
Tidak terasa waktu telah berlalu dengan begitu cepat, di Jakarta Andin masih berjuang dengan skripsinya. Sementara di Australia, Arine sudah bersiap dengan persalinannya. Wanita yang berprofesi sebagai artis itu hanya menghitung beberapa hari akan melangsungkan persalinan dengan metode caesar yang dia pilih.
Hari ini juga Mama Tika dan Papa Miko akan kembali terbang ke Sydney, sebelumnya Mama Tika mengunjungi rumah Andin dan Evan terlebih dahulu.
“Andin, besok Mama akan terbang ke Sydney,” ucap Mama Tika.
Sebenarnya, Andin sangat ingin ikut terbang ke Sydney. Akan tetapi, mengingat skripsi yang harus dia kerjakan karena sudah memasuki Bab 3 dan 4, sehingga Andin harus memilih yang lebih prioritas, dan prioritasnya adalah menyelesaikan skripsinya. Untuk itu, rencananya semula yang ikut terbang ke Australia harus dibatalkan. Sepenuhnya ini adalah keputusan Andin sendiri, tidak ada andil dan pemaksaan dari Evan.
“Iya Ma … sebenarnya Andin ingin ikut, tetapi skripsi Andin benar-benar tidak bisa ditinggal, Jadi, sampaikan salam Andin untuk Kak Arine ya Ma,” balasnya dengan menatap wajah sang Mama.
Bukan sedih, Mama Tika pun merasa begitu senang karena Andin bisa mengambil keputusan dan lebih memilih yang prioritas baginya. Evan di sana yang turut duduk di ruang tamu pun menjadi pendengar ketika Andin mengobrol dengan Mama Tika.
“Tidak apa-apa. Memang begitu, kamu sudah semangat mengerjakan, jadi harus diselesaikan dong,” balas Mama Tika.
“Iya Ma … apalagi Dosen Pembimbingnya baik banget dan ngasih motivasi, jadi Andin semangat banget untuk mengerjakannya. Bahkan beberapa buku juga dipinjamin sama Dosen Pembimbingnya loh, Ma … kalau sudah dapat bantuan sebanyak ini dan Andin mengerjakannya masih setengah-setengah kok Andin gak enak banget ngerasanya,” balas Andin.
“Ya sudah … kan Mama ke mari hanya untuk memberitahu,” balas Mama Tika.
“Di sana berapa lama Ma?” tanya Evan kemudian kepada Mama mertuanya itu.
“Kalau Mama, mungkin akan satu bulanan ada di Sydney, Van … kalau Papa akan pulang lebih dulu karena perusahaannya juga tidak bisa ditinggal terlalu lama. Menemani Arine sampai dia pulih dulu,” balas Mama Tika.
__ADS_1
Andin pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya secara samar, “Besok-besok kalau Andin hamil dan melahirkan, ditungguin Mama juga yah,” pintanya kali ini.
Mendengar permintaan dari Andin, Mama Tika pun tersenyum, “Kamu sudah hamil Ndin? Pasti, Mama akan menjaga dan menemani kamu. Tenang saja, ingat kan Mama ini adalah Mama kamu, kalian berdua adalah anaknya Mama, dan tidak pernah Mama beda-bedakan,” balas Mama Tika.
“Iya Ma … Andin tahu. Terima kasih banyak Mama,” balas Andin.
Cukup lama Mama Tika bermain di kediaman Andin dan Evan, hingga akhirnya Mama Tika pun berpamitan dengan Evan dan juga Andin. Esok Mama Tika akan terbang ke Sydney, dan Andin pun berharap bahwa perjalanan Mama dan Papanya akan lancar dan selamat.
***
Dua hari kemudian ….
Di salah satu Rumah Sakit di Sydney, Rendra ditemani oleh Papa Miko dan Mama Tika sudah berada di Rumah Sakit. Dokter dan perawat pun sedang memeriksa Arine. Sebagaimana prosedur melahirkan secara Caesar, Arine pun sudah diminta untuk puasa terlebih dahulu. Rendra terlebih tegang.
“Iya Ma … cuma tegang dan deg-degan,” balas Rendra dengan menghela nafas sepenuh dada.
Kemudian ada Dokter yang mempersilakan Rendra untuk masuk ke dalam ruang tindakan. Pria itu terlebih dahulu berganti pakaian dengan mengenakan pakaian medis berwarna hijau, dan juga mengenakan penutup kepala, dan juga masker. Rendra dipersilakan untuk menemani persalinan Arine. Rumah Sakit di luar negeri justru sangat mendukung apabila seorang suami mau menemani istrinya selama dalam persalinan.
Rendra pun sudah duduk di samping Arine dan memegang tangan Arine yang terasa dingin itu. Arine meneteskan air matanya mana kala Rendra sudah masuk dan menggenggam tangannya.
“Aku takut,” ucapnya lirih.
__ADS_1
“Ada aku, Sayang … aku temanin yah,” balas Rendra. Walau Rendra sendiri begitu takut dan tegang, tetapi Rendra akan selalu menemani istrinya bersalin.
Di dalam ruang bersalin itu, Rendra selalu menggenggam tangan Arine, ada kalanya dia juga menyeka air mata Arine yang berlinang jatuh. Bius epidural yang disuntikkan sebelumnya, memang membuat Arine tidak merasakan sakit kepada pisau medis mulai menyayat lapisan perutnya. Hanya saja air matanya terus saja menetes. Dentingan berbagai alat medis pun terdengar juga di telinga keduanya.
Hingga tidak lima belas menit kemudian, Dokter pun mengangkat bayi yang masih terbungkus di dalam selaput, dan memecahkan air ketubannya, bersamaan dengan tangisan seorang bayi yang menggema di dalam ruangan itu.
Oek … Oek …
Rendra dan Arine sama-sama menangis di sana, tidak mengira bahwa hari ini buah hati mereka akan lahir.
“Congratulations, it’s a baby girl,” ucap Dokter yang menangani Arine di sana.
“Anak kita cewek, Sayang … seperti kamu,” ucap Rendra dengan mengecup kening dan puncak kepala Arine di sana.
Pria yang merupakan Wakil Direktur Utama di perusahaan milik Papanya itu, merasa begitu senang. Kali ini, dia sudah menjadi seorang Papa. Kelahiran bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu yang menyempurnakan hidup keduanya.
Pun Arine yang juga menangis di sana, “Bayi kita ….”
Tangis bahagia dan begitu haru rasanya. Tidak mengira bahwa kali ini, dirinya sudah benar-benar menjadi seorang Ibu. Di negeri kangguru, tanpa sorotan media sama sekali, aktris papan atas Indonesia itu sudah melahirkan bayi kecilnya dengan sehat dan juga selamat.
“Kamu mau memberi nama siapa untuk baby girl kita?” tanya Rendra kemudian.
__ADS_1
Arine pun menghela nafas dan menatap suaminya di sana, “Raline, gabungan dari nama kita berdua. Rendra dan Arine,” ucapnya dengan tersenyum dalam uraian air mata.
“Welcome to the world, Raline!”