimana?"
tanya pak direktur yang tidak rela melepaskan salah satu karyawannya, karena semua karyawan dianggap seperti keluarga yang harus beliau jaga.
"gak usah pak, gak perlu repot-repot kami juga gak mau berpisah hehe" jawab marvin tersenyum
"perasaan kok aneh ya" gumam keyla dalam hati
__ADS_1
"terus mau gimana donk? tanya pak direktur
"keyla akan resign pak.." marvin menjawab dengan ringan dan senyum tipis
"apa?????" teriak keyla dalam hati
"tanpa persetujuan orangnya langsung seenaknya bilang aku yang resign, aku kan pengen kerja, hasil jerih payah aku selama ini sampai pada posisi ini. seenaknya dia bilang aku akan resign" gumam keyla sambil menahan air matanya.
"emang gak papa key? kamu kan pegawai terbaik di sini. bapak sayang banget loh kalau harus kehilangan kamu" tanya pak direktur mengagetkan lamunannya
"aku harus jawab apa?" gumam keyla dalam hati sambil menatap marvin dengan tatapan tajam
"eeh,, iya pak. kalau memang itu yang diinginkan suami saya mesti nurut" kata-kata yang keluar dari mulut keyla yang bahkan membuatnya merinding.
"oke baiklah jika seperti itu. bapak tidak bisa berbuat apa-apa lagi. bulan depan keyla baru resign yah, karena untuk bulan ini sangat tidak mungkin bagi perusahaan dikarenakan agenda yang sangat padat. boleh pernikahan kalian dirahasiakan dulu supaya bisa pertahanin keyla sebulan dulu" pinta pak direktur
"baik pak.." jawab keduanya kompak
"terima kasih pak" kembali kompak
"maaf yah tidak bisa mempertahankan kalian berdua" sahut pak direktur kemudian menjabat kedua tangan mereka dan mereka meninggalkan ruangan tersebut..
__ADS_1