
"Santai saja, Andin ... kita tunggu Papanya Evan dulu ya, baru kita akan mulai makan siangnya," ucap Mama Sara.
"Iya Tante, maaf ... saya jadi tidak enak," balas Andin.
"Tidak apa-apa Andin ... hanya makan siang. Tadi, rencananya mau makan siang ke mana emangnya?" tanya Mama Sara itu.
"Saya kurang tahu Tante, biar Pak Evan yang memilih. Saya ngikut saja," balas Andin.
Mendengar Andin yang memanggil Evan dengan panggilan formal dan menyertakan nama 'Bapak', membuat Sara tersenyum. Itu mengingatkannya pada masa lalunya dulu di mana dia kali pertama bertemu suaminya dan memanggil suaminya dengan panggilan 'Pak Belva'. Rasanya, teringat dengan kenangan lama. Namun, Evan bersikap cuek saja. Sementara Elkan juga diam dan menunggu Papanya untuk bergabung di meja makan.
Untung tidak lama, pria paruh baya yang begitu tampan di usianya bahkan terlihat awet muda turun dari anak tangga. Pria itu segera melemparkan senyuman kepada istrinya Mama Sara, dan duduk bersama keluarganya mengelilingi meja makan.
"Ada siapa nih?" tanya sang tuan rumah sekaligus pemilik Agastya Property. Siapa lagi kalau bukan Belva Agastya.
Andin itu berdiri sebentar dan menundukkan badannya. "Perkenalkan saya Andini, sekretaris magang untuk Pak Evan," ucapnya memperkenalkan diri dengan sopan.
"Oh, jadi ... ini bagian anak mahasiswa yang sedang magang yah?" tanya Papa Belva.
"Benar Pak Belva," balas Andini.
Lagi-lagi Mama Sara tersenyum, "Kamu memanggil saya Tante, tapi kok memanggil suami saya Pak Belva sih," godanya.
__ADS_1
“Ehm, itu … karena Beliau adalah CEO di perusahaan tempat saya magang. Sama seperti saya memanggil Pak Evan,” balas Andin.
Jujur saja, Andin pun bingung harus memberikan jawaban apa. Hanya saja, memang rasanya dia harus memberikan hormat kepada sang Empunya perusahaan property bernama Agastya Property itu. Sekilas Andin memperhatikan bahwa Pak Belva sendiri adalah pria yang tampan, begitu juga Tante Sara juga begitu cantik. Pantas saja, Evan dan Elkan juga begitu tampan. Hanya saja, ketampanan yang dimiliki oleh Evan rasanya begitu misterius, alis mata yang tebal berpadu dengan tatapan yang tajam, membuat pria itu memiliki sorot mata yang mengintimidasi.
“Ayo, silakan dimakan,” ucap Papa Belva dengan mempersilakan semua yang ada di meja makan itu untuk segera menikmati menu masakan yang dimasak langsung oleh Mama Sara itu.
“Makan, Andin ….”
Lagi, Mama Sara mempersilakan gadis muda itu untuk makan dan tidak perlu sungkan. Sebab, keluarga Agastya sendiri juga tidak pernah memperlakukan orang lain berbeda. Semua yang datang ke rumah akan diperlakukan sama layaknya keluarga sendiri.
“Ya, makasih banyak Tante,” balas Andin.
“Tante masakannya enak banget … Bulgoginya juara,” ucap Andin.
“Bulgogi itu kesukaan Evan. Mengingat Evan, jadi Tante masakkan makanan kesukaannya,” balas Mama Sara.
“Makasih Ma,” balas Evan yang tampak begitu lahap mengunyah Beef Bulgogi buatan Mamanya itu.
Bagi Evan sendiri, masakan Mamanya selalu menjadi juara. Sejak dia kecil, semua masakan yang dibuatkan oleh Mamanya memiliki cita rasa yang begitu enak dan juga menggugah seleranya. Di satu sisi, Elkan juga tersenyum saja melihat kelakuan Kakak Kandungnya itu. Ini adalah kali pertama Evan membawa seorang gadis pulang ke rumah, Elkan kira yang akan dibawa pulang sang Kakak adalah pacarnya, tetapi justru yang dibawa pulang pertama kali adalah kekasihnya.
“Kak Evan makannya pelan-pelan napa? Bagiin beef nya buat aku dong,” sergah Elkan yang terlihat murung karena Kakaknya itu memakan daging sapi dengan begitu lahap.
__ADS_1
“Kamu kan masih di rumah, El … aku kan harus kembali ke kantor untuk bekerja. Jadi, mumpung ini makanan kesukaan aku, ya aku habisin. Ya enggak Ma?” balas Evan.
“Sudah-sudah, nanti Mama masakan lagi yah. Mama buatkan juga nanti Kroket Kentang kesukaan kamu, El,” balas Mama.
Mendengar bahwa ada camilan Kroket Kentang kesukaannya, Elkan pun tersenyum lebar. Rupanya Mamanya juga mengingat kesukaannya, tidak hanya memasak kesukaan Kakaknya saja.
“Putranya dua saja ya Tante?” tanya Andini.
“Tiga … Evan, Elkan, dan Eiffel. Hanya saja sekarang Eiffel kuliah di luar negeri,” balas Mama Sara.
“Oh … namanya E semuanya yah?” tanya Andin. Sebenarnya dia canggung, tetapi daripada hanya diam saja dan mendengarkan obrolan yang dia sendiri tidak mengerti, maka Andini pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Mama Sara.
“Benar … Trio E. Dulu waktu masih kecil-kecil lucu, sekarang Evan sudah menjadi Wakil Presdir di Agastya Property, Elkan memilih mengembangkan bisnis waralaba, dan Eiffel memilih sekolah di luar negeri, jadi yah … rumah ini sering sepi, makanya pengennya Evan segera menikah gitu. Tadi, Tante pikir kamu tuh pacarnya Evan,” ucap Mama Sara dengan spontan.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Mama Sara, Andini nyaris saja tersedak. Sampai gadis itu segera mengambil gelas berisi air putih yang berada di depannya, dan segera menenggak air putih itu untuk melegakan tenggorokannya. Tidak mengira justru dia dikira sebagai kekasih Wakil Presiden Direktur yang jutek dan galak itu.
“Mama suka terang-terangan sih … Elkan juga mikirnya, dia pacarnya Kakak … tumben-tumben Kakak bawa cewek ke rumah. Ayolah Kak, segera nikah. Sudah dewasa dan juga sudah siap juga,” ucap Elkan.
Jika, ada yang diam di situ adalah Papa Belva. Ya, Papa Belva memilih untuk fokus makan dan mendengarkan obrolan demi obrolan dari istri, anak, dan juga Andini. Namun, ketika melihat Andini rasanya Papa Belva juga mengira bahwa mungkin saja gadis ini adalah kekasihnya Evan, karena sampai usia 26 tahun belum ada satu pun gadis yang dikenalkan Evan sebagai kekasihnya.
Mendengar apa yang baru saja disampaikan Mama Sara dan Elkan, Andini seketika menundukkan wajahnya. Hanya sekadar menemani makan siang justru membuat keluarga Bosnya itu mengira bahwa dia adalah pacar si Bos-nya. Padahal dalam hati, Andini tidak suka dengan atasannya itu. Jika bisa menjauh dan tidak terkait dengan pekerjaan magang, Andini memilih untuk tidak terlibat dengan Bosnya itu.
__ADS_1