
Selang beberapa pekan berlalu, pekerjaan Agastya Properti benar-benar banyak. Sampai Direktur Utama meminta beberapa staf untuk bisa bekerja lembur. Tidak hanya staf, tetapi juga Evan pun juga harus siap lembur.
"Andin, malam ini bisa lembur?" tanya Evan.
"Bisa Pak Evan," jawabnya dengan meyakinkan.
"Baiklah ... usai jam kerja usai, kamu bisa kerja di ruanganku saja. Seperti biasa, menginput data yah," jelas Evan kepada sekretarisnya itu.
"Siap Pak," balas Andin.
Kali ini memang Andin lebih fokus bekerja, masalah perasaan jika memang berjodoh akan bertemu juga. Layaknya asam gunung dan garam di laut, jika berjodoh keduanya akan bertemu di belanga. Lebih memilih pasrah dan ikhlas. Kendati demikian, Andin juga tidak masalah jika Evan menunjukkan perhatiannya kepadanya.
"Makasih, An .. din," balas Evan dengan sedikit tersenyum kepada sekretarisnya itu.
Andin hanya mampu tersenyum dan kembali bekerja. Tidak masalah dengan perhatian dan sikap yang kadang aneh yang ditunjukkan Evan, tetapi memang Evan terlihat mendekati Andin perlahan-lahan, tanpa harus membuat gadis itu merasa tidak aman.
Begitu usai jam bekerja, Andin pun mengetuk pintu ruangan Evan dan siap untuk bekerja lembur malam itu. Gadis itu sudah begitu bersemangat untuk bekerja.
"Permisi Pak Evan, sekarang kan?" tanyanya.
"Tentu, sini Ndin ... duduklah di sini," balas Evan yang menunjuk sebuah kursi yang memang sudah dia siapkan dan Andin bisa duduk di sana, tidak jauh dari tempat duduknya.
"Satu meja dengan Pak Evan?" tanya Andin.
"Iya, kenapa tidak nyaman?" balas Evan.
__ADS_1
"Oh, tidak kok ... biasa saja Pak," balasnya.
Andin pun segera mengambil tempat duduk di samping Evan, gadis itu berusaha untuk fokus untuk bekerja, dan juga tidak menghiraukan Evan yang kadang kala mencuri pandang kepadanya.
"Bisa bekerja sampai jam berapa Andin malam ini?" tanya Evan kemudian.
"Jam berapa pun tidak masalah, Pak ... lagian tidak ada yang mencari saya juga kok di rumah," balasnya.
Evan kemudian menatap kepada Andin, "Pindah dari rumah saja, Ndin ... atau kamu mau menempati apartemen saya di dekat kantor ini?" tawar Evan.
"Tidak usah Pak ... untuk apa saya pergi dari rumah. Yang ada nanti Papa dan Kak Arine justru semakin senang jika saya pergi dari rumah. Jadi, memang lebih baik saya bertahan. Tidak apa-apa," balas Andin.
Evan diam, apa yang diucapkan Andin ada benarnya, tetapi juga Evan sebenarnya kasihan dengan Andin. Bahkan sehari-hari Andin juga bersikap santai dan tidak menunjukkan kesedihannya. Walaupun Evan tahu di rumahnya sendiri Andin justru merasa tersisih.
"Kamu pernah pacaran Ndin?" tanya Evan kemudian.
"Oh, saya kira kamu pernah pacaran sebelumnya," sahut Evan.
Andin tampak menggelengkan kepalanya, "Enggak ... saya tidak pernah pacaran. Ya, cuma kalau yang naksir sih banyak Pak. Walau tidak sebanyak Kakak saya yang memang cantik dan sexy," balasnya.
Evan kemudian tersenyum kecil, "Kenapa saya tidak suka ya sama Arine. Bahkan sebelum ini saya tidak pernah lihat dia di televisi. Saya lebih tertarik pada kamu," ucap Evan dengan jujur dan serius tentunya.
"Jangan seperti ini, Pak ... sebaiknya kita bekerja. Lembur, biar cepat selesai," balas Andin.
Usai memberikan jawaban kepada Evan, Andin tampak kembali serius dengan pekerjaannya. Kemudian dia tampak melihat berbagai tabel di sana, memastikan tidak ada data yang salah input.
__ADS_1
"Andin, kamu suka apa?" tanya Evan dengan tiba-tiba.
"Suka apa Pak maksudnya? Makanan, minuman, film, atau apa?" tanya Andin kini.
"Apa pun yang kamu suka," balas Evan.
"Biasa saja Pak ... saya sangat suka Crofflee buatan Coffee Bay loh Pak dan Caramel Macchiatonya enak," balas Andin.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Andin, Evan pun tersenyum, "Wah, kita satu server. Aku juga sangat suka Crofflee dari Coffee Bay. Rasanya jauh lebih enak jika Mama yang membuatnya secara langsung. Sentuhan tangan Mama di setiap masakan itu benar-benar enak," balas Evan.
"Sama berarti ya Pak ... kalau minuman suka apa Pak?" tanya Andin.
"Frappuccino," balas Evan dengan cepat.
"Oh, iya ... saya dengar Frappuccino buatan Coffee Bay juga memiliki rasa yang autentik. Cuma saya belum pernah cobain," balas Andin.
"Kapan-kapan saya traktir," balas Evan.
Jika hanya membelikan makanan dan minuman dari Coffee Bay milik Mamanya, Evan pasti bisa. Bahkan Evan bisa meminta kepada Mamanya langsung untuk membuatkan apa menu yang disukai Andin.
"Udah dong Pak ... yuk kerja lagi yuk Pak," balas Andin.
"Iya, silakan bekerja. Kalau tidak tahu langsung tanya ya Andin. Sama saya tidak perlu sungkan," balas Evan.
Andin pun menganggukkan kepalanya, "Siap Pak Bos," balasnya dengan kembali menggerakkan jari-jarinya di atas papan ketik di laptop yang dia gunakan sekarang.
__ADS_1
Lembur dengan Evan, terlebih pria itu baik, sopan, dan tidak aneh-aneh tentu saja Andin mau, daripada di rumah yang membuatnya merasa tertekan dan banyak masalah yang datang silih berganti. Untuk itu, Andin memang lebih memilih untuk lembur.