
Tak berapa lama mereka mengobrol, akhirnya mereka pun tiba di depan kantor polisi. Dari luar terlihat beberapa orang sedang duduk di dalam kantor polisi. Dan terlihat wajah panik dari orang-orang itu, para polisi juga terlihat sedang menenangkan para korban itu.
Melihat kondisi itu, mereka berempat masuk ke dalam, dan menanyakan apa yang terjadi. Ternyata mereka semua adalah korban juga.
Korban kehilangan uang di kartu bank mereka tentunya. Hal ini sangat meresahkan, mereka sendiri juga tidak menyadari bagaimana dan kapan bisa terjadi hal itu.
Lalu Sari dan Dewi yang melihat itu, langsung melaporkan kondisi mereka pada polisi dan menanyakan kondisi korban di sana.
Polisi juga memberitahu pada mereka bahwa sudah beberapa hari ini ada orang yang terus saja ke kantor polisi ini untuk melaporkan masalah ini. Polisi itu berkata bahwa dalam 4 hari saja sudah ada 10 orang yang terkena musibah ini, dan orang-orang yang hadir sekarang di sini ini adalah orang yang tidak rela karena kehilangan uang mereka dan terus menyuruh kami untuk mencari pelakunya.
Polisi itu berkata: “Kami juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari caranya, kita juga sudah berkomunikasi dengan pihak bank, dan pihak yang berhubungan, tapi untuk sementara waktu kita belum bisa menemukan motif dan trik yang digunakan para penjahat teknologi itu.”
Sari berkata pada polisi itu: “Jadi apakah sekarang polisi sudah melakukan pencegahan pada masalah ini?”
__ADS_1
Polisi itu menjawab: “Sudah, kami sudah semaksimal mungkin melakukan pemberitaan ke media untuk para rakyat agar lebih berhati-hati lagi dalam melakukan transaksi ataupun melakukan pemindaian kode.”
Sari menjawab lagi: “Benar sekali, lalu kalau bisa, sekarang kerahkan seluruh kepolisian untuk berjaga-jaga di sekitar mesin penjualan yang berkode itu. Setahuku mereka suka berkeliaran di sana.”
Polisi itu menjawab: “Apa? Ini adalah informasi baru, kita sebelumnya mengira uang mereka diambil karena sembarangan memindai kode.”
Sari: “Awalnya kami juga mengira begitu, kami juga tidak menyangka bahwa ada orang mencurigakan di dekat sana. Tapi saat itu kami tidak memiliki bukti dan tidak boleh langsung menuduh. Lokasi yang kami ketahui sekarang hanyalah mesin di dekat bandara itu.”
Sari menjawab lagi: “Menurutku lebih baik jangan pak, kalau kalian langsung menyerbu ke sana, kita malah akan sulit mendapatkan jejaknya, kita boleh memantau dulu gerak-gerik mereka yang ada di sana, lalu kita cari lagi apakah masih ada mesin mencurigakan lainnya.”
Polisi itu menjawab lagi: “Ide yang bagus juga, kita benar-benar tidak boleh bertindak gegabah. Anak muda, terima kasih banyak atas saran dan informasinya. Kita akan mencoba aksi penyamaran dan menjebak para pelaku kejahatan itu.”
Dewi yang di samping juga melihat bahwa Sari mempunyai pemikiran yang tenang dan luar biasa cerdik. Dia mampu tenang dan berpikir jernih dalam kondisi apapun.
__ADS_1
Dewi berkata dengan senangnya: “Kakak iparku memang yang terhebat, aku benar-benar bangga padamu, kalau seperti ini sih tak lama lagi masalahnya akan bisa selesai.”
Sari menjawab: “Kita masih belum boleh terlalu santai, kita juga belum ada bukti bagaimana mereka melakukannya, lagipula untuk dapat menjebak begitu banyak orang ini, dapat membuktikan bahwa mereka bukanlah orang yang bodoh. Mereka itu cerdik dan licik, akal bulusnya sangat banyak. Jadi lebih baik kita tidak meremehkan mereka.”
Ibu dan anak itu juga berkata: “Betul sekali, aku juga kaget sekali hal seperti ini bisa terjadi pada kami. Padahal kami juga sudah cukup berhati-hati.”
Polisi menjawab lagi: “Kejahatan memang selalu bisa terjadi di mana-mana jadi kita harus selalu waspada, seperti halnya, hal yang terjadi pada kalian sekarang ini, kalau begitu kalian semua pulang dan beristirahatlah, kita dari pihak kepolisian dan intelijen akan langsung menindak kasus ini, dan segera mencari akar dari permasalahannya.”
Sari dan lainnya serentak menjawab: “Baik pak polisi!”
Setelah berterima kasih pada para polisi itu, mereka berempat keluar dari kantor polisi dan bersiap untuk pulang. Lalu Dewi langsung berlari keluar dengan riang gembira, dan berjalan ke depan duluan. Sebelum Sari menyusulnya, ibu dan anak itu langsung mengajak ngobrol Sari “Tuan, bolehkah aku tahu siapa namamu?”
“Sari .”
__ADS_1