
"Tidak begitu Andin, cobalah untuk memahami," ucap Mama Tika.
"Andin harus memahami yang seperti apa lagi Ma?" tanya Andin.
Sebisa mungkin Andin sudah berusaha untuk memahami Papanya. Tak disayangi oleh Papanya sendiri membuat Andin harus memahami seperti apa lagi dengan Papanya itu.
"Sabar Andin, semoga semuanya akan membaik. Dua belas bulan ini cepat kok, sabar ya Ndin," balas Mama Tika.
Sedikit bersabar bisa menahan malapetaka. Semoga dengan sedikit bersabar Andin bisa merasakan kebahagiaan di dalam hidupnya. Hanya itu yang bisa Mama Tika sampaikan.
"Harus sampai di batas mana Andin harus bersabar Ma? Tidakkah Mama tahu bahwa sejak kecil Andin sudah bersabar?"
"Mama tahu Andin, hanya saja. Memang bersabarlah sedikit lagi. Dua belas bulan ini," balas Andin.
Usai mengatakan itu, Mama Tika keluar dari kamar Andin dan memberikan Andin waktu untuk beristirahat. Mama Tika tahu bahwa Andin memerlukan waktu untuk mendinginkan kepalanya dan semua masalah yang seolah singgah dan tidak pernah ada hentinya.
***
Keesokan harinya …
Pagi hari itu, Andin memang lupa untuk mengabari Evan supaya atasannya itu tidak menjemputnya, tetapi nyatanya Evan Agastya sudah terlebih dahulu tiba di rumah Andin. Bahkan kali ini Evan datang dengan baik-baik dan mengetuk pintu rumah kediaman Andin.
"Permisi," sapa Evan dengan mengetuk pintu yang terbuat dari kayu itu.
Tidak berselang lama, seorang ART, Bibi yang dengan usia paruh baya yang membukakan pintu bagi Evan. ART itu pun mempersilakan Evan untuk masuk.
"Silakan masuk," sapa ART itu.
Evan pun menganggukkan kepalanya, mengamati suasana di kediaman keluarga Sukmajaya yang memang mewah dan megah itu. Bahkan bangunan rumah dan furniture yang ada di dalamnya begitu berkelas, terlihat jelas bahwa keluarga ini adalah keluarga yang kaya raya. Rupanya kedatangan Evan terlihat oleh Papa Miko yang baru saja turun dari kamarnya. Melihat kedatangan Evan, tentu saja Papa Miko merasa begitu senang.
"Evan," sapanya dengan tersenyum lebar melihat menantu kontraknya pagi-pagi sudah berada di rumahnya.
"Pagi Om," sapa Evan dengan sedikit menundukkan kepalanya, memberi sapaan kepada Papa Miko.
"Pagi-pagi, mau ketemu siapa? Arine?" tanya Papa Miko.
__ADS_1
Akan tetapi, Evan dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak, saya datang untuk Andin," balas Evan dengan tegas.
Tidak pernah Evan datang untuk Arine, mengenal wanita itu saja tidak. Lagipula, tidak ada untungnya bagi Evan untuk mendekati Arine. Bahkan Evan pun dengan gamblang mengatakan bahwa dia datang untuk Andin, dan bukan untuk Arine.
"Oh, Andin ... kirain kamu datang untuk istri kamu," balas Papa Miko.
Evan hanya diam, istri apa yang dimaksudkan. Istri kontrak kah? Gerak-gerik yang ditunjukkan oleh Papa Miko terlihat begitu mencurigakan bagi Evan. Terlihat jelas bahwa Papa Miko selalu mengutamakan Arine daripada Andin.
"Pak Evan," sapa Andin yang turun dari anak tangga. Gadis itu sudah bersiap dengan mengenakan kemeja dan rok di bawah lutut, pakaian resmi para sekretaris yang bekerja di perusahaan. Kesan rapi dan juga formal yang ditunjukkan Andin setiap kali bekerja.
"Hai, Andin ... aku datang untuk menjemputmu," ucap Evan dengan jelas dan tidak ada yang dia tutup-tutupi karena memang dia datang untuk menjemput Andin saja.
"Baik Pak Evan," balas Andin.
"Mumpung di sini mampirlah untuk sarapan dulu Nak Evan ... ini juga rumahmu. Mari sarapan," ajak Papa Miko kali ini.
Evan menatap kepada Andin, rupanya gadis itu menganggukkan kepalanya secara samar. Sehingga, Evan pun segera menyetujui untuk turut ikut sarapan. Pemuda itu mengikuti Papa Miko dan Andin menuju ke meja makan di sana ada Mama Tika dan juga Arine yang sudah terlebih dahulu duduk di meja makan. Tumben juga pagi ini Papa Miko dan Arine turut di meja makan, biasanya tidak pernah keduanya bergabung dalam satu meja untuk menikmati sarapan.
"Pagi Evan," sapa Mama Tika.
"Jemput Andin yah?" tanya Mama Tika.
"Iya Tante ... Evan yang mulai sekarang akan mengantar dan menjemput Andin," balasnya dengan meyakinkan.
Evan mengatakan itu tanpa melihat kepada Arine yang duduk di sampingnya. Akan tetapi, Arine terlihat menundukkan wajahnya. Sebagai istri, walaupun sebatas kontrak, tetapi Arine merasa Andin menjadi orang ketiga di antara hubungannya dengan Evan.
"Terserah kamu saja, Evan ... Mama percaya sama kamu. Kamu bisa menjaga Andin," balas Mama Tika dengan sedikit tersenyum.
Sejurus kemudian Papa Miko tampak berdehem dan kembali bersuara, "Ehem, Arine ambilkan makanan untuk Evan. Isi piringnya, jangan sampai piringnya kosong," ucap Papa Miko.
"Baik Pa," balas Arine.
Wanita cantik dan judes itu kali ini tampak irit berbicara, Arine berniat mengambilkan sarapan pagi itu berupa roti bakar, scrambble eggs, dan juga buah apel yang sudah dipotong. Ketika Arine hendak mengisi piring Evan, pemuda itu segera mengangkat telapak tangannya, menandakan supaya Arine berhenti.
"Tidak perlu, Andin bisa mengambilkannya untuk saya," balas Evan.
__ADS_1
Andin yang sedari tadi diam pun cukup bingung dengan Evan, gadis itu sampai menatap wajah Evan untuk sesaat dan mencari tahu apa yang diinginkan Evan itu harus dia lakukan.
"Andin, tolong isi piringku," pinta Evan kali ini yang berbicara dengan lebih lembut.
"Hmm, iya ... baik Pak Evan. Pak Evan mau yang mana?" tanya Andin kemudian.
"Roti bakar saja," balas Evan.
"Baik Pak," balas Andin yang segera mengambilkan roti bakar sesuai permintaan Evan.
Terlihat jelas bagaimana Arine yang menatap tajam pada Andin. Walau adiknya itu bersikap biasa saja, tetapi Arine merasa bahwa Andin memang tengah meledeknya. Mempertunjukkan kepadanya secara langsung bahwa Evan lebih memilih dirinya.
"Makan yang banyak Evan," balas Mama Tika.
"Makasih Tante," balas Evan.
Lima belas berada di meja makan, sama-sama membuat Andin tidak nyaman. Kemarin Papa dan Kakaknya sudah memintanya untuk menjauhi Evan. Mungkin jika seperti ini, sore atau malam nanti Andin akan kembali mendapat marah dari Papa dan Kakaknya.
"Kalau sudah selesai, ayo kita berangkat ke kantor, Ndin," ajak Evan kepada Andin.
"Baik Pak, sebentar," balas Andin.
Di kala gadis itu mengangkat cangkir keramik berisikan kopi, Evan dengan cepat menghentikannya. "Andin, jangan minum kopi itu, kamu punya maag. Kopi yang asam bisa memicu maag. Lebih baik air putih saja," balas Evan.
"Oh, iya Pak," balas Andin yang seketika menurunkan cangkirnya dan tidak jadi meminum kopi yang masih hangat itu. Andin akhirnya mengikuti saran dari Evan dan hanya meminum air putih saja.
Merasa bahwa sarapan untuk pagi itu cukup, Evan kemudian menyeka mulutnya dengan tissue, dan kemudian mengangguk kepada Andin. Pemuda itu berdiri dan kemudian berpamitan kepada Papa Miko dan Mama Tika.
"Om, Tante ... saya pamit dulu," pamitnya.
"Iya Van ... hati-hati di jalan," balas Mama Tika.
"Evan, tunggu dulu ... hari Rabu nanti apakah kamu bisa temani Arine sebentar?" Papa Miko yang kali ini tampak kembali berbicara.
Evan tampak menghela nafas. Sampai di batas mana, Papa mertuanya itu akan mengusik hidupnya. Kenapa seakan Papa Miko yang terus-menerus membuat kesempatan supaya Evan bisa berdua dengan Arine, dan meninggalkan Andin.
__ADS_1