
Apa yang diputuskan oleh manusia hari lalu dan hari ini bisa sepenuhnya berganti. Pun begitu juga dengan Arine yang pada akhirnya memilih untuk kembali menikah dengan Rendra, pria yang telah menghamilinya. Sebenarnya pernikahan kali ini bukan sepenuhnya karena cinta, tetapi lebih pada tanggung jawab untuk membesarkan anak bersama.
Lantaran, dilangsung di luar negeri, pernikahan keduanya dilangsung di Kedutaan Besar Republik Indonesia. Sebatas mengucapkan akad dan menandatangani pencatatan nikah. Maka pernikahan keduanya sudah dianggap sah secara agama dan sipil.
Tidak ada pengantin wanita yang berhias dengan mengenakan kebaya atau gaun pengantin. Tidak ada pesta yang mewah, yang ada hanya Arine yang cukup mengenakan pakaian hamil yang sopan dan mengenakan blazer di sana. Sementara Rendra juga tampil dengan mengenakan jas saja.
Di hadapan keluarga Sukmajaya, Rendra mengucapkan akad untuk menerima nikah dan kawinnya Arine disertai dengan pemberiaan mahar yang begitu fantastis yaitu uang dalam jumlah satu Milyar Rupiah dan seperangkat emas yang dibayarkan dengan tunai. Usai dari KBRI, seluruh keluarga juga memilih membuat makan bersama di salah satu hotel di Sydney sekadar perayaan simbolik saja.
"Selamat untuk pernikahannya Kak Arine," ucap Andin yang juga menyempatkan diri untuk terbang ke Australia guna menghadiri pernikahan kakaknya itu.
"Sama-sama Andin ... makasih yah," balas Arine dengan memeluk adiknya itu.
Sementara Evan yang mendampingi Andin, juga bersikap sewajarnya saja, "Selamat yah," ucapnya dengan menjabat tangan Arine dan juga Rendra.
"Makasih Van," balas Arine.
"Makasih Evander," balas Rendra.
Yang membuat Papa Miko merasa lega, setidaknya ada yang bertanggung jawab untuk Arine dan anaknya saja. Semoga saja Rendra benar-benar serius dan bisa membina rumah tangga bersama dengan Arine.
__ADS_1
Di hotel yang menghadap ke Harbour Bridge itu tampak Arine cukup bahagia dengan Rendra yang sudah mendampinginya sekarang.
"Maaf yah, hanya bisa memberikan pernikahan yang begitu sederhana untuk kamu," ucap Rendra.
"Iya, tidak apa-apa. Yang penting untuk si bayi," balas Arine.
Sekarang prioritas utamanya adalah bayinya. Sebagaimana pemikiran Arine sebelumnya bahwa mungkin saja dia bisa berkompromi saja atas pernikahan yang sekarang terjadi. Lagipula, banyak juga bukan pasangan yang menikah bukan karena cinta. Banyak juga yang akhirnya bisa mempertahankan rumah tangga.
"Kamu tidak ngidam apa pun? Makasih ya Arine, sudah menerimaku dan memberikanku kesempatan kedua untuk aku bisa bertanggung jawab atasmu," balas Rendra lagi.
Arine menganggukkan kepalanya. Rasanya, memang sudah cukup dia berdiri di atas egonya dan memulai semuanya dari nol. Memulai semua dengan pria yang mau bertanggung jawab atasnya dan atas bayinya.
"Aku seneng deh Mas soalnya Kak Arine pada akhirnya bisa menikah," ucap Andin kepada Evan.
"Hmm, iya," balas Evan.
"Kamu tidak seneng? Jawabnya kok singkat banget," balas Andin kemudian.
"Ya seneng ... cuma aku gak perlu teriak dan melompat kan, Yang," balas Evan.
__ADS_1
Andin menghela nafasnya. Setelan pabrik Evan tidak berubah. Pria itu menjadi sosok yang berubah hanya ketika di rumah saja bersama Andin. Selebihnya, Evander Agastya adalah orang yang tegas, dingin, dan juga datar. Namun, Andin juga harus terbiasa dengan setelan pabrik Evan itu.
"Nyebelin ... kan keluargaku juga keluarga kamu," balas Andin.
Evan hanya tersenyum tipis di sana, "Iya, Yang ... hanya saja aku kurang nyaman. Maaf yah," balas Evan dengan jujur.
Entah apalagi yang dirasakan Evan hingga Evan merasa kurang nyaman sekarang. Padahal hanya keluarga Sukmajaya saja yang berkumpul. Akan tetapi, Evan benar-benar tidak sepenuhnya bisa 'ngeblend' dengan keluarga itu.
"Ya, sudah ... kamu bisa turut datang ke Sydney saja aku sudah seneng banget. Sesibuk-sibuknya kamu masih mau menyempatkan diri untuk menghadiri pernikahan kakakku, aku juga udah seneng banget. Makasih Mas Evan," balasnya.
"Iya, sama-sama Yang ... sebisaku aku akan meluangkan aku untuk kamu. Kalau kamu seneng, aku juga seneng," balas Evan.
Andin menganggukkan kepalanya di sana, "Makasih ya Mas ... hanya tiga di Sydney, yang penting bisa menghadiri pernikahan ini. Haru juga, akad juga cuma dilakukan di KBRI."
"Tidak apa-apa yang penting sah dan tadi di sana juga mengucapkan akad. Jadi, pernikahan keduanya tetap sah. Yang penting dalam sebuah pernikahan kan sah-nya itu. Pesta dan ceremoni hanya pelengkap saja, Yang," balas Evan.
"Bener sih ... cuma melihat pernikahan kita dan sekarang pernikahan Kak Arine, beda banget. Dulu kita meriah banget. Sementara di sini sederhana banget. Bahkan perut Kak Arine juga sudah sebesar itu," ucap Andin lagi.
Evan kemudian menggenggam tangan Andin di sana, "Tidak apa-apa. Jika terus membandingkan yang ada hanya merasa kurang saja. Yang pasti kita doakan saja hubungan mereka berdua langgeng. Terlepas dari motif pernikahan keduanya, yang pasti mereka bisa bahagia bersama."
__ADS_1
Ya, menurut Evan pesta hanya sebuah ceremony belaka. Sebab, inti pernikahan yang sesungguhnya adalah akad dan sah-nya sebuah ikatan secara agama dan hukum sipil. Lagipula, kehidupan baru akan mulai berjalan usai pernikahan sehingga lebih baik mendoakan kebaikan untuk kedua mempelai saja.