
Tidak terasa hari berganti dengan begitu cepat. Kabar pernikahan Evander Agastya, putra sulung Belva Agastya itu pun membuat gempar satu perusahaan Agastya Properti, dan beberapa mitra pengusaha yang selama ini telah menjadi jalin kerja sama dengan Agastya Properti. Kebanyakan dari mereka tidak mengira bahwa pemuda yang nyaris tidak pernah terdengar rekam jejaknya berpacaran itu, kini akan melepas masa lajangnya. Sebagai putra sulung pemilik perusahaan properti yang besar, tentu saja Papa Belva dan Mama Sara ingin membuat pesta pernikahan yang mewah untuk putranya.
Kini di salah satu hall di hotel bintang lima di Ibukota, sudah didekorasi dengan sedemikian rupa. Aneka bunga, lampu-lampu, dan juga deretan pengisi acara yang kondang akan menjadi saksi pernikahan Evan dengan Andin. Pagi hari akan dilangsungkan dengan akad nikah, dan usai akad akan langsung dilanjutkan dengan resepsi. Kali ini yang datang untuk hanya seluruh staf Agastya Properti, tetapi juga dari mitra dan juga kenalan keluarga Agastya.
"Akhirnya, putranya Mama akan melepas masa lajang hari ini. Are you happy, Van?" tanya Mama Sara yang kini memasuki kamar rias putranya itu.
"Nervous, Ma ... dulu Papa juga apakah seperti ini ya? Deg-degan banget," balas Evan.
Mama Sara lantas tersenyum, dia teringat dengan kala Belva menikahinya di Villa pribadi Belva Agastya yang berada di Puncak, Bogor. Pernikahan kedua mereka yang begitu sederhana, tetapi justru begitu berkesan untuk Sara.
Rupanya Sang Papa pun turut datang dan menepuk bahu putranya itu, "Pasti nervous, Van ... cuma yakin dan percaya saja bahwa keputusan kita untuk menikah adalah keputusan yang tepat," balas Papa Belva.
Mama Sara pun menganggukkan kepalanya, setujua dengan ucapan suaminya itu, "Benar ... kamu yakin belum?" tanya Mama Sara.
"Yakin Ma ... ya, walau masih perlu mengenal lebih dalam lagi. Seperti kata Mama, perjalanan dalam membina rumah tangga itu bukan hanya berbicara waktu satu hari, satu minggu, satu bulan, atau satu tahun, tetapi waktu seumur hidup kita. Evan akan belajar," balasnya.
"Belajarlah, saling memahami. Tidak ada rumah tangga yang sempurna. Rumah tangga Mama dan Papamu pun jauh dari kata sempurna, tetapi kita bisa menciptakan kebahagiaan kita sendiri bersama pasangan hidup kita."
Papa Belva kembali memberikan nasihat kepada putranya itu. Tentu di dalam hatinya Papa Belva sangat bangga dengan Evan. Putranya itu adalah sosok yang tenang, bekerja sama, dan selalu membuat keputusan yang matang. Semoga kali ini keputusan Evan untuk menikah adalah keputusan yang benar.
Usai itu, Evan melangkahkan kakinya di dampingi Mama Sara dan Papa Belva, menuju ke tempat acara. Pria itu duduk dengan tenang dan menunggu Andin yang akan datang. Beberapa saat lagi akad akan dilangsungkan, jadi Evan sudah duduk manis di hadapan Papa Miko dan penghulu yang ada di sana.
Tidak berselang lama pun, seorang pengantin yang begitu cantiknya memasuki ruangan dengan baju kuruang (atasan) dan kodek (bawahan) dilengkapi dengan perhiasan berupa gelang dan kalung. Ada Suntiang (hiasan kepala dari emas) yang menghiasi kepala sang pengantin perempuan.
__ADS_1
Ya, prosesi akad pagi itu mengusung konsep adat minang. Di mana Andin berhias dengan sedemikian rupa mengenakan kuruang dan kodek, serta suntiang yang beratnya hampir 3,5 kilogram di kepalanya. Gadis itu begitu cantik dan riasan yang cenderung bold justru membuat Andin begitu menawan.
Sementara Evan sendiri mengenakan pakaian adat untuk pengantin pria yang disebut marapulai. Pengantin pria itu mengulas senyuman tipis mana kala Andin berjalan perlahan-lahan seolah menghitung setiap langkah yang dia ambil dan kemudian, Andin duduk di samping Evan. Pengantin pria itu sedikit melirik Andin di sana, sejenak mengamati pengantinnya yang begitu cantik dan juga menawan.
Rasanya Evan begitu terhipnotis dengan kecantikan Andin sekarang ini. Entah Andin yang kali pertama berhias sedimikian rupa, ditambah dengan Suntiang di atas kepalanya, atau memang Andin yang memang begitu cantik. Terpana pada sosok mempelai wanitanya sendiri. Namun, rasa itu dengan cepat teralihkan mana kala seorang penghulu mengambil mik dan mulai berkata, "Bisa kita mulai sekarang?"
Tampak ada anggukan dari Papa Miko, Evan, dan saksi yang duduk di sana sepakat untuk memulai akad kala itu. Mulailah Papa Miko menjabata tangan Evan di sana dan memulai mengucapkan kalimat di mana seorang Papa akan menikahkan putrinya dengan pria yang kini dia genggam tangannya.
"Aku nikahkan dan aku kawinkan engkau Evander Agastya dengan putriku, Andini Sukmawati dengan Mas Kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Evan memejamkan matanya sesaat, kemudian pemuda itu mengambil nafas dalam-dalam, dan dengan yakin, dia pun mengucapkan kalimat akad yang begitu sakral itu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Andini Sukmawati binti Miko Sukmajaya dengan mas kawin tersebut tunai."
Sungguh, begitu luar biasanya perasaan Evan dan Andin sekarang ini. Keduanya sudah terikat oleh sebuah ikrar yang akan mengikat keduanya dalam ikatan pernikahan yang sah di mata agama dan negara. Jika sebelumnya, Evan mengucapkan ikrar nikah kontrak, sekarang Evan benar-benar mengucapkan ikrar untuk menikahi Andin dengah sah.
***
Siang harinya begitu resepsi sudah selesai ....
Evan dan Andin yang masih berdiri di pelaminan sama-sama tersenyum bersama, tidak mengira hari ini akan tiba. Hari di mana keduanya telah resmi menjadi satu dalam ikatan pernikahan yang sah. Pengantin yang semula mengenakan pakaian tradisional khas Minang karena mengikuti adat dari Papa Miko, kini telah mengenakan setelan Tuksedo dan Andin mengenakan Wedding Dress yang begitu indah.
"Capek?" tanya Evan kemudian.
__ADS_1
"Lumayan," balasnya.
"Sudah selesai kok resepsinya. Usai ini kita bisa beristirahat," balas Evan.
Tampak Mama Sara dan Papa Belva yang menghampiri Evan dan Andin, "Selamat yah ... sekarang kalian bukan lagi dua, melainkan satu," ucap Mama Sara kepada Evan dan Andin.
"Iya ... terima kasih, Ma," balas Andin.
"Sangat bahagia untuk kalian berdua. Papa doakan yang terbaik untuk kalian berdua. Oh, iya ... untuk bulan madu, kalian ingin kemana?" tanya Papa Belva kepada Evan dan juga Andin.
"Tidak usah bulan madu saja, Pa ... mengingat banyaknya pekerjaan yang harus Evan handle sekarang. Jadi, di Jakarta saja," balas Evan.
"Setidaknya berliburlah bersama. Satu atau dua hari," balas Mama Sara.
Evan lantas menatap Andin yang berdiri di sampingnya, "Di hotel ini saja Ma ... sekalian, tidak usah kemana-mana. Di hotel saja tidak apa-apa kan Andin?" tanya Evan kemudian.
Andin hanya menganggukkan kepalanya saja. Sebab, Andin juga sangat tahu bahwa pekerjaan yang dikerjakan suami sekaligus atasannya itu sangat banyak. Jika pergi sekarang, rasanya juga tidak mungkin.
"Hmm, iya," balasnya.
"Ya sudah, tapi nanti kalau sudah, kalian liburan bersama saja. Biar Papa yang handle pekerjaan di kantor," balas Papa Belva.
"Iya Pa," balas Evan.
__ADS_1