Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Saran dan Pertimbangan


__ADS_3

Evan pun pulang dari kediaman keluarga Sukmajaya dengan perasaan yang berkecamuk. Niatnya datang untuk menikahi Andin, tetapi yang disodorkan oleh Papa Miko adalah Arine. Memang hanya pernikahan kontrak dan tidak mengharuskannya untuk melakukan tanggung jawab apa pun. Akan tetapi, bagaimana dengan hatinya. Jujur saja, Evan begitu pening dibuatnya.


Di saat seperti ini yang dia cari adalah orang yang biasa dia cari sekarang tentu adalah orang yang bisa diajaknya untuk mengobrol dan bertukar pikiran bersama. Tentu saja, itu adalah Mamanya. Ya, bersama Mama Sara banyak obrolan yang bisa Evan ceritakan, bahkan di kala Papanya tidak banyak tahu, tetapi bersama Mama Sara Evan bisa cerita apa pun. Ada kalanya hubungan Mama dan Anak itu layaknya seorang sahabat karib. Kendati demikian, Mama Sara juga akan menyampaikan permasalahan yang dihadapi Evan dengan suaminya. Seorang Mama adalah penyambung lidah anak, karena itu untuk beberapa hal yang dirasanya penting, Mama Sara akan membaginya kepada suaminya, Papa Belva.


Begitu sampai di rumah pun, Evan sudah melihat Mama Sara yang masih membaca majalah bisnis di ruang tamu seorang diri. Evan pun segera duduk di samping Mamanya itu.


“Mama, sibuk enggak Ma?” tanya Evan.


“Hmm, kenapa Van … enggak sibuk. Mau bicara sama Mama?” tanya Sang Mama.


“Iya Ma … agak pusing Evan,” balas Evan.


Mama Sara pun segera menutup majalah bisnis yang sekarang dia pegang, menaruhnya di atas nakas, dan kemudian menatap Evan yang duduk di sampingnya.


“Kenapa Kak Evan … kok wajahnya kusut begini?” tanya Mama Sara.


“Ma, kalau ada dua pilihan yang mengharuskan Evan untuk memilih salah satunya. Mana yang harus Evan pilih Ma?” tanya Evan.


Mama Sara tampak mengernyitkan keningnya, karena dia bingung dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Evan itu. Jika berbicara dengan makna yang tersembunyi, ada kalanya Mama Sara memang perlu waktu untuk bisa memahaminya dan ada kalanya Mama Sara untuk menjelaskannya secara detail kepada Evan.

__ADS_1


“Jelaskan dulu sama Mama … ceritakan dulu. Kalau kamu memakai makna tersembunyi, Mama bingung jadinya. Ya, bukannya apa ya Van … kamu tahu sendiri kan, Mamamu hanya lulusan SMA yang sukar untuk mencerna sesuatu,” balas Mama Sara dengan jujur.


Ya, walau menjadi istri CEO dan dia sendiri menjadi pengusaha yang sukses, tetapi ijazah yang dimiliki Mama Sara hanya ijazah SMA. Mama Sara belajar bisnis pun secara otodidak dan ada kalanya menggunakan hatinya saja untuk berbisnis, dan ada penasihat pribadi yang dia miliki yang akan memberikan saran di waktu yang tepat, tentu dia adalah suaminya sendiri, Belva Agastya.


“Jangan begitu, Ma … Mama memang SMA, tetapi aset Mama miliaran rupiah. Anak Mama semuanya sampai S2. Mama itu hebat,” balas Evan.


“Kamu bisa saja sih membesarkan hati Mama,” balas Mama Sara dengan menepuk bahu putranya yang sudah dewasa itu.


“Ma, misal ya Ma … ada sebuah proyek dan Evan tertarik dengan proyek itu. Akan tetapi, untuk mendapatkan proyek itu, Evan harus menerima dan mengerjakan proyek yang lainnya dulu sampai waktu tertentu. Apa yang sebaiknya Evan ambil Ma? Melepaskan proyek yang semula sudah membuat Evan tertarik dan ingin mengerjakan maksimal proyek itu, atau mengambil proyek lain supaya Evan menjadi tujuan Evan?”


Mama Sara masih berusaha untuk memahami dengan analogi yang dipakai oleh Evan mengenai proyek. Tentu kali ini saran yang diberikan Mama Sara hanya sekadar saran yang diberikan seorang Ibu kepadanya, bukan sebagai seorang pengusaha yang jeli terhadap sebuah proyek.


“Liat lagi kepentinganmu, Van … dan apa yang dimaui oleh hatimu. Jika memang harus mengerjakan proyek itu dulu dan mendapatkan proyek yang kamu incar itu bagaimana?” tanya Mama Sara.


“Iya Ma,” balas Evan.


Sungguh, di hadapan Mamanya, Evan tidak bisa menyembunyikan segala sesuatu. Terlalu mudah bagi Mamanya untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi. Sampai-sampai sekarang saja Mama Sara bisa menerka apa yang sebenarnya terjadi.


“Kenapa, coba ceritakan kepada Mama,” pinta Mama Sara.

__ADS_1


“Begini Ma … barusan Evan datang ke rumah Andin dan meminta kepada orang tua Andin dengan baik-baik. Akan tetapi, justru ada penawaran yang membuat Evan bingung. Evan datang untuk menikahi Andin, tetapi Papanya meminta Evan untuk menikahi kakaknya dulu. Pernikahan kontrak satu tahun Ma … itu karena Kakaknya Andin hamil,” cerita Evan dengan jujur.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Evan, Mama Sara pun terkesiap. Tidak mengira dengan apa yang dialami Evan sekarang ini. Seolah Tuhan tengah membuka lagi masa lalunya dulu dengan suaminya. Ya, ketika masih muda dulu Mama Sara bahkan pernah menikah kontrak dengan suaminya Belva Agastya dan melakukan sewa rahim untuk masa 12 bulan. Sekarang, seolah apa yang terjadi di masa lalu, kembali terulang di masa sekarang. Evan, putra sulungnya harus menjalani pernikahan kontrak juga.


“Lalu, bagaimana Van?” tanya Mama Sara.


“Yang Evan suka Andin, Ma … tetapi bagaimana caranya jika demikian?” tanya Evan.


“Yang dinamakan pernikahan kontrak itu akan ada hitam di atas putihnya. Jadi, bagaimana apa saja yang tertulis di dalam kontrak yang ditawarkan kepadamu?” tanya Mama Sara.


“Yang diminta hanya pernikahan di bawah tangan saja, Ma … Evan tidak boleh menyentuhnya karena dia hamil anak orang lain, Evan juga tidak perlu melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang suami, dan ketika masa 12 bulan selesai, maka berakhir juga pernikahan itu. Bagaimana Ma?” tanya Evan.


Mama Sara pun bingung. Dia tidak tahu harus menyarankan apa kepada Evan. Namun, pada masalah yang besar ini, Mama Sara perlu pertimbangan dari Papa Belva.


“Diskusi sama Papa ya Van,” pinta Mama Sara.


“Evan takut, Ma … bagaimana kalau Papa menentangnya?” tanya Evan.


“Coba dulu … kamu belum mencobanya, tetapi sudah membuat kesimpulan sendiri. Nanti Mama temanin,” balas Mama Sara.

__ADS_1


Evan pun menghela nafas dan kemudian menatap wajah Mamanya itu, “Baiklah Ma … Evan tahu, bagaimana pun Evan kan anak Mama dan Papa. Masalah ini terlampau besar untuk Mama putuskan sendiri. Jadi, memang lebih baik Mama dan Papa mengetahuinya. Terima kasih banyak, Mama,” balas Evan.


Sepenuhnya Evan menyadari bahwa dalam masalah ini, dirinya adalah putra Papa dan Mamanya. Sehingga memang lebih baik mendapatkan saran dari kedua belah pihak. Apa yang disampaikan Mamanya benar, lebih baik berkonsultasi dengan Papanya. Mama Sara pun yakin, Papa Belva bisa memberikan pandangan dan penjelasan yang baik dari sudut pandangnya sebagai seorang pria, seorang Papa, dan seorang kepala keluarga. Dengan demikian, apa pun yang akan diambil Evan, Mama Sara dan Papa Belva sama-sama tahu.


__ADS_2