TEMAN TAPI MENIKAH

TEMAN TAPI MENIKAH
21


__ADS_3

Lalu tak lama, terdengar suara lonceng yang dibarengi dengan teriakan seorang bocah laki-laki. Penjual es serut—yang biasanya diguyur sirup—berhenti tepat di depan gubuk tua ini. Bocah lelaki itu sampai di depan gubuk beberapa detik kemudian, napasnya tersengal.


“Beli satu, Paklik,” ujarnya, masih dengan napas yang tersengal. Tanpa banyak bicara, lelaki yang tubuhnya sudah mulai membungkuk itu memasang standar sepeda onthelnya, “yang biasa ya, yang warna merah,” lanjutnya, ketika lelaki tua itu akan menuang sirup pada es serutnya.


“Hei, kamu!” lelaki yang duduk di sebelahku ini tiba-tiba berujar, “Bapakmu hari ini akan mati!”


Aku terkejut mendengar ucapannya yang tiba-tiba. Lelaki bungkuk penjual es serut itu langsung menoleh, matanya melotot tajam ke arah lelaki di dekatku ini. Sedangkan bocah yang baru saja menerima es serut pesanannya itu, tangannya tampak gemetar, wajahnya memerah. Lalu dia langsung berlari entah kemana.


Lelaki bungkuk itu masih menatap tajam lelaki di dekatku, lalu berseru hingga nadi-nadi di lehernya bermunculan, “Dia anak lurah!” sedangkan lelaki di sebelahku, malah tertawa terbahak-bahak, “dasar gila!” lelaki bungkuk itu kembali menambahkan, lalu segera bergegas pergi mencari pelanggan kembali.


Lelaki paruh baya di sebelahku kembali berujar ketika pedagang tadi sudah pergi, “Setidaknya akan berubah. Setidaknya akan lebih baik. Setidaknya, tidak ada lagi yang terluka sepertimu.”


Belum selesai aku mencerna kejadian tadi, segerombolan orang datang sambil berlari. Beberapa dari mereka membawa senjata tajam dan sebalok kayu. Bocah kecil tadi memimpin, masih menggenggam es serut yang tampak mulai meleleh, lengkap dengan gestur sesenggukannya.


“Hei, Darsono! Ngomong apa kamu sama anakku?” teriak seorang lelaki gempal dengan perut yang membuat kancing-kancingnya berjuang keras untuk terus menahan bajunya agar tidak lepas, “atas dasar apa kamu ngomong seperti itu? Setelah anakmu mati, mau jadi orang gila kamu?” matanya tampak berapi-api.

__ADS_1


Lelaki di sebelahku ini, malah tertawa sambil memegangi perutnya, “Tadi ada burung camar lewat.”


“Kalau ngomong yang jelas!” teriak lelaki gempal itu tadi, sambil menarik kerah lelaki di dekatku kuat-kuat.


“Maksudnya ngomong pakai bahasa burung?” aku geram sendiri ketika lelaki di sebelahku ini malah melantur, lengkap dengan tawa.


Serombongan yang penuh bapak-bapak berkumis ini kompak berteriak, meminta lelaki gempal itu untuk mengusir lelaki gila tersebut dari desa ini. Keadaan mulai kacau. Lelaki paruh baya itu terus tertawa ketika tubuhnya ditarik-tarik dan didorong dengan kuat oleh banyak orang. Lelaki gempal tadi, dengan semangat menyeret lelaki paruh baya itu bermeter-meter, hingga sampai di jalan raya.


Di tengah kerusuhan itu, lelaki gempal tadi terjatuh, memegangi dadanya dengan kuat. Para warga yang tadinya fokus mengusir lelaki paruh baya tadi, langsung menghentikan segala gerakan mereka.


Aku yang sedari tadi mengikuti mereka, masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Lelaki paruh baya tadi, tiba-tiba menghentikan tawanya. Aku terkejut ketika tiba-tiba mataku bertemu lelaki paruh baya itu. Sepertinya dia menyadari keberadaanku ketika yang lain tidak. Akhirnya ada yang menyadari bahwa aku ada. Dia tersenyum kecil. Lalu tiba-tiba berlari menjauh, meninggalkan kerusuhan yang terjadi karena lelaki gempal tadi mulai tidak bergerak.


Aku selalu melangkahkan kaki ini di jalan yang selalu sama tiap-tiap hari. Tidak adakah pepatah yang keluar dari mereka-mereka untuk memutarkan diriku untuk berjalan ke jalan yang lain. Cucuran air keringat terus bercucuran hingga baju-bajuku basah kuyub demi mencari jalan yang belum pernah kulewati.


Keesokan harinya, aku masih menyusuri jalan yang sama. Jalan yang hanya nampak lurus dan tanpa adanya berbelok-belok. Langkah demi langkah terus melewati jalan itu kembali. Terus melewati tanpa menemukan titik-titik sebuah tempat tinggal warga agar memberitahukanku kemanakah arah jalan ini pergi sebenarnya ?

__ADS_1


Sudah 2 hari aku menapaki dan menyusuri jalan ini tapi sedikitpun warga tidak pernah kutemui sama sekali. Tengok kiri dan tengok kanan hanyalah sebatas tengokan saja. Memikirkan bahwa mungkin sebentar lagi, akan ada warga yang akan memberitahukan kemanakah arah jalan ini pergi dan jalan.


Pada hari ke empat, kakiku terus melangkah. Baru kali ini, ku temukan seorang anak muda lelaki yang bergaya sangatlah keren dan menggunakan banyak emas baik itu kalung, gelang, cincin bahkan gigi pun emas si anak muda lelaki ini. Aku yakin, pasti anak ini berasal dari golongan bangsawan yang memiliki banyak harta di sekitarnya.


Aku bertanya kepada anak muda lelaki ini “Nak, arah jalan ini kemana ya? Bisakah adek memberitahukan ini kepada ibu ujung arah jalan ini dikarenakan jalan ini tidak memiliki belokan sedikitpun?” Jawab anak muda lelaki itu (dengan mengerutkan dahinya) “eh ibu … ibu lebih baik tanya saja kepada yang lain bahwa saya tidak mengetahui arah jalan ini. Sudahlah sana ibu, jangan mengganggu saya. Saya sedang sibuk. Pergi sana pergi …”


Anak muda lelaki itu sungguh sangatlah memarahiku dengan mengerutkan dahi yang sangatlah erat. Menjatuhkanku sehingga tubuhku tergeletak di bawah tanah jalan ini yang sangatlah dingin dan berbatu-batu. Sungguh anak muda lelaki yang sangatlah jijik dan enggan untuk berkomunikasi denganku.


Aku berusaha berdiri dengan sekuat tenagaku dan berjalan kembali dengan mengangkat kaki-kakiku untuk melangkahkan kembali. Terus berjalan langkah demi langkah dan sangatlah berharap akan ada seseorang yang akan memberitahukanku kemanakah arah jalan yang sedang kulewati ini.


Hari kelima aku menyusuri jalan ini, tiba-tiba ku bertemu dengan seorang ibu-ibu yang sedang menggendong seorang bayi di tangannya. Ia sangatlah asyik bermain dengan bayi tersebut. Mencium dahi bayi itu dengan ciuman yang hangat dan penuh cinta seorang ibu kepada anaknya. Di kejauhan, aku melihat ibu itu tersenyum dengan cerah terhadap bayi tersebut. Sama sepertiku, yang dahulu memiliki seorang bayi di pelukan atas tanganku yang kini hanyalah sisa-sisa debu-debu memori di kepalaku ini.


Ketika, hari sudah senja, aku berjalan kembali dan mendekati seorang ibu tersebut. Aku bertanya kembali pertanyaan yang sudah ku tanyakan kepada anak muda lelaki yang pernah kutemui sebelumnya. “Ibu, arah jalan ini kemana ya? Bisakah ibu memberitahukan ini kepada saya ujung arah jalan ini dikarenakan jalan ini tidak memiliki belokan sedikitpun?” Tersontak, ibu itu pun menanggapi pertanyaanku sama seperti halnya dengan anak muda lelaki yang pertama kali kutemui.


Jawab ibu itu (dengan mengerutkan dahinya) “Saya tidaklah mengetahui ujung arah jalan ini. Ibu tanya saja kepada yang lain. Cari orang lain saja yang lebih mengetahui jalan ini dibandingkan saya. Saya bukan seorang wanita yang suka jalan-jalan keluar rumah. Sudahlah sana ibu, jangan mendekati saya dan pergilah dari hadapan saya dengan bayi saya. Saya tidak mau, ibu menularkan kudis ibu kepada saya dan bayi sana. Cepat sana ibu pergi dan jauhi bayi saya!”

__ADS_1


Lagi-lagi hanya cacian maki yang kudapat dari 2 orang yang telah kutemui. Sungguh, apakah hanya ini jawaban yang ku peroleh tiap-tiap orang yang kutemui dan kutanya ujung arah jalan ini yang belum kutemui jawabannya sama sekali dan selalu sama jalannya yaitu tanpa adanya belokan-belokan dan nampak lurus saja.


__ADS_2