TEMAN TAPI MENIKAH

TEMAN TAPI MENIKAH
gelisah


__ADS_3

Aku melihat semuanya, aku melihat ketika kamu pergi. Aku melihat ketika Senja menangis. Apa yang kamu pikirkan? Apakah ini indahnya senja yang kau bangga-banggakan? Gelap, tanpa kilau matahari yang turun mengendap-endap. Apakah seperti itu senja indah yang kau dambakan? Hitam, tertutup kabut gelap dengan keheningan dan duka yang bergeming? Hei, kenangan itu memang untuk diingat. Namun, jika kenangan itu untuk menyakiti, jangan kau ambil rasa sakitnya. Apa kau pikir hanya senja yang bisa berkabut?”


“Apa kau pikir hanya jingganya senja yang dapat tertutup awan hitam? Apa kau tak memikirkan kala Fajar? Ia bisa saja kelam. Saat musim hujan, Fajar tak nampak. Tertutup oleh kabut. Namun, setelahnya? Ada siang yang benderang menghapus kabut. Meskipun tidak terlalu silau, tapi ada keindahan. Dan aku bisa menemui Fajar selanjutnya. Begitu pun senja, kau seharusnya senang. Karena setelah senja, ada malam dengan taburan bintang. Dan setelah itu, kau bisa menemui Fajar.”


“Kau harus tahu, Fajar tak selalu indah. Sama seperti senja. Dan aku? Aku adalah Fajar, aku tak seindah yang Senja pikirkan. Kau tidak tahu karena kau belum menemui Fajar. Dan kau harus tahu, bahwa aku, sama seperti kau. Kecelakaan tiga tahun lalu membuatku harus menggunakan kaki palsu. Lalu kau? Kau beruntung hanya cidera beberapa saat. Seperti inikah Senjaku yang aku harapkan dari dulu? Seperti inikah Senjaku yang ingin aku temui dari dulu? Sungguh, bukan seperti ini Senja yang aku tahu,”


Tangis gadis itu semakin pecah. Mengalirkan derasnya aliran air mata penyesalan yang sangat membuat hati dan matanya perih. Ia menangis. Ia menjerit atas kesadarannya. Kembali, di sela-sela malam yang kian menua, senja mengeja bait pelangi yang hampir mati. Ia menyatukan tiap warna yang tercecer dengan rapi. Hingga rindu itu muncul, rindu sosok seorang ibu dan laki-laki sahabat kecilnya itu. Ia mulai bercerita pada malam, tentang semua kerinduannya. Kerinduan dengan pengharapan dapat kembali bersama dengan sosok-sosok yang begitu berharga untuknya.


Di penghujung hari, ketika tangisnya mulai terhenti, ia menerbangkan semua debu kesedihan. Ia lenyapkan semua kemurungan. Ia yakinkan dalam hatinya, sebelum kata usang, sebelum kalimat menghilang, ia berkata, “Ya, senja tak harus selalu mempesona. Karena Fajar tak jua selalu indah. Aku harus terus mengukir keindahan walau tanpa senjaku yang indah. Karena bagaimanapun, setelah senja yang gelap, berikutnya aku akan menemukan senjaku yang indah. Dan aku, adalah Senia Januari. Aku adalah Senja, yang meskipun tak selalu mempesona, yang meski saat ini tertahan oleh kabut ketidaksempurnaan dengan kecacatan, tapi aku pantas mengukir alur kehidupan yang sempurna tanpa cacat sedikit pun. Walau senja kelam, tapi senjaku, aku yang menjadi Senja, harus tetap mengukir keindahan,”


Kasih. Telah kuterima pesan walimah darimu. Telah ku baca dengan kerapuhan jiwa tiada daya. Telah ku ucapkan “aku turut bahagia” meski tersimpan dusta lara. Kasih.. Telah kau ajarkan mencinta


Kak…”

__ADS_1


“Jangan menangis Wi. Air matamu akan meluluhkan hatiku. Mematri kakiku. Melunturkan asaku. Iringi aku dengan cinta. Iringi aku dengan doa. Untuk kehidupan kelak kita.”


“Aku akan setia di sana. Aku di sana untuk belajar. Aku janji akan mengunjungimu setiap tahun.”


“Kakak janji?”


“Janji.”


melepasmu khawatir. Air mata mengiringi langkahmu mengarungi samudera bersama hilangnya senja. Bagaimana aku bisa bernapas tenang, sedang ia separuh jiwaku berkelana jauh? Ingin aku menjadi bagian tubuhnya, agar bisa selalu bersatu, bersama, selamanya. Belajarlah dengan sungguh, ingat Dewi. Aku akan setia menunggumu di sini, di bawah naungan senja.


Kasih.. Mengenalmu adalah kebahagiaanku. Menunggumu adalah janjiku. Bertahan adalah pilihanku. Bersamamu adalah impianku. Kakak… Terasa cukup nestapaku. Terasa perih ikrar setiamu menghajarku. Aku lelah! Aku ingin segera pulang bertemu kekasih sejatiku. Ia yang tak pernah ingkar. Kakak… Ingat aku sebagai orang yang mencintaimu. Ku tepati janjiku untuk tetap setia padamu.


Senja memenuhi cakrawala. Pintu langit terbuka, membentangkan layar kematian. Aku siap. Inilah kado Allah untukku. Ketika senja datang.

__ADS_1


Kelak di satu senja, anakmu dan anakku akan saling bercerita tentang orangtuanya yang menggilai senja dan tak lagi jingga setelah itu.


Senjamu tak lagi indah, Nona. Sejak seseorang penulis memotongnya beberapa tahun lalu. Senjamu kosong. Belakangan kulihat, kamu selalu pergi ke sudut pelabuhan dan melukis senja yang berwarna jingga saat kapal-kapal itu melepaskan jangkarnya. Kebiasaanmu yang aneh, melemparkan lukisan-lukisan yang kau lukis sendiri ke aliran Sungai Barito dan mengulanginya setiap hari. Pacarmu menganggap kamu gila dan ia tidak terima. Kamu mengulangi lagi kelakuan-kelakuanmu yang dianggap pacarmu kurang waras di setiap senja. Kamu mengulanginya berharap ritual itu bisa kembali mempertemukan kita. Tapi nyatanya, kita tak pernah dipertemukan Tuhan, bukan? Kamu hanya berfantasi, Nona.


Kamu bukan lagi senjaku yang pernah berbunyi saat hening jangkrik di penghujung malam. Kamu pernah berkata, mengagumi malahan, retorika dan intonasi irama saat aku membacakan puisi senja di delik publik. Yang ketika itu, kamu tidak di sana, Nona. Kamu hanya mengagumiku di dunia maya saja. Tapi tidak di dunia nyata.


Sebuah kota sedang bersolek mewakilkan rasa kita, dan kata-kata tak bermakna seperti rindu yang tenggelam di penghujung malam saat pertama kali bercinta di sofa kerajaan tak bertuan. Ditambah aroma tubuh yang kamu tinggalkan pada sprei kamar yang kita inapi tadi malam.


Ketika rasa itu menyerang saat senja, kamu bilang, tak ingin mencinta terlalu cinta. Tak ingin membawa perasaan terlalu dalam. Perih. Kamu mengakui tak ingin rasanya merindu terlalu rindu sampai kau rela membagi rindu di dua tempat yang padahal, jaraknya tak jauh berbeda. Kekuatan mana yang bisa menutupi jingganya senja sebagai pengingat kenangan antara kamu, aku, dan dia. Kamu hanya berfantasi, Nona. Tidak mencintaiku seutuhnya.


Kamu, Nona. Perempuan berambut legam dengan mata bulat duduk di pojok sebelah kiri pelabuhan. Telapak tangan kananmu menyapu leher sedang jari kiri menyisir poni yang menutupi wajah. Kamu bilang tak ingin melukis lagi karena setiap goresannya bukan lagi rindu, hanya kamuflase rasa sakit hatimu karena kita tak lagi bertemu.


Beberapa waktu setelahnya, kamu menjadi rajin ke toko buku untuk membeli buku catatan, menuliskan kata-kata rindu. Kamu bilang, ada aroma parfume tubuhku di sampulnya yang membuatmu harus memiliki buku itu. Setelah matahari hampir meninggalkan kota kita, kamu membawanya ke ujung pelabuhan.

__ADS_1


Buku catatan yang sedari tadi terletak di atas paha melembab karena bulir yang menetes dari beningnya mata seorang ibu. Pipimu basah. Sesaat lagi, jingga akan memerah. Kerikil terakhir kau lemparkan ke sungai. Buku itu masih kosong, kau belum menuliskan sesuatu karena senja yang jingga menurutmu tak lagi indah. Sejak meninggalkanku, kamu tak lagi merasa ada sesuatu yang istimewa di alam semesta. Hidupmu kosong, Nona.


__ADS_2