
Memiliki keluarga idaman adalah keinginan semua orang, tak terkecuali Andini. Memiliki Papa, Mama, dan Kakak, tapi hubungan keluarga Andini jauh dari kata harmonis. Papanya yang adalah seorang pengusaha kerap menghabiskan waktu di luar kota, sementara Kakaknya adalah seorang artis yang kini sedang naik daun, sementara di rumah hanya ada dirinya dan juga Mamanya seorang. Foto keluarga yang bisa berempat dalam satu frame, nyatanya hanya sebuah foto, karena usai pemotretan itu sang Papa yang harus kembali ke luar kota, dan Kakaknya yang harus kembali syuting stripping.
Miko Sukmajaya, adalah salah pengusaha besar yang bergerak di bidang retail dan waralaba yang cukup besar dan dikenal di negeri ini. Jam terbangnya yang tinggi, membuat Miko Sukmajaya benar-benar harus sering menghabiskan waktu untuk mengurus gurita bisnisnya. Bahkan ketika ada disuruh pun, Papa Miko yang tak lain adalah Papanya Andini tak lepas dari handphone dan tablet untuk mengecek fluktuasi sahamnya.
Sementara Arine Sukmawati adalah seorang artis papan atas yang kini sedang naik daun. Wanita cantik yang sering kali menghiasi mini series yang diadaptasi dari novel yang hits yang platform membaca dan menulis novel itu.
Praktis di rumah, yang sering kali berkomunikasi hanya Andini dan juga Mama Tika. Ada kalanya Andin mengharapkan bisa makan bersama dalam satu meja. Membagi cerita keseharian, mendengarkan cerita yang bisa dibagi antar anggota keluarga, atau bercanda untuk kian mempererat hubungan keluarga Sukmajaya itu. Namun, keinginan kecil yang Andin inginkan ini tak pernah terwujud karena Papa dan Kakaknya sibuk dengan dunia mereka sendiri-sendiri.
"Ma, Andin pengen banget loh kita berempat bisa duduk dalam satu meja, makan bersama, mengobrol bersama, dan membagi keseharian kita satu sama lain. Namun, yang terjadi justru sebaliknya ... di rumah ini seolah hanya Mama yang Andin miliki," ucapnya.
Mama Tika berusaha untuk memahami apa yang dirasakan oleh putrinya itu, kemudian Mama Tika pun menatap Andin.
"Bagaimana lagi, Din ... Papa kamu sibuk, Kakak kamu sibuk syuting stripping. Jadi, ya mencari waktu untuk bisa bersama itu sangat susah. Bukannya tidak bisa, cuma sangat susah," balas Mama Tika.
__ADS_1
"Kalau diusahakan pasti juga bisa, Ma ... Papa dan Kak Arine saja yang tidak mau meluangkan waktu. Kalau, nanti Andin menikah bagaimana Ma?" tanya Andin kemudian.
Itu hanya sebuah pertanyaan yang terlontar dari bibir Andin. Hanya saja, Andin seakan sudah jenuh dengan keadaan keluarganya. Hidup bergelimang harta, tetapi membuat hatinya terasa dingin. Sekadar ingin mendapatkan perhatian dari Papanya sendiri saja tidak bisa. Sekadar ingin makan bersama saja begitu sulitnya.
"Tadi, Andin diajak ke rumah Bosnya Andin ... keluarga mereka juga dari kalangan pengusaha. Pak Belva Agastya yang pemilik Agastya Property, kemudian Tante Sara yang memiliki Coffee Bay dan juga bisnis Skincare, mereka saja bisa makan bersama ... hubungan suami istri dan anak-anak yang sangat harmonis. Andin hanya ingin itu, Ma," balasnya.
"Ya, kan masing-masing orang memiliki prioritas yang berbeda-beda Din ... mungkin saja Papa kamu juga memang sangat sibuk. Kakak kamu juga syuting terus, sampai pulang hanya untuk sekadar tidur saja," balas Mama Tika.
Andin menghela nafas yang terasa begitu berat, kemudian dia menatap wajah Mamanya itu. "Ma, apa Andin menikah saja yah?" tanyanya dengan tiba-tiba.
Bukannya tidak mengizinkan Andin untuk menikah. Hanya saja, memang sebaiknya pernikahan bukan untuk sekadar permainan. Pernikahan yang benar membutuhkan komitmen seumur hidup. Komitmen antara suami dan istri.
"Andin ingin merasakan keluarga yang bahagia, Ma ... potret keluarga kita suram, Ma. Hanya potret di dinding itu saja yang tampak bahagia, padahal tidak sama sekali. Tidak ada kebersamaan, dan senyuman seperti itu dalam keluarga kita," balas Andin.
__ADS_1
Rasanya begitu ironis saja melihat potret besar yang tergantung di dinding hanya sebatas pajangan semata. Senyuman hangat yang ditunjukkan dalam potret itu sama sekali tidak pernah ada di dalam keluarga Sukmajaya ini. Yang ada hanyalah kesibukan Papa dan Kakaknya yang memang begitu luar biasa.
"Namun, inilah keluarga kita Andin. Jika kita hanya menengok pada kebahagiaan di dalam keluarga lain yang ada kita hanya akan merasa iri dan ingin hal yang sama. Namun, kita juga harus ingat bahwa kondisi masing-masing keluarga itu berbeda. Inilah keluarga kita ... potret keluarga kita," balas Mama Tika.
Andin menghela nafas dan memejamkan matanya perlahan. Apakah salah jika dirinya menginginkan sedikit kebersamaan dan kehangatan di dalam keluarganya? Apakah salah jika dirinya menginginkan sedikit waktu berkualitas yang terjalin antara orang tua dengan anaknya? Andin tidak meminta yang muluk-muluk, tetapi kenapa semua itu seakan begitu sukar untuk diwujudkan.
"Jika demikian ... agaknya Andin harus menikah saja, Mama ... mencari kebahagiaan Andin sendiri," jawab Andin dengan tertunduk lesu.
"Siapa yang mau mengajak menikah kamu?" tanya Mama Tika kemudian.
"Ada, tuh ... bosnya Andin ngajakin Andin seriusan. Lain waktu jika Pak Evan ngajakin Andin serius, Andin akan mau," sahut Andin.
"Andin, jangan bermain-main dengan pernikahan. Berdosa, Din ... pernikahan adalah sebuah hubungan yang seharusnya terjalin dalam hati. Ada komitmen penuh antara suami dan juga istri, rintangan dalam rumah tangga itu juga besar. Terlebih saat kamu memutuskan menikah tanpa cinta, itu akan lebih menyakitkan. Jadi, jangan," ucap Mama Tika.
__ADS_1
Sepenuhnya apa yang dikatakan Mama Tika ada benarnya. Hanya saja, Andin tak lagi menginginkan potret keluarga yang seperti ini. Andin menginginkan keluarga. Rumah yang penuh kasih sayang dan perhatian dari orang yang menempatinya. Bukan hanya sekadar bangunan mewah yang berdiri, tetapi kosong dan penuh kesunyian di dalamnya.
Jika memang menikah hanya sekadar menjadi pelarian, tentu itu pun salah. Andin hanya memikirkan yang menjadi ego-nya saat ini saja, tidak berpikir dampak dari keputusan yang dia ambil saat ini di masa yang akan datang. Namun, Andin juga ingin memiliki keluarga yang hangat layaknya keluarga Agastya.