
Siang harinya, Evan mengajak Andin untuk berjalan-jalan di sekeliling Villa. Menikmati udara segar yang berpadu dengan perbukitan hijau yang membentang. Setidaknya tujuan mereka datang ke Bogor memang untuk menenangkan diri dan pikiran, oleh karena itu Evan mengajak istrinya itu jalan-jalan di sekitaran Villa.
“Ayo, Yang … kita jalan-jalan. Lebih dekat dengan alam,” ajak Evan kini kepada istrinya.
Mereka keluar dari pintu gerbang villa, kemudian menyusuri jalanan aspal kecil di sebelah kiri Villa yang penuh pepohonan yang rindah. Tangan yang saling bergandengan, kaki yang melangkah dengan seirama. Seolah keduanya sama-sama diam dan menikmati alam yang hijau dan asri itu.
"Seru kan?" tanya Evan kepada istrinya.
"Iya ... enggak ada tempat seperti ini di Jakarta. Siang aja, kabutnya sudah turun ya Mas," balas Andin dengan tersenyum dan mengamati kanan kirinya.
Sesekali dia tampak mengamati villa-villa yang berdiri megah di sekitaran tempat itu, ada kalanya dia juga melihat pohon-pohon yang menjulang tinggi. Tentu ini adalah liburan yang terbaik untuk Andin.
Andin terkadang berhenti dan sejenak memotret pemandangan yang indah. "Sebentar Mas ... aku mau motret dulu, buat update status," ucapnya.
Evan pun terkekeh geli di sana, "Kamu ini ... kupu-kupu yang hinggap di bunga aja kamu potret. Ala-ala discovery ya Yang," balas Evan.
Andin pun terkekeh geli dan tetap memotret kupu-kupu berwarna ungu itu, "Bagus Mas ... enggak perlu kamu ngajak aku ke India, di sini aku sudah seneng banget," balas Andin.
Evan pun tertawa, "Ke Little India, di Singapura saja ... nanti kalau pekerjaanku agak senggang yah. Kamu juga kosongin jadwal dulu. Agenda kegiatan kita padat merayap, Yang ... Senin nanti kita juga ke Obgyn dan melepas kontrasepsi kamu. Jadi kan?" tanya Evan kemudian.
"Iya ... jadi. Tidak usah menunda, Mas. Mumpung aku masih muda, kalau hamilnya secara normal, mungkin aku masih kuat untuk mengejan," balas Andin.
Evan sekali lagi tersenyum, "Iya Nyonya ... aman deh. Aku juga mau-mau aja punya baby dari kamu," balasnya.
Kemudian Evan mengajak Andin untuk berjalan menyisiri daerah belakang Villa, ada danau kecil yang berada di sana, dan sumber mata air. Keduanya duduk bersama di sana.
__ADS_1
"Duduk sini Sayang ... mumpung tidak terik di sini," ajak Evan.
Keduanya pun duduk bersama di atas rumput. Menikmati danau kecil dan sumber mata air yang berada di sana. Burung yang berkicau menambah semarak suasana siang itu. Juga, dengan gumpalan awan putih yang seolah memberikan tempat teduh untuk keduanya.
“Indah banget ya Mas … aku gak nyangka, ada tempat seindah ini. Tempat yang tenang untuk relaksasi diri. Indah banget,” ucap Anaya dengan pandangan yang menatap lurus ke depan.
“Dulu, Papa sering mengajak aku ke sini. Apalagi usai mendiang Mama Anin tiada. Aku berpikir mungkin saat itu Papa sedang terpuruk, walau hati Papa sudah terbagi untuk Mama Sara, tetapi kehilangan pendamping hidup adalah bencana. Untuk itu, sering kali Papa mengajakku jalan-jalan ke sini. Hanya berdua saja, aku dan Papa,” kenang Evan kala itu.
Andin yang mendengarkan cerita suaminya pun menatap kepada suaminya itu, “Hal terberat yang pernah kamu lalui apa Mas?” tanyanya.
Tidak langsung memberikan jawaban, tetapi Evan justru tersenyum di sana. “Apa yah? Mungkin waktu aku harus kuliah di luar negeri. Itu hal terberat untukku. Aku merasa homesick, kangen rumah. Kangen Mama, Papa, dan adik-adikku. Beradaptasi dengan lingkungan yang baru, bahasa yang asing, makanan yang kadang tidak sesuai di lidah. Itu tantangan banget sih,” balas Evan.
Andin pun menganggukkan kepalanya, mencoba memahami dari sudut pandang Evan. Homesick memang menjadi tantangan tersendiri. Merasa rindu rumah, rindu keluarga, seolah terisolasi dalam keterasingan. Akan tetapi, nyatanya Evan bisa bertahan. Itu adalah proses yang baik.
“Seneng … seneng banget. Cuma ada sedihnya juga, adikku Elkan sudah SMA dan juga setelahnya dia kuliah ke Sydney. Lalu, adikku Eiffel yang sudah SMP. Rasanya waktu aku ke luar negeri, mereka masih kecil, ketika aku pulang, adik-adikku sudah dewasa. Kehilangan momen kapan mereka tumbuh,” balas Evan.
Yang dikatakan Evan pun sepenuhnya benar. Ada momen yang terlewatkan. Adik-adiknya juga semakin besar. Sehingga begitu kembali ke rumah, rasanya harus adaptasi lagi. Namun, semua keluarga Agastya terbukti saling rukun satu sama lain.
“Seru ya Mas … kalian bertiga kuliah di luar negeri. Aku gak sabar pengen kenalan sama Eiffel nanti. Cantik banget kan dia,” balas Andin.
Evan pun tersenyum, “Dia akan lulus barengan sama kamu. Sekarang dia sedang skripsi juga. Cuma, sekarang dia sedang suka dengan ballet. Sehingga, dia bilang sama Mama dan Papa kalau mengikuti les balet di waktu senggang. Itulah Eiffel, dia bisa menari sejak kecil. Dari SD, dia sudah pengen menjadi ballerina,” cerita Evan.
“Keren banget sih … aku yang terlihat biasa-biasa saja malahan. Hanya kuliah saja, enggak terlalu pinter juga,” balas Andin.
Evan pun tersenyum, “Kamu baik, Yang … itu sudah cukup. Tidak perlu memiliki banyak kelebihan, cukup menjadi orang yang baik dan berhati hangat saja,” balas Evan.
__ADS_1
“Itu karena kamu punya banyak kelebihan,” sahut Andin dengan cepat.
“Tidak juga … banyak hal yang tidak bisa aku lakukan juga kok. Bagaimana pun aku masih manusia, Yang. Banyak ketidaksempurnaan dalam diriku,” balasnya.
Andin pun menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalanya di lengan suaminya itu. “Aku percaya sih, aku bisa bertemu kamu, mengenal kamu, semua sudah diatur oleh Yang Kuasa. Sekarang, aku mau menjalani saja apa yang bisa kujalani. Aku akan menyelesaikan semua yang bisa kuselesaikan. Menjadi bagian dari keluarga Agastya juga adalah kebahagiaan bagiku. Makasih Mas Evan,” ucapnya dengan tulus.
Evan pun mengusapi kepala istrinya yang bersandar di bahunya itu, “Iya Nyonya … sudah yang penting kamu bahagia. Lihat tuh Sayang … burung-burung kecil itu, dia bahagia dengan beterbangan di udara, ke sana dan ke mari. Apa yang dia makan, apa yang dia minum, kemana dia berteduh, seolah tak dipikirkan olehnya. Jadi, cobalah bahagia seperti burung-burung kecil itu. Gapai dan raih apa yang ingin kamu capai dalam hidup ini. Yang pasti, aku akan selalu mendukung kamu,” balas Evan dengan tulus.
“Dukung aku untuk menyelesaikan skripsiku. Bu Arsyilla bilang, sumber data ada di Agastya Properti, pasti kalau tanya kepada suami tersendiri akan dibalas,” ucap Andin kemudian.
Evan pun terkekeh di sana, “Mana mungkin Dosen kamu bilang begitu?” tanyanya.
“Iya … cuma ya gimana lagi, suamiku pelit. Ajarin lah Mas … biar istrimu ini bisa cepet lulus,” pinta Andin dengan tatapan meminta kepada suaminya itu.
“Oke boleh … tetapi tidak gratis loh,” balas Evan.
“Ishhhs, pamrih banget sih … padahal sama istri sendiri loh,” sahut Andin.
Evan pun tertawa, “Gimana, mau enggak? Bayarannya gak perlu mengeluarkan dana kok. Gimana mau tidak?” balas Evan kemudian.
“Apa? Mana mungkin aku bisa membayar pria tampan dan kaya raya seperti kamu,” balas Andin.
“Bisa … bayarannya, berdiamlah di sisiku seumur hidupmu. Dampingilah aku,” jawab Evan dengan sungguh.
Di tepi danau itu, dengan kicauan burung yang begitu riuh, ada Evan dan Andin yang seakan turut dalam harmoni. Menikmati alam sembari menenangkan hati dan pikiran. Semoga kali ini keduanya bisa merasakan relaksasi pada diri mereka masing-masing.
__ADS_1