Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Obrolan dengan Mama


__ADS_3

Tanpa menghiraukan Evan yang masih berdiri di depan meja kerjanya, Andin memilih pergi. Sebab, menurut Andin jika hanya bekerja, bekerja, dan terus bekerja yang ada justru membuat Andin bisa-bisa menginap semalaman di kantornya. Maka, dengan hati yang benar-benar dongkol, Andin memilih untuk pulang. Selain itu, keesokan harinya, Andin juga ingin mengajukan untuk pindah ke divisi yang lain.


Dengan menyetir sendiri mobilnya, Andin memilih untuk langsung pulang. Rasanya sudah begitu ingin tiba di rumah, menikmati coklat hangat, dan tidur lebih cepat. Kendati demikian, Andin justru terpikir dengan ucapan atasannya siang tadi.


Kamu mau enggak seriusan sama saya? Ya, kalau kamu mau … saya tinggal datang ke rumah dan meminta baik-baik kepada orang tua kamu untuk melamar kamu. Kita nikah sekarang saja. Serius nikah. Saya enggak mau pacaran ... kalau mau nikah saja. Toh, pacaran lebih enak dan lebih nikmat setelah menikah. Halal mau ngapa-ngapain.


Ya Tuhan, semua perkataan Evan justru terekam dengan sempurna di dalam otaknya. Baru kali ini ada pemuda yang terang-terangan mengajaknya menikah. Jika, yang lain hanya mengajak pacaran, mengatakan cinta, tetapi tidak dengan Evan. Namun, di saat yang bersamaan Andin juga bergidik ngeri saat Evan mengatakan 'Toh, pacaran lebih enak dan lebih nikmat setelah menikah. Halal mau ngapa-ngapain.' Mungkinkah itu karena Evan ingin menikah karena hasrat semata?


"Bos rese banget ... kalau dia tidak belok, ngapain coba ngajakin seriusan menikah. Cuma, kalau beneran menikah, apa mungkin Pak Evan yang sedingin dan galak itu bisa berubah?"


Andin terbersit, bahkan dia membayangkan jika benar-benar menikah. Akan tetapi, Andin segera memukul kepalanya sendiri. "Udah Din ... udah. Lagian kamu mau sama cowok gawak dan diktator kayak Pak Evan. Mana dia usianya 6 tahun di atas kamu juga. Kuliah Din, selesain ... nikah belakangan," ucapnya pada diri sendiri.


Begitu sudah tiba di rumahnya, Andin pun memarkirkan mobilnya di tempat parkir di dalam rumahnya yang luas, kemudian membuka pintu rumah.


"Mama, Andin pulang," sapa gadis itu sembari sedikit berteriak.


"Tidak usah teriak-teriak anaknya Mama ... gimananya kerjanya hari ini?" tanya sang Mama.


"Biasa Ma ... capek. Kalau bukan untuk tugas kuliah dan ingin dapat nilai yang bagus, Andin pilih keluar," balasnya.


Mama Tika yang mendengarkan kisah anaknya pun hanya tertawa. Sebab, memang bekerja itu tidak sama dengan kuliah. Dalam bekerja, kita dituntut untuk memiliki tanggung jawab secara lebih. Namun, Mama Tika sendiri justru merasa senang karena Andin akan benar-benar mendapatkan pengalaman bekerja.

__ADS_1


"Papa belum pulang ya Ma?" tanya Andin.


"Belum ... mana pernah Papamu sore-sore gini di rumah. Enggak akan mungkin, proyek Papa itu banyak banget," balas Mama Tika.


"Kalau Kak Arine di mana Ma?" tanya Andin yang kini menanyakan Kakaknya.


"Biasa juga lah ... Kakakmu kan sibuk syuting. Kenapa nanyain Papa dan Kak Arine?" tanya Mama Tika.


"Enggak ... kangen saja, Ma ... kita satu keluarga, tetapi terlalu sibuk sendiri-sendiri. Papa yang selalu kerja, Kak Arine yang syuting gak ada habisnya, dan juga kita yang sering menunggu rumah. Kapan kita bisa kumpul dan makan malam bersama Ma?" tanya Andin.


Sehari-hari memang begitulah keluarga Andin, Papanya adalah penguasa retail dan waralaba yang begitu sibuk, sementara Kakaknya adalah seorang artis. Sehingga setiap hari, hanya Andin dan Mama Tika saja yang sering berada di rumah. Rasanya, sejak tadi siang diajak atasannya makan bersama dengan keluarganya, ada rasa kangen di dalam hati Andin. Sudah lama keluarganya sendiri tidak kumpul bersama dan hanya sekadar makan dalam satu meja.


Mendengar apa yang baru saja Andin ucapkan, membuat Mama Tika tersenyum sedih. Hanya sekadar mengabulkan apa yang diinginkan anaknya saja, itu adalah yang begitu susah untuk diwujudkan. Kebersamaan itu seolah menjadi sesuatu yang mahal dan juga sangat tidak bisa diwujudkan olehnya.


"Maafkan Mama, Din ... bagaimana lagi Papa kamu sibuk dan Kak Arine juga sibuk syuting stripping. Jadi, ya kita berdua saja yang makan malam bersama," ucap Mama Tika.


Andin menghela nafas sepenuh dada. Hanya keinginan kecil yang dia inginkan, tetapi tak bisa terwujud. Hanya sekadar makan bersama, tetapi itu pun tak bisa terwujud. Namun, memaksa pun juga tidak elok rasanya.


"Rumah kita begitu besar, Ma ... hanya saja penghuninya hanya Mama dan Andin. Papa bisa begitu lama tinggal di luar kota, sementara Kak Arine yang lebih sering pulang ke apartemen yang dekat dengan lokasi syutingnya. Kapan kita bisa berkumpul bersama Ma? Maaf, Andin hanya menyampaikan apa yang Andin rasakan," ucapnya.


"Tidak apa-apa, Andin ... Mama justru senang kamu bisa menceritakan apa yang kamu alami kepada Mama. Bagaimana pekerjaanmu? Ceritakan kepada Mama," ucap Mama Tika.

__ADS_1


Mendengar apa yang ditanyakan Mamanya, membuat Andin menggelengkan kepalanya, "Ya, begitu Ma ... bagai kerja ikut kompeni deh. Atasannya diktator banget, pekerjaan Andin itu banyak banget, Ma ... dari pagi sampai sore. Ini tadi seharusnya Andin lembur harus menginput data lagi, cuma Andin enggak mau," balas Andin.


"Jangan seperti itu, Sayang ... kerjakan setiap tugas yang diberikan kepadamu. Atasanmu berhak memberikan tugas kepadamu untuk kamu kerjakan sampai selesai," balas Sang Mama.


"Habis, dia memberikan pekerjaan saat mau pulang kerja, Ma ... ya, Andin tidak mau lah ... Andin kan sudah berhari-hari lembur. Lagian kan besok masih ada hari, masih ada waktu," ucapnya.


"Jangan terlalu benci  sama atasanmu ... nanti bisa-bisa kamu jatuh cinta kepadanya loh. Ingat kalau sudah jatuh cinta, kamu bakalan malu pada hari ketika kamu begitu sebal dengannya," balas Mama Tika.


Ya Tuhan, jatuh cinta. Jikalau bisa Tika ingin membuang jauh-jauh kata jatuh cinta itu dari kamusnya. Sebab, menurutnya Andin tidak mau menikah jika pada akhirnya hanya akan ditinggal suaminya mengurus bisnis kemana-mana. Sama seperti Mamanya yang nyatanya hanya menghabiskan waktu di rumah. Sementara Papanya sibuk bekerja mengurus bisnis di luar sana.


"Amit-amit ... jangan deh Ma ... ya Pak Bos emang cakep sih, mirip Shah Rukh Khan. Cakep banget. Hanya saja galak banget," balas Andin.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Andin, Mama Tika pun tertawa, "Siapa namanya? Emang ada pria setampan itu di Jakarta?" tanya Mama Tika.


"Ada Ma ... pertama lihat, Andin juga bingung. Gila, tampan banget. Cuma, ya itu ... galak banget, ketus banget," sahutnya.


"Siapa namanya?" tanya Mama Tika lagi. Agaknya Mama Tika pun juga penasaran dengan sosok yang diceritakan oleh Andin itu.


"Namanya Evander Agastya, Ma ... cakep banget. Katanya sih dia Wakil CEO termuda dan paling cakep di Jakarta," balas Andin.


Mama Tika pun tertawa mendengar ucapan Andin, hanya saja kenapa nama pemuda itu juga terdengar begitu bagus. Ya, Evander Agastya adalah sebuah nama yang bagus. Rasanya Mama Tika pun penasaran dengan sosok itu.

__ADS_1


__ADS_2