
Aku bersyukur karna aku tidak seperti itu begitupun juga abang ku kami msih bisa menjaga diri kami . berhubung ayahku jauh jadinabangku yang menjadi sosok seorang ayah bagiku melindungi aku dan ibuku. Tapi tak tahu mengapa semenjak kami tinggal di palembang ini semenjak tak lama ayah berpisah degan ibu , ibu menjadi kasar , pernah berfikir apakah ibu stres atau hanya melampiaskan ke marahan dan dendam terhadap ayahku ke pada kami? Tapi apakah ibu sampe se kejam ini ? tumbuh dewasa dengan pukulan dari orang tua sudah biasa, tetapi kalau sampai menyiksa hati, batin anak dan mental anak , menurutku akan sangatlah tidak bagus untuk kepercayaan diri dan berpendapat bagi anak. Sedih juga bila harus anak menjalankan yang namanya karma orang tua sebagai anak hanya bisa menerima keadaan yang sekarang serta bersabar akan masalah yang di hadapi serta terus bersekolah yang benar dan rajin agar kelak menjadi sukses. Tak semua anak mengalami hal 'normal' seperti yang dialami anak lainnya. Punya ibu dan ayah yang selalu ribut di rumah, bahkan sampai memutuskan untuk bercerai. Rasanya, mereka sama sekali tak memperdulikan bagaimana perasaanmu. aku mencintai mereka berdua,dan aku tak bisa memilih diantara mereka. Orang lain berusaha menabahkan dirimu dengan berkata bahwa waktu akan membuatmu lupa dengan segalanya. Kenyataannya, perasaan pahit tersebut terus menghantui... Didepan orang lain, aku tetap tersenyum dan berlaku seolah tak ada yang terjadi. Padahal, hatiku sudah hancur berkeping-keping. aku lebih tertutup dan nggak mudah dekat dengan orang lain, karena aku mengerti bagaimana rasanya tersakiti. aku takut bahwa orang lain akan mengecewakan atau mengkhianati aku. Jadi, aku benar-benar memilih orang-orang yang akan dijadikan teman. aku juga cenderung selalu sendirian tanpa berniat berteman. aku juga jadi nggak bisa berekspresi dengan baik, karena aku selalu menahan rasa kesedihan itu sendiri. aku juga jadi nggak bisa berekspresi dengan baik, karena aku selalu menahan rasa kesedihan itu sendiri. Namun, tak ada seorang pun yang paham dengan penderitaanku itu. Bahkan kedua orang tuaku sendiri. aku tak punya orang lain yang bisa kamu percayai dan tak punya seseorang untuk bertukar cerita. Hidupku penuh akan kekosongan dan tak ada ekspresi bahagia didalamnya.Terkadang, aku begitu takut bahkan sudah malas untuk pulang rumah. Bagiku, rumah bukan tempat untuk menenangkan diri. Rumah adalah tempat penyiksaan, karena sudah menjadi arena pertarungan antara kedua orangtuaku. Sebuah pertandingan yang tak pernah ingin aku saksikan. Sadar tidak sadar, aku menyalahkan diriku sendiri atas apa yang telah terjadi. Terkadang, aku merasa kedua orangtuaku ribut karena kehadiranku.aku pernah berpikir bahwa semua ini salahku, dan tak seharusnya aku lahir di dunia ini. Ingatlah, pemikiran itu salah! aku adalah anugerah terbesar untuk kedua orang tuaku. Kalau tak ada aku dab abangku, mungkin keadaan akan semakin memburuk. aku adalah pahlawannya.aku paham bagaimana rasanya sakit dan aku jadi obat terbaik bagi teman-temanku yang sedang menghadapi sebuah masalah. aku menjadi seorang yang begitu sensitif dan paham dengan perasaan orang lain. Disaat temanku mengalami kesusahan, akulah yang paling mengerti keadaannya. aku akan menjadi seorang pendengar yang sangat baik. Sebagai anak dari keluarga utuh, tentu kalian tidak akan pernah bisa memahami bagaimana rasanya. Aku tak pernah mengeluh terlahir dalam keluarga broken home. Karena aku tahu, ibuku pun bahkan tak pernahmenginginkannya.
__ADS_1
Aku justru bangga pada ibuku. Ia adalah seorang wanita yang tangguh. ia bisa memerankan perannya dngan begitu baik sebagai orang tua tunggal. Ketakutan terbesarku terlahir di tengah keluarga yang broken muncul saat aku mulai dewasa. Seseorang bercerita bahwa keluarganya tak merestui hubungan sang kakak dan pacarnya karena orang tua sang pacar bercerai. Duh gusti! Ini hal yang bikin aku tersadar, bahwa sepertinya aku hidup di tengah masyarakat yang tak bisa menerima perceraian. Andai mereka tahu, tak ada seorangpun yang ingin rumah tangganya berakhir perceraian. Tidak ada! Apalagi sang anak. Seorang anak tak pernah bisa, bahkan Tak pernah ada kesempatan sekalipun, untuk Bisa memilih di keluarga seperti apa ia akan dilahirkan. andai mereka maumemahami.
__ADS_1
Aku pikir aku akan bisa hidup normal seperti anak-anak normal pada umumnya, yang memiliki orang tua lengkap, di tengah keluarga harmonis. Ternyata aku salah. Aku terlahir tak seberuntung itu. Meski (mungkin) harapan selalu ada. Tapi bagaimana kalo aku bahkan telah begitu lelah untuk sekedar berharap?!
__ADS_1
ayah andai kau paham atas kesah anak mu ini pastilah engkau akan paham mengapa dunia ku selalu terasing.. Dalam jutaan langkah ku, tak pernah aku berpijak dtanah keputus asaan & tak pernah menggantungkan leher ku dtali bersimpul... Aku yg trus berjalan meraih sejuta harapan & mimpi'mimpi ku di ujung sana walaupun kadang kelumpuha...n ini harus trus berjalan walau tanpa tongkat & merangkak kesakitan.. tapi aku yakin aku akan menang & bahagia dtanah tempat pijak ku terakhir dgn mengangkat sbuah bendera kemenangan.
__ADS_1