
Ya, sama saja kan, aku atau kamu yang dia kabari, toh akhirnya kita bertemu di sini."
***
Akhirnya Tera menganggukan kepalanya ketika matanya menatap sekeliling tempat yang akan ia gunakan untuk resepsi pernikahannya, dari tiga tempat yang Zara ajukan. Sedangkan Zara sibuk merayu hatinya untuk tetap tenang.
"Beruntungnya aku bisa mengenal kamu, Za. Kamu yang terbaik." Tera menatap Zara dan melemparkan senyum yang selalu membuat hati Zara membengkak seketika.
Dan betapa tidak beruntungnya aku, mengenalmu dengan cara seperti ini. Zara menangis dalam hatinya. Perasaannya hancur berkeping-keping. Mengapa Tuhan begitu tega kepadanya, menyemai benih-benih perasaan ini bila pada akhirnya hanya menuai kepedihan.
***
Nita membelalakan matanya begitu Zara menyodorkan semua hasil pekerjaan yang telah ia susun dan kerjakan selama 3 minggu ke belakang..
"Aku telah mengerjakan semuanya. Bila sekiranya ada perubahan kecil, aku serahkan kepada kamu. Aku akan pergi keluar kota barang satu minggu."
"Apa? Pergi di saat-saat krusial seperti ini? Gak salah?"
"Maafkan aku Nit. Aku harus pergi."
"Tapi kamu bakal kembali hari sabtu ini kan?"
Zara menggeleng lemah, Nita menyipitkan matanya.
"Za, ada apa?"
Zara menggeleng kembali, butiran hangat kini mulai keluar satu persatu dari kedua matanya.
"Ya, ampun." Nita menggeser posisi duduknya dan memeluk sahabatnya itu.
"Aku tak tahu kapan rasa itu muncul Nit, tapi aku tahu bahwa ini semua salah. Oleh karena itu aku harus pergi."
"Aku kan sudah bilang, tak ada yang salah dengan cinta, Za." Nita mengusap punggung sahabatnya. Segaris senyum menghias bibir tipisnya.
***
Zara melirik layar ponselnya, terlihat barisan huruf membentuk nama Lentera. Entah ini sudah kali keberapa nama itu muncul disana. Tak berapa lama nama Dela, lalu Nita, disusul Gery yang muncul di layar ponselnya. Namun tak satu pun yang ia angkat. Saat ini ia hanya ingin sendiri, menikmati lambaian daun kelapa, deburan ombak, desiran angin dan aroma laut yang menenangkan.
Ia tahu, usahanya ini akan sia-sia, namun sedikitnya untuk saat ini dapat menenangkan hatinya yang tengah gundah gulana.
***
Zara terpana menatap seorang pria yang tengah duduk di gazebo rumah tantenya. Darimana dia tahu bila ia ada di sini?
__ADS_1
"Mama kamu yang memberitahu." Gery tersenyum. Zara mendengus.
"Za, Maafkan aku bila aku menganggu ketenangan kamu. Tapi ini penting."
Zara diam membisu.
"Kami mencoba menghubungi kamu, tapi ponsel kamu tidak aktif."
"Aku kesini ingin memberitahukan bahwa dua hari lagi jadwal Nita untuk melakukan operasi caesar."
Dua hari lagi? Satu hari sebelum acara pernikahan Tera dan Dela?.
"Itu sebabnya kami membutuhkan kamu di sana untuk menyelesaikan semuanya."
Zara melemparkan pandangannya ke arah laut luas.
"Za, ada kalanya kita harus menerima apa yang terjadi dengan hati lapang. Percayalah bila di setiap peristiwa selalu ada hikmah yang mengiringinya.” Gery menepuk bahu Zara dan berpamitan.
***
Jam di pergelangan tangannya menunjuk angka 7 malam. Hari ini adalah satu hari sebelum pesta pernikahan Tera dan Dela di helat. Ia harus memastikan semua berada pada tempatnya walaupun sebagian hatinya tak ingin berada disini. Zara melangkah dengan berat diantara pot-pot bunga krisan yang berjajar rapi di kanan kirinya. Halaman belakang cafe yang di pilih Tera sebagai lokasi acara resepsi pernikahannya terlihat indah di antara keremangan lampu taman. Nuansa putih menghiasi setiap sudut halaman berumput hijau itu. Wangi bunga mawar dan melati berlomba-lomba menggelitik hidungnya.
Ingin rasanya ia menjauh dari tempat itu namun tanggung jawabnya atas pekerjaan memaksanya untuk tinggal. Wajah cantik putri Nita dan Gery yang baru saja menyapa dunia melintas di pelupuk matanya.
Zara melangkah menuju gazebo yang telah di persiapkan untuk acara akad nikah esok. Meja dengan taplak berenda dan beberapa kursi tertata rapi menyambutnya. Zara tersenyum, konsep pernikahan seperti ini lah yang ia inginkan untuk acara pernikahananya kelak. Entah kapan.
“Mbak Za, terima kasih untuk segalanya. Kami tak akan pernah tahu apa sebenarnya yang kami inginkan bila kami tidak bertemu dengan Mbak Za."
Zara mengerutkan dahinya. "Ya ampun Del, gak usah berlebihan gitu. Ini semua kan tugasku, karena kalian telah menyewa jasaku."
Dela menggeleng. Menggeser kotak besar berisi pakaian yang sejatinya akan ia kenakan esok hari itu ke arah Zara.
"Aku belum ingin memakai ini, masih ada hal yang ingin ku raih di luar sana. Sebuah ikatan hanya akan membatasi langkahku. Aku bahagia karena akhirnya Tuhan mendengar dan mengabulkan doa-doa ku. Aku lega karena pernikahan ini tak harus terjadi."
Zara menatap dua orang yang duduk di hadapannya itu dengan roman kebingungan.
Dela beranjak dari duduknya, menghampiri Zara dan memeluknya hangat lalu berlalu meninggalkan Zara dan Tera berdua.
“Sebenanya pernikahan ini telah kami batalkan sejak tiga pekan yang lalu.” Belum reda rasa terkejut Zara karena kalimat-kalimat Dela tadi, Tera kini malah menambah daftar keterkejutannya yang membuat kepalanya seakan di hantam martil berkali-kali.
“Maafkan aku Za, tapi perasaan itu muncul tiba-tiba tanpa bisa di tolak, menguasai lorong-lorong hatiku yang terdalam. Menyiksa batinku karena merindu. Setiap hari yang ada di kepalaku hanya kamu.”
Mendengar kalimat yang meluncur deras dari bibir Tera membuat pandangan Zara seketika berkunang-kunang yang akhirnya disambut meriah oleh kegelapan.
__ADS_1
Hari ini Zara di sibukan dengan rencana pernikahan yang tengah ia tangani. Gery, suami dari Nita yang sekaligus atasan di tempat ia bekerja sekarang telah memberi kebebasan jam kerja tersendiri untuknya selama satu bulan ke depan.
"Za, sepertinya kali ini hanya ada kamu dan Tera." Gery menarik kursi untuk Zara.
“Dela sudah mengabari aku tadi pagi. Hasil dari semua pembahasan hari ini akan segera aku kirim via email kepada Dela, bagaimana Mas Tera?"
"Panggil Tera saja, kedengerannya gak enak di panggil mas. Kesannya aku jadi tua banget." Tera tertawa, menunjukan gigi gingsulnya yang tiba-tiba terekam manis di otak Zara.
***
Setelah melalui percakapan yang panjang dengan Tera tentang semua keinginan yang ada di kepalanya. Zara pun mulai mencatat semua poin-poin penting untuk ia dan calon pengantin akan kerjakan selanjutnya. Sesekali Zara memberi masukan dan saran.
"Pikiran kita kok bisa sama gini ya?" Tera tertawa.
"Kebetulan sama, biasanya proses awal ini paling ruwet. Ini rekor bagi ku, satu hari bisa selesai." Zara menutup laptopnya pelan.
***
Hari ini lagi-lagi Dela menelpon Zara, mengabarkan bahwa ia sedang ada tugas di luar kota dan tidak bisa ikut memutuskan desain undangan dan souvenir yang akan mereka gunakan. Zara menyarankan untuk mengundur harinya namun Dela menolak. Suara manjanya telah membuat Zara mengatakan iya berkali-kali. Dan kini ia dan Tera telah terdampar di sebuah ruangan yang dindingnya dipenuhi dengan kartu-kartu undangan dalam berbagai warna dan desain.
"Wah, sang perencana dan kliennya rupanya memiliki kemistri tersendiri nih." Wendi, kolega Zara, desainer kartu undangan itu tersenyum-senyum ketika melihat dua telunjuk menunjuk desain yang sama di template undangan yang ada dihadapan mereka.
"Ya harus dong, jadi gak banyak waktu terbuang." Zara tersenyum diantara lirikan Tera.
***
Jam dinding di kamarnya telah menunjuk ke angka 2 dini hari. Namun mata Zara tak mau juga terpejam. Kembali terlintas di pikirannya peristiwa tadi siang. Kebaya brokat putih itu melekat erat di tubuhnya tanpa perlawanan sedikit pun. Henry, sang desainer memaksanya menjadi model katalog rumah desainnya yang akan ia terbitkan segera. Karena Dela berhalangan, maka dengan menghiba Henry meminta Zara untuk bersedia melakukan pemotretan berpasangan dengan Tera demi mengejar deadline. Kalau saja Henry bukan teman lamanya mungkin Zara akan menolaknya mentah-mentah. Akan halnya Tera, pria itu dengan santai mengiyakan permintaan Henry bahkan terlihat bersemangat.
"Ya Tuhan mengapa ini harus terjadi." Zara menatap wajahnya di cermin. Genggaman tangan, senyuman, kerlingan mata, sampai anggukan kepala Tera masih terbayang jelas di matanya.
Zara menggeleng. "Tidak, ini tak boleh terjadi."
Namun semakin Zara menyangkal semua perasaannya semakin kuat rasa itu muncul.
"Aku tidak boleh begini. Aku harus membuang jauh-jauh rasa ini. Ini sangat salah."
***
Zara sibuk menenangkan hatinya diantara degub jantungnya yang tak beraturan ketika melihat Tera yang tengah duduk santai, menantinya di kedai kopi yang terletak di samping kantornya. Zara memejamkan matanya sejenak untuk memastikan bahwa ia akan baik-baik saja menghadapi Tera hari ini. Begitu melihat Zara, Tera beranjak, menarik kursi di depannya untuk diduduki perempuan berkulit sawo matang itu.
"Seperti biasa Dela absen. Dan itu akan membuat hari ini lebih baik ... Err, maksudku lebih cepat mengambil keputusan.” Tera membuka percakapan.
"O ya? biasanya dia selalu memberitahu bila tak bisa memenuhi jadwal kita." Dahi Zara berkerut.
__ADS_1
Tera tersenyum, senyum yang membawa Zara melambung ke udara.
"Ya, sama saja kan, aku atau kamu yang dia kabari, toh akhirnya kita bertemu di sini."