
Lelaki kulit bungkus tulang yang bungkuk selalu duduk di jalan, di tengah lalu-lalang keramaian Kompleks Perkantoran Permai. Ia bukan pengemis atau peminta-minta. Tidak ada wadah untuk menampung uang di depannya. Namun, wajahnya itu mengundang rasa kasihan orang lain. Bagaimana tidak? Kadang ada air mata yang mengalir di pipinya, tetapi tak bertahan lama di sana; ia selalu menghapus cepat-cepat air mata itu hingga bersih di kulit yang keriput. Entah apa yang ia lakukan di sana? Adakah ia menunggu seseorang?
Hari ketiga lelaki tua kulit bungkus tulang duduk di tepi jalan, ada bos-bos besar yang lewat bersama anak dan istrinya. Agaknya memang si bos ini tidak melihat siapa pun. Entah ia buta atau sengaja, tetapi pandangannya tidak pernah tertuju kepada lelaki tua. Ia melewatinya begitu saja. Benar-benar begitu saja.
Namun, ketika lewat, bos bersama istri dan anaknya mengeluarkan uang. Bos ini memberikan uang tersebut kepada ajudan pribadi saat menyuruhnya membeli rokok. Uang itu ada yang merah, biru, dan hijau. Dari ketiga lembar uang dengan warna berbeda, yang hijau jatuh. Tidak tahu itu jatuh karena sengaja atau tidak. Bos, ajudan pribadi, istri, dan anak berusia 6 tahun tidak menyadarinya.
Bos itu langsung pergi setelah ajudan kembali membeli rokok. Mereka meninggalkan lembar hijau senilai 20 ribu di jalan dan lelaki tua kulit bungkus tulang yang menatap berkaca-kaca uang itu.
Semua orang di jalan, yang berlalu dan datang, menyadari apa yang dilakukan si lelaki ringkih berpunggung bungkuk; mereka melihat lelaki itu memungut uang di aspal dan menyimpannya di saku penuh jahitan dan tambalan.
__ADS_1
Lelaki tua kemudian dengan girang, tertawa ceria, dan jelas sekali amat bahagia pergi ke sebuah rumah makan. Ia membeli sebungkus nasi, tempe serta tahu lengkap bersama sambal, dan kerupuk dari kios itu, lantas makan dengan sangat lahap dan begitu gembira.
Selesai lelaki tua berpakaian lusuh itu makan, aku mendekat, terlalu penasaran agaknya. Kutanyalah dirinya: "Pak, mengapa Bapak tidak menerima uang pemberian dari orang dan mengambil uang orang yang jatuh?"
Lelaki tua lusuh dan ringkih itu terkikik, lantas menepuk pundakku.
"Itu bukan jatuh, Nak Tampan. Ia tak menjatuhkan uang, tetapi memberikannya kepadaku, ayahnya," ungkapnya sebagai jawaban.
Tidak aku tahu bagian mana yang salah, juga tidak pasti sebelah mana yang tiba-tiba sakit, tetapi aku kemudian dibuat bungkam, terdiam. Jadi rupanya begitu adanya masalah ini.
__ADS_1
Esok hari, lelaki tua kulit bungkus tulang itu duduk lagi jalan. Entah karena apa, tetapi wajahnya amat gembira sejak kemarin itu. Masih aku perhatikan, tetapi muncul inisiatif untuk menemui bos.
Di gedung kantor yang tingginya telah menyentuh awan, aku bertatap muka dengan bos-bos bersama istri rambut pirang dan anak laki-laki tampan berkulit putih berwajah seperti boneka. Bos ini tidak buta sebenarnya. Jadi, aku berikan uang 20 ribu kepadanya.
Pak, uang ini saya temukan di jalan. Saya lihat uang itu jatuh ketika Bapak membuka dompet. Saya tidak sempat mengembalikannya kemarin."
"Oh, terima kasih banyak. Saya tidak sengaja menjatuhkan uang," katanya sambil menerima uang di tanganku.
Pembicaraan kami berakhir setelah basa-basi tentang bisnis selama 3 jam. Lalu, aku kembali ke jalan hanya untuk melihat lelaki ringkih berpunggung bungkuk.
__ADS_1
Bos-bos yang aku temui tadi datang lagi. Kali ini ia sendiri dan sepertinya tengah menunggu sang ajudan. Ia mengeluarkan ponsel dari saku. Ketika itu, jelas di mataku uang merah 10 ribu ikut keluar dan jatuh. Aku lihat lagi lelaki tua ringkih yang luar biasa gembira di kejauhan.
Kemudian, setelah bos-bos itu pergi, ia mendekati uang dan mengambilnya. Seperti hari kemarin, si lelaki tua kulit bungkus tulang menggunakan uang itu untuk membeli makanan. Ketika aku tanya lagi, jawabannya masih sama seperti kemarin.