Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Sabtu Sore Bersama


__ADS_3

Dengan semangat yang sudah pulih dan juga pemahaman yang sudah lebih matang, Andin pun menyelesaikan Bab 1 yang akan dia bawa hari Senin nanti untuk mengajukan judul dan juga akan diproses untuk mendapatkan Dosen Pembimbing. Rupanya, hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja, Bab 1 sudah dia susun, bahkan Andin sudah mencetaknya di mesin printer. Hari Senin nanti tinggal dia bawa ke Kampus untuk pengajuan judul.


Hingga sore hari, tugas Andin sudah selesai. Wanita itu pun menyusul suaminya yang sedang serius membaca sebuah buku bisnis di sofa yang ada di sudut kamarnya.


"Mas," sapanya dengan langsung menghambur dalam pelukan suaminya.


Evan menutup bukunya dan membalas untuk memeluk istrinya itu, "Sudah selesai?" tanyanya.


"Iya sudah ... tiga jam selesai. Capeknya," balas Andin dengan masih nyaman dalam pelukan suaminya itu. "Kamu baca apa Mas? Serius banget sih?" tanya Andin kepada suaminya.


"Baca-baca buku bisnis aja, Yang ... aku juga tidak suka nonton TV soalnya," aku Evan dengan jujur.


Mungkin juga dari kecil sudah sekolah, di luar negeri dulu juga kuliah dan jarang melihat televisi, sehingga Evan lebih banyak menghabiskan waktu senggangnya untuk belajar. Evan menjadi pria yang tidak suka nonton TV. Kalau ada siaran yang dia tonton, itu pun kalau sedang ada Moto Gp yang disiarkan di televisi. Selebihnya, Evan sangat jarang untuk menonton Tv.


"Kapan-kapan nonton film India mau Mas?" tanya Andin tiba-tiba kepada suaminya.


Ah, barulah Evan ingat bahwa istrinya itu memang menyukai Film India, terlebih untuk semua film yang diperankan SRK, sudah pasti Andin akan melihat semuanya.


"Boleh, cuma kamu jangan joged loh yah," goda Evan.


Andin tertawa di sana, "Enggak lah ... mana bisa juga aku joged."


"Kok cewek secantik kamu bisa suka India sih? Biasanya cewek-cewek masa kini sukanya kan Kpop, kamu enggak suka?" tanya Evan kepada istrinya.


Dengan cepat Andin menggelengkan kepalanya, "Enggak ... nggak suka. Suka India sih, Mas. Kan suka apa itu selera, Mas. Kamu aja cakepnya kayak anaknya SRK loh. Cakep banget," balas Andin.


Evan tertawa, padahal dia juga tidak tahu mana yang dimaksud oleh Andin. "Berarti Papaku SRK-nya dong?" balas Evan.


"Bisa jadi ... Papa Belva juga cakep kok walau sudah berusia, tetapi tetap keren dan cakep. Mama Sara juga cantik. Eiffel aku belum lihat secara langsung, cuma dari videocall dan fotonya saja, tapi dia juga cantik," balas Andin.


"Nanti kalau Eiffel selesai kuliahnya juga dia akan pulang ke Indonesia kok. Nanti bisa ketemu secara langsung," balas Evan.


Andin pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... Mas, peluka lagi dong. Kangen," pintanya kali ini kepada suaminya.


Tanpa banyak bicara, Evan segera memeluk istrinya itu. Walau memang secara usia Evan lebih dewasa, tetapi Evan justru suka Andin yang sering kali manja dengannya. Evan memejamkan matanya dan mengecupi puncak kepala Andin yang ada di bawah dagunya itu.


"Refreshing di Sabtu sore yuk Sayang?" ajak Evan kali ini kepada Andin.

__ADS_1


"Hmm, ngapain?" tanya Andin kemudian.


"Mandi yuk," ajak Evan kepada istrinya.


Andin pun menganggukkan kepalanya, "Yuk," jawabnya tanpa ada perdebatan dengan suaminya.


Melihat respons Andin, tentu Evan senang bukan kepalang karenanya. Dengan cepat Evan menggandeng tangan Andin dan membawanya menuju ke dalam kamar mandi.


“Aku siapkan airnya dulu,” ucap Evan lagi. Pria itu tampak mengisi bath up dengan air hangat dan memasukkan bath bomb beraroma floral ke dalamnya. Hingga akhirnya, bath up itu penuh dengan air dan busa.


Sementara saat Evan mengisi bath up, Andin tampak melepaskan kaos yang dia kenakan, bahkan melucuti kain yang dia kenakan satu per satu, menggantung kaos dan celana di sana dan mulai menguncir rambutnya, mencepolnya ke atas. Kemudian Andin mencuci wajahnya terlebih dahulu dengan menggunakan facial foam dan kemudian menggosok giginya.


Evan masih tenang, pria itu turut mengambil sikat gigi dan memberikan pasta giginya di atasnya. Keduanya berdiri di depan cermin besar di dalam kamar mandi. Beberapa kali keduanya sama-sama curi-curi pandang. Akan tetapi, baik Evan dan Andin sama-sama bersikap biasa saja. Usai berkumur, kemudian Evan melepaskan kaosnya, kemudian melepaskan celana, hingga pria itu kini tampil polos mutlak di hadapan Andin. Pahatan otot yang liat membuat Andin kesusahan menelan salivanya sendiri. Tubuh atletis Evan memang indah, hingga Evan memasuki bath up terlebih dahulu.


“Ayo sini, mandi,” ajak Evan sembari mengulurkan tangannya.


Andin pun perlahan meloloskan satu demi satu pakaiannya yang tersisa dan memasuki bath up dengan perlahan. Wanita itu memposisikan diri untuk duduk di depan suaminya, di antara kedua paha suaminya yang terbuka. Tangan Evan meraih bahu Andin dan membiarkan punggung Andin bersandar di dadanya. Pergerakan tangan Evan berpadu dengan air hangat dan sabun yang membuat permukaan kulit Andin kian licin rasanya.


Perlahan tangan Evan bergerak dan menyisiri sembulan dada Andin. Mendekap wanita yang duduk di depannya itu dengan begitu erat. Hingga Andin memilih untuk sepenuhnya bersandar di dada suaminya, membiarkan tangan-tangan suaminya yang meraba dan memberikan sentuhan di tubuhnya.


“Aku kangen kamu,” ucap Evan.


“Iya … kangen banget,” jawab Evan dengan yakin.


Evan memposisikan wajahnya berada dekat dengan wajah Andin, meraih dagu wanita itu dan Evan segera memagut dengan lembut bibir Andin. Memberikan sapaan yang hangat dan penuh kelembutan di kedua belah bibir Andin. Bahkan Evan memejamkan matanya, menikmati waktu kebersamaan yang begitu intim dengan istrinya itu. Saat bibir Evan memperdalam ciumannya, ada tangan-tangan Evan yang bergerak dan memberikan usapan dan belaian di setiap inci epidermis kulit Andin. Saat lidah Evan menelusup masuk untuk memberikan usapan hangat nan basah di rongga mulut Andin, dan jari-jemari Evan yang tampak memberikan cubitan-cubitan kecil di puncak dada Andin.


Entah berapa lama, Evan mencium dan mencumbu Andin. Pria itu kemudian membalik tubuh Andin, membuat wanita itu kini berhadap-hadapan dengannya.


“Cantik,” ucap Evan kali ini.


Andin yang merasa dipuji suaminya hanya mengulum senyuman dan menaruh tangannya melingkari leher Evan.


“Gombal,” balasnya.


“Jujur, aku tidak gombal,” balas Evan.


Wajah Andin masih tersenyum, wanita itu menatap tajam wajah suaminya, dan perlahan Andin mencuri sebuah kecupan di bibir suaminya itu.

__ADS_1


“I Love U,” ucap Andin kali ini.


“I Love U too,” balas Evan.


Ya Tuhan, rasanya pun Andin justru suka berbasah-basahan dengan suaminya dalam posisi sedekat dan seintim ini. Tubuh yang saling menempel satu sama lain, mata yang saling memandang, dan bibir yang tak henti-hentinya memberikan sapaan hangat.


Dia akan mengikuti alur yang diciptakan oleh istrinya itu. Hanya saja, tangan-tangan Evan bergerak dan menyisir lekuk-lekuk feminitas milik Andin. Meraba paha bagian dalam, memberi remasan di dada Andin, dan juga jari telunjuk Evan dengan memberikan gesekan di lembah milik Andin.


“Mas Evan ...," ucap Andin dengan nafas yang seakan tertahan. Bahkan cengkeraman tangan Andin di leher dan bahu pria itu kian kuat. Sentuhan demi sentuhan yang diberikan Evan benar-benar berhasil membuat bulu romanya berdiri. Sentuhan yang membangkitkan gelenyar asing dalam dirinya.


“Hmm,” balas Evan. Pria itu tersenyum melihat wajah berselimut kabut milik istrinya.


“Kamu makin cantik sih, Yang… ini bertambah besar,” ucap Evan dengan meremas dua buah persik milik istrinya. Tentu itu bukan ejekan, tetapi memang Evan mengamati perubahan di area dada milik istrinya itu. Semua itu karena awal menikah dulu, Evan merasa bahwa area dada milik istrinya tidak seberapa, tetapi kini sembulan saja sudah kian berisi, tentu Evan menyukainya.


Kini pria itu mengangkat sedikit pinggul Andin, dan memasukkan pusakanya ke dalam cawan surgawi milik Andin. Keduanya sama-sama menahan nafas merasakan sesuatu yang penuh, hangat, dan tentunya basah di bawah sana.


“Gerakkan pinggulmu perlahan, Yang," pinta Evan kali ini.


“Slowly saja … jangan cepat-cepat, please ... slow down,” sambung Evan dengan kian memejamkan matanya.


Dengan helaan nafas yang kian terasa berat, Andin menggerakkan pinggulnya. Gerakan seduktif di dalam bath up yang justru mengoyak perpaduan air dan busa di dalam bath up itu.


“Sexy banget sih,” balas Evan dengan tatapannya yang nakal.


Tentu ini hanya kenakalan yang Evan tunjukkan secara khusus kepada Andin. Kenakalan seorang suami yang memuja istrinya itu.


Gerakan pinggul Andin yang menghasilkan gesekan demi gesekan membuat Andin beberapa kali mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya. Tangannya berpegang kuat-kuat di bahu suaminya itu.


“Astaga, An ... din ... Andin," ucap Evan kali ini.


Ketika kehangatan air di dalam bath up berkurang, nyatanya sekarang tubuh Evan dan Andin sama-sama hangat, tidak terpengaruh dengan kehangatan air di dalam bath up yang kian berkurang. Air yang terkoyak, busa-busa yang berceceran di lantai, de-sahan dan lenguhan yang terdengar memenuhi seisi kamar mandi itu benar-benar membuat sore hari itu bergelora. Kini, saat Andin kian terengah-engah. Evan yang menggerakkan pinggulnya. Memberikan sodokan demi sodokan, hujaman demi hujaman, mandi basah yang benar-benar berbalut kenikmatan.


Gerakan seduktif yang dilakukan Evan kian kacau, tetapi dirinya masih berusaha menahan. Evan memberikan hujaman, tusukan, bahkan sodokan dengan lembut. Sampai di batas, pusaka yang di bawah sana berkedut, Evan pun memuntahkan pijaran lava yang tersembunyi di dalam pusakanya.


Rengkuhan Evan kuat menguatkan. Keduanya sama-sama pecah, meledak, di waktu yang bersamaan.


“Love U So Much,” ucap Evan sembari merengkuh tubuh Andin.

__ADS_1


"Love U too Mas Evan," balas Andin dengan menghela nafas dan mendekap erat tubuh suaminya itu.


Mengisi akhir pekan dengan bercinta, melakukan refreshing di dalam kamar mandi mereka yang indah. Hangatnya air dalam bath up saja, tidak sehangat indahnya cinta yang sekarang mereka nikmati bersama.


__ADS_2