
"Boleh tidak?"
Satu pertanyaan singkat yang diucapkan oleh Evan kepada Andin. Seakan ucapannya dan deru nafasnya yang hangat membangkitkan bulu roma Andin, hingga wanita itu seketika merasa merinding mendengar ucapan suaminya itu.
Melihat Andin yang tidak merespons ucapannya, Evan kemudian membalik tubuh Andin, membuat wanita itu bisa berhadap-hadapan dengannya, kemudian pria itu segera menyentuh dagu Andin dan melabuhkan bibirnya untuk memagut dengan begitu lembut bibir Andin. Sensasi manis berpadu hangat adalah dua rasa yang selalu Evan dapatkan tiap kali mencium bibir istrinya itu. Sensasi yang tidak akan pernah bisa dia tolak, tetapi justru dua sensasi itu sangat memabukkan, membuat Evan tak bisa berhenti untuk memberikan ciuman, pagutan, dan lu-matan di bibir istrinya itu.
Pergerakan bibir Evan yang begitu melenakan, dan sapuan lidahnya yang menelusup dan seolah menggelitik kedalaman rongga mulutnya membuat Andin pun melenguh karena merasakan godaan dari suaminya itu.
“Hh, Mas Evan,” lenguhan Andin dengan nafas yang tertahan.
Akan tetapi, lenguhan dari Andin seolah justru memacu Evan untuk memperdalam ciumannya, pria itu tidak segan-segan untuk melahap habis bibir Andin. Lipatan atas dan lipatan bawah bibir Andin dia cumbu dan lu-mat dengan nafas yang kian memburu.
Evan lantas menarik wajahnya, pria itu tersenyum menatap wajah Andin yang merona itu. “Boleh lanjut?” tanya Evan yang meminta izin terlebih dahulu kepada istrinya itu.
__ADS_1
Andin menganggukkan kepalanya, dan seolah memberikan akses kepada suaminya untuk melakukan apa yang dia mau.
Evan kemudian menutup tirai jendela di dalam kamarnya dengan menggunakan sebuah remote kontrol dan kemudian dia membawa tubuh Andin berbaring di ranjang. Pria itu menindih tubuh Andin, kemudian Evan kembali memberikan ciuman yang dalam di bibir Andin.
Malam indah di musim semi berhiaskan langit Sydney berpadu dengan decakan yang dihasilkan dari kedua bibir yang saling bertemu. Justru semakin mendorong Evan untuk membelai setiap lekuk-lekuk feminitas di tubuh istrinya itu. Bahkan tangan Evan kini meremas gundukan buah persik milik Andin, memberikan tekanan pada remasannya, seolah buah persik Andin begitu menggoda dan membuat Evan bisa menggerakkan tangannya membelainya dan meremasnya perlahan.
Seolah terbawa suasana, kemudian Evan meloloskan kancing demi kancing di kemeja Andin. Memperlihatkan wadah buah persik berwarna merah di sana, sangat kontras dengan kulit Andin yang putih. Bak tak bisa menahan terlalu lama, pergerakan bibir Evan kini menyisiri halusnya epidermis kulit Andin dari kening, kedua kelopak mata, ujung hidung, ujung dagu, dan juga leher istrinya. Kecupan-kecupan yang hangat dan basah dilabuhkan Evan di garis leher Andin. Kecupan bibir yang disambut dengan Andin yang kian memejamkan matanya, wanita itu menghela nafas panjang setiap kali bibir Evan membuai tubuhnya.
Sampai pada akhirnya Evan melepaskan pengait di balik punggung Andin, memperlihatkan dua gundukan buah persik yang kian berisi di sana. Pria itu mulai mencumbunya, menghisapnya, dan melu-matnya dengan nafas yang memburu.
Pria yang sudah sepenuh polos itu kemudian mulai menyusuri lembah di sana. Memberikan sapuan lidahnya yang basah dan hangat di sana, tusukan dengan ujung lidah yang membuat tubuh Andin menggelinjang. Akan tetapi, Evan seakan tidak pernah jemu untuk memuja istrinya dengan caranya. Kian kencang ******* Andin, justru melecut semangat Evan untuk berbuat lebih.
Menyadari bahwa inti sari tubuh Istrinya sudah begitu basah dan lembab, Evan lantas memposisikan dirinya di antara kedua paha Andin. Pria itu menghentakkan pinggulnya, memberikan hujaman demi hujaman yang membuat Andin meremas sprei di bawahnya. Hujaman demi hujaman terjadi, lesakkan demi lesakkan juga terjadi, gerakan seduktif maju dan mundur, keluar dan masuk yang membuat tubuh keduanya berpeluh.
__ADS_1
Evan kian bergerak. Menghujam dalam, menusuk masuk, menghentak dengan laju yang terkendali. Entah berapa lama Evan bergerak di atas sana, sampai Andin berkali-kali di terpa badai kenikmatan. Berkali-kali Andin mende-sah dengan nafas yang terengah-engah.
“Astaga, Andin oh Andin,” racau Evan dengan memejamkan matanya.
Pria itu juga kian berusaha keras menahan dirinya. Penyatuan yang tidak pernah gagal, Evan benar-benar gila merasakan cengkeram cawan surgawi di pusakanya yang begitu erat.
Sampai pada akhirnya, Evan tak mampu lagi bertahan. Pria itu kemudian menggeram, dan menghujam dalam, deru nafasnya kian kacau. Hingga di batas akhir, Evan tak mampu lagi menahan. Pria itu meledak, pecah, dan tanpa sisa. Tubuh pria itu bergetar dan rubuh di atas tubuh istrinya itu.
“Aku cinta kamu, Mas Evan … sangat cinta kamu,” ucap Andin dengan merengkuh tubuh suaminya itu.
“Iya Sayangku ... aku juga cinta banget sama kamu,” balas Evan.
Sebab, penyatuan dua raga selalu lebih indah jika diakhiri dengan ucapan cinta. Pengakuan perasaan yang membuat keduanya kian melebur dalam gelora asmara.
__ADS_1
Musim semi berhiasankan langit kota Sydney yang indah. Kedua pasangan itu sama-sama menikmati indahnya malam dengan saling mendekap erat. Menstabilkan nafas, dan saling memeluk.
Tidak ada banyak kata yang mereka ucapkan, selain menikmati pusara cinta yang tak bisa diucapkan dan dideskripsikan dengan kata-kata itu.