
, apakah manusia memang tak boleh berbuat salah?” tanyaku pada angin pada suatu senja.
Angin yang mendengar pertanyaanku senja itu hanya diam. Ia tidak menjawab sepatah kata pun.
Ia hanya membelai rambutku dengan halusnya. Belaiannya di senja itu membuatku teringat dengan belaian ibuku yang tahun-tahun lalu.
Hidup di perantauan memang tidaklah selalu menyenangkan. Bayang-bayang kampung halaman selalu mampu menciptakan kerinduan tersendiri bagi setiap perantau. Perasaan seperti inilah yang kurasakan.
Aku rasa kenangan kampung halaman memang tidak bisa di beli dengan apapun.
Namun, aku sepenuhnya sadar bahwa inilah jalan hidupku. Hidup jauh dari kampung halaman demi keinginan merubah nasib agar menjadi lebih baik.
Dalam pertemuanku dengan angin di sela-sela senja sembari membaca apa yang tersembunyi dalam sepi.
Aku seolah mendengar sebuah bisikan dari angin yang mengatakan bahwa semua yang hidup di dunia ini tak akan terlepas dari adanya sebuah penilaian.
Pada awalnya aku memang tidak mengerti apa yang dikatakan olehnya. Akan tetapi setelah senja pergi sedikit demi sedikit aku mulai mengerti apa yang dikatakan oleh angin senja.
Selepas angin membisikkan kata-kata itu. Aku mencoba meresapi perkataannya.
Ketika angin mulai dingin membasuh kulitku ada aroma wangi bunga melati yang hingga dalam rongga hidungku. Angin senja tiba-tiba berubah menjadi sesosok yang jelita.
Tempat itu sungguh indah dan damai. Di sana ia mengajakku duduk untuk menyaksikan matahari yang turun secara perlahan ke peraduannya.
Dengan tetap memandangi matahari yang tenggelam. Ia berpesan, “Belajarlah dari matahari. Ia tahu kapan saatnya untuk bekerja. Dan tahu kapan saatnya beristirahat.”
Aku tentu saja kebingungan mencerna kata-katanya. Seolah mengerti apa yang tengah kurasakan. Ia melanjutkan kembali kata-katanya.
“Kau terlalu keras dalam bekerja sampai lupa kalau tubuhmu punya hak untuk istirahat. Jangan kau berlebihan dalam mengejar dunia.
Sebab, semakin kau kejar sibuk mengejar dunia. Dunia akan semakin jauh darimu. Demi kesejateraan hidupmu istirahatkan pikiran dan tubuhmu.”
Apa yang dikatakannya tak hanya menyadarkanku. Tetapi juga dihinggapi sebuah pertanyaan yang sampai kini belum kutemui jawabannya.
Senja kembali menggelar tirai ungunya. Sisa jejak langkah matahari masih nampak tertinggal di langit sebelah barat.
__ADS_1
Tidak lama kemudian satu demi satu gemintang mulai nampak untuk melaksanakan kewajibannya. Sementara itu, rembulan masih nampak malu-malu untuk menampakan diri.
Dia masih berselimut awan sembari merias dirinya. Sehingga kemunculannya nanti benar-benar sesuai dengan yang diharapkan khalayak.
Di dalam semak belukar yang ada di sebuah gubuk kecil, di tepian telaga yang jernih seorang anak kecil yang sedari tadi sembunyi terlihat masih ragu untuk pulang ke rumahnya.
Ia ragu dan juga takut pulang karena sore tadi ia telah menumpahkan air telaga yang dibawa pulang bapaknya untuk mandi dirinya dan adik-adiknya.
Ketika malam mulai beranjak dan serangan nyamuk-nyamuk liar mengusik keteguhannya untuk tidak pulang.
Tanpa ia duga, tiba-tiba datang seorang wanita tua datang untuk duduk-duduk di gubuk kecil, di tepian telaga itu.
Meski anak itu belum mengenali wanita tua itu dengan baik. Tetapi anak kecil itu, sudah mendengar banyak hal tentang wanita tua yang senantiasa menutupi betisnya dengan selembar kain. Tidak jelas kenapa dia harus menutup betisnya dengan kain seperti itu.
Wanita tua itu sungguh misterius dan penuh dengan keanehan. Tak banyak yang tahu dari mana dia berasal.
Ada yang mengatakan dia dulu adalah putri seorang mpu. Keanehan lain yang ada pada wanita tersebut adalah keberadaan selembar kain yang selalu menutup betisnya.
Sebagian orang mengira wanita tua itu tidak pernah mengganti kain penutup betisnya itu. Sedangkan sebagian lagi mengira jika wanita tua itu memiliki persediaan kain khusus untuk dijadikan kain penutup betisnya.
Maka tidaklah mengherankan apabila bentuk kain penutup yang ia kenakan selalu sama, baik corak, warnanya, ukuranya, dan bahkan cara mengikatnya.
Sedangkan yang kedua menyebutkan bahwa ia merupakan wanita pinilih atau wanita pilihan.
Maksud wanita pilihan ini adalah wanita yang memiliki anugrah khusus. Dan anugrah yang dimaksud ini adalah anugrah yang pernah dimiliki oleh Ken Dedes, seorang wanita yang memiliki betis bercahaya.
Diantara sekian banyak santri putri yang kukenali namanya. Ada satu nama yang mampu menyita
perhatianku. Arinis namanya. Terdorong rasa suka yang begitu mendalam. Akupun berani untuk
menyatakan perasaan sukaku itu kepadanya. Dan rupanya diapun memiliki perasaan yang sama bagiku.
Dia juga menaruh suka padaku dan hal itulah yang menyebabkannya mau menerimaku sebagai
kekasihnya. Seharusnya mendapati kenyataan seperti ini membuatku bahagia. Tetapi hal ini justru
__ADS_1
membuatku bingung.
Aku tidak tahu bagaimana cara melanjutkan atau mempertahan hubungan ini sampai pada jenjang
berikutnya. Aku sadar betul bahwa ini adalah pesantren dan tidak mungkin kami berpacaran di muka umum.
Aku harus mencari jalan lain. Kebetulan semenjak masuk di dalam pesantren itu aku memiliki kegemaran menulis.
Entah darimana datangnya kegiatan yang dulu kubenci itu kini menjadi kugemari. Sesekali aku mengirimkan tulisanku ke media cetak lokal. Suatu ketika pada sebuah senja.
Aku menerima sebuah bukti cetak yang dikirim oleh media cetak yang memuat tulisanku aku mendapati nama yang tidak asing. Ya, di koran yang memuat tulisanku itu juga tertulis nama Arinis.
Begitu tahu akan hal itu, keesokan harinya aku menanyakan kepada Arinis apakah nama itu memang benar namanya.
Arinis pun mengiyakannya. Mulai saat itulah terbuka jalanku untuk terus melanjutkan hubungan percintaanku dengan Arinis. Jalan itu kami namakan jalinan asmara dalam tinta.
“Mas, yakin dengan jalan ini?”
“Mas, sangat yakin. Jika kita ditakdirkan untuk berjodoh, tidak ada yang mampu memisahkan kita.”
“Baiklah, mas. Semoga ini menjadi jalan kita agar kita bisa sampai pada titik tersebut. Dan semoga Allah SWT meridhoi jalan kita ini, ya mas.”
saat itu aku dan Arinis semakin sering menulis dan mengirimkan tulisan-tulisan kami ke sejumlah media cetak.
Tulisan-tulisan itu bagi kami adalah wakil kami. Mereka menyatakan kebenaran akan apa yang kami rasakan.
Kegelesihan, kegembiraan, suka, maupun duka semuanya kami tumpahkan semuanya dalam tulisan tersebut. Wakil kami itu kadang berwujud puisi dan kadang cerita pendek.
Melalui tulisan itulah kami mampu mengenal satu sama lain. Meski jarang bertemu langsung cukuplah kami mengenal satu sama lain melalui tulisan tersebut.
Membaca tulisan Arinis seolah mampu menyelami pribadi gadis jelita itu. Begitu pula sebaliknya dengan Arinis.
Melalui tulisanku Arinis juga seolah mengenalku lebih dalam. Saling berbalas tulisan itu terus kami lakukan sampai kami lulus dari pesantren.
Setelah lulus dari pesantren. Kami memutuskan untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan yang sah.
__ADS_1
Kami tidak menyangka tembok pesantren yang pernah menjadi penghalang bagi kami. Justru melatih kami dan mengajarkan bahwa semua ada waktunya dan butuh proses.
Perjalanan cinta kami ini juga mengajarkan cinta harus dilandasi saling mengerti sekaligus memahami.