Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Seorang Arine


__ADS_3

Sisa hari benar-benar digunakan Andin untuk beristirahat. Bahkan kini perlahan penilaian Andin kepada atasannya itu sedikit berubah. Atasannya yang jutek dan galak itu, rupanya juga seorang yang perhatian yang tidak memaksanya bekerja di saat badannya masih sakit. Dengan berbaring di atas ranjang, Andin merasa bahwa Evan adalah orang yang baik. Bahkan dengan terang-terangan Evan mengatakan bahwa kesehatan jauh lebih penting daripada pekerjaan.


Ketikanya waktunya pulang kerja, Evan juga menyempatkan diri untuk ke ruang perawatan untuk para karyawan yang memang disediakan perusahaan properti itu. Evan mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum membuka ruangan itu.


“Bagaimana sudah jauh lebih enakan?” tanya Evan yang masih berdiri tidak jauh dari pintu.


“Iya Pak … jauh lebih enakan sekarang,” balas Andin yang kala itu memang sudah duduk dan agaknya Andin juga ingin untuk pulang dan sampai ke rumahnya. Di kala tubuh belum sepenuhnya sehat, yang Andin inginkan adalah bisa sampai di rumah. Beristirahat dengan bebas dan leluasa di dalam kamarnya sendiri.


“Baguslah … kalau begitu istirahat saja, kamu gimana pulangnya?” tanya Evan kemudian.


“Euhm, saya bawa mobil kok Pak … jadi, saya bisa pulang sendiri,” jawab Andin.


“Bisa menyetir? Enggak akan kambuh lagi itu maagnya?” tanya Evan lagi.


“Bisa Pak … kalau untuk nyetir sudah bisa. Saya sudah sehat kok,” balasnya.


“Syukurlah … lain kali perhatikan kesehatanmu. Jangan sampai telat makan dan hindari makanan pedas dan berlemak terlebih dahulu,” ucap Evan yang seakan menasihati sekretarisnya itu.


Andin pun menganggukkan kepalanya, merespons semua ucapan Evan itu. Tentu juga hari ini adalah kesalahannya yang melewatkan sarapan. Biasanya walau hanya sepotong roti dan telor rebus akan tetap dimakan Andin untuk mengisi perutnya. Namun, karena takut dengan Evan dan niatannya untuk menyelesaikan pekerjaannya, Andin pun melewati sarapan bahkan Andin juga melewatkan makan paginya.


“Ya Pak … terima kasih,” ucapnya.


Evan masih berdiri di depan pintu dan menatap Andin. “Kamu yakin bisa menyetir mobil sendiri? Saya bisa anterin kamu pulang,” tawaran dari Evan lagi.

__ADS_1


“Eh, enggak Pak … saya bisa kok pulang sendiri. Terima kasih banyak Pak Evan,” jawab Andin yang kemudian segera berdiri dan harus segera mungkin untuk pulang. Berlama-lama dengan atasannya itu justru membuatnya serba salah. Apalagi ditatap dengan begitu lekatnya, justru membuat Andin kian gugup, dan ingin segera melarikan diri.


“Baiklah … hati-hati.”


Evan mengucapkan kata itu, dan kemudian memilih untuk keluar terlebih dahulu dari ruangan perawatan itu, dan membiarkan Andin untuk pulang dan beristirahat juga. Semoga saja kondisi Andin sudah jauh lebih baik, bahkan esok Andin bisa lebih sehat sehingga bisa untuk kembali bekerja.


***


Begitu tiba di rumah, Andin cukup terkejut karena di sore seperti ini ada mobil dari Kakaknya yang sudah terparkir di halaman rumah. Andin pun bergegas untuk masuk ke dalam rumah. Pelan-pelan Andin membuka pintu rumahnya, rupanya Andin melihat Kakaknya yang kali ini pulang dengan seorang pria.


Sebagai seorang artis, tentu saja pria yang dibawa pulang Arine itu adalah seorang pria tampan. Hanya saja, kenapa rasanya Andin tidak suka saat menatap pria itu.


“Andin, sudah pulang?” tanya Arine yang melihat adiknya yang baru saja datang dengan mengenakan pakaian kantor secara formal.


“Iya, mumpung sudah selesai syuting. Kenalin nih pacarnya Kakak, namanya Thomas. Rekan sesama pelakon juga,” ucap Arine.


Andin pun hanya menganggukkan kepalanya, sebatas menyapa pria tampan bernama Thomas itu. Kemudian Andin pun berniat untuk masuk ke dalam kamarnya.


“Kak, aku istirahat di kamar dulu yah,” balasnya.


Andin yang masuk ke dalam kamarnya. Sementara Arine dan Thomas masih mengobrol di ruang tamu. Entah obrolan apa yang mereka bicarakan, tetapi terdengar ada begitu banyak tawa dan kekehan geli dari keduanya. Suara tawa yang terdengar juga dari kamar Andin. Akan tetapi, Andin memilih untuk tak menghiraukannya. Yang Andin butuhkan sekarang adalah istirahat.


“Adik kamu yah?” tanya Thomas dengan tiba-tiba.

__ADS_1


“Iya … adik aku. Kenapa?” balas Arine dengan cepat.


“Wajah kalian beda banget sih … kayak enggak mirip gitu,” balas Thomas yang seolah melihat wajah Arine dan Andin yang adalah Kakak Adik, tapi seolah tak ada kemiripan di wajahnya. Biasanya mereka yang Kakak dan Adik, tetap ada bagian wajah yang menyerupai, tetapi Thomas seakan tidak melihat kemiripan di antara mereka berdua.


“Ha? Are you serious? Dia adik aku, tahu,” balas Arine dengan tertawa.


“Iya … beda banget. Cuma kamu lebih cantik dan seksi,” balas Thomas dengan merangkul bahu Arine.


Mendapatkan pujian dari Thomas tentu saja membuat Arine senang bukan kepalang. Lagipula, Thomas sendiri adalah seorang yang tampan. Ketika dia memuji seseorang berarti memang demikianlah orang tersebut. Arine pun merasa senang dan diperlakukan dengan manis oleh Thomas membuat hati Arine berbunga-bunga.


“Arine, kamu kamu free dari syuting?” tanya Thomas kemudian.


“Hmm, kenapa?” tanyanya.


“Yuk, kita camping … biar refresh dari seluruh kegiatan syuting yang ada kalanya bikin boring. Kamu mau?” tanya Thomas.


Wah, tentunya camping bersama Thomas adalah pilihan yang baik. Lagipula, yang diucapkan Thomas adalah fakta bahwa syuting terus-menerus membuat boring. Perlu kegiatan baru yang bisa merelaksasi dirinya sendiri.


“Sama siapa aja?” tanya Arine kemudian.


“Banyaklah rame-rame … kenapa, kamu pengen camping berdua saja sama aku?” tanya Thomas dengan mengedipkan matanya kepada Arine.


“Oh, rame-rame … boleh. Nanti aku atur jadwal dulu yah. Kalau agak longgar jadwal syutingnya aku kabarin,” balas Arine lagi.

__ADS_1


Apakah yang hendak disusun oleh Thomas? Mungkinkah camping hanya sekadar camping, tetapi Thomas telah menyusun suatu rencana yang lain?


__ADS_2