
Evan melajukan mobilnya menuju kediaman Andin. Walau lelah karena usai seharian bekerja, jika hanya mampir sejenak dan mengambil buku-buku Andin tidak masalah untuk Evan. Walau jujur, Evan masih ilfeel mana kala harus berhadapan dengan Papa mertuanya. Namun, demi istri tercinta, Evan akan melupakan semuanya dan mengantar Andin untuk mengambil buku-buku yang dia butuhkan.
“Enggak keberatan kan Mas nganter aku ke rumah?” tanya Andin kepada suaminya.
Seakan-akan Andin masih ingat kejadian beberapa hari yang lalu kala Papanya meminta Evan untuk menjadi CEO Agastya Properti dan juga meminta pengalihan harta warisan untuk nama Andin. Terlebih kala itu, Evan sendiri mengatakan bahwa dirinya kecewa. Akan tetapi, bagaimana lagi semua telah terjadi. Sekarang Evan pun terlihat bersikap biasa saja, tetapi di dalam hati, siapa yang tahu.
“Santai saja Sayang … apa aku terlihat keberatan?” tanyanya sekarang.
Ada gelengan kepala Andin secara samar, “Tidak ….”
“Iya, aku tidak keberatan. Lagipula, hanya sebentar kan?” tanya Evan lagi.
"Iya Mas ... aku hanya perlu mengambilnya dan mengemasnya. Setelah itu kita bisa pulang. Maaf yah," ucap Andin lagi.
"No problem, Sayang," balas Evan dengan fokus mengemudikan mobilnya, menyusuri jalanan Ibukota sore itu dan kemudian menuju ke kediaman Sukmajaya.
Begitu tiba di sana, tampak Evan dan Andin sama-sama keluar dari mobil, dan Andin menggandeng tangan suaminya itu, mengajaknya untuk masuk ke dalam rumahnya. Terlihat pintu rumahnya yang terbuka, bahkan samar-samar terdengar suara dari dalam rumah.
Seketika firasat Andin rasanya tidak enak, terlebih kala dia mendengarkan namanya disebut-sebut.
"Aku tidak mau Andin hidup menderita dengan pria itu. Bisa saja Belva tidak akan menjatuhkan semua hartanya kepada Evan, lagipula ... aku juga tidak akan mewariskan hartaku kepada Andin," ucap Papa Miko kali itu dengan begitu keras.
__ADS_1
"Tidak begitu Pa ... bagaimanapun juga Andin adalah anakmu, adiknya Arine. Jangan berlaku demikian," balas Mama Tika.
Andin yang belum berani melangkah masuk ke dalam rumahnya hanya berusaha mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya itu, dan juga mendengarkan ada apa dengan warisan yang sekarang dibahas Mama dan Papanya.
"Sepeserpun aku tidak akan memberikan harta ini kepada Andin ... dia anak yang sudah membuatku kehilangan wanita yang selama ini aku cintai. Dia yang membuat Rosa meregang nyawa saat melahirkannya. Selamanya, aku akan membencinya!"
Deg!
Di saat Papa Miko meneriakkan itu, air mata lolos begitu saja dari sudut mata Andin. Sementara Evan segera menggandeng tangan istrinya itu.
"Kita pergi dari sini?" tanyanya.
Evan sangat tahu bahwa apa yang Andin dengar sekarang ini begitu melukai perasaan dan hati Andin. Oleh karena itu, Evan berinisiatif untuk membawa Andin pergi dari kediamannya. Rasanya, mereka berdua juga tiba di saat yang tidak tepat.
"Tidak ... bagiku itu adalah kesalahan Andin. Seandainya Rosa tidak hamil lagi dan melahirkannya, pasti hidupku lebih bahagia tinggal bersama wanita yang sangat aku cintai. Semua karena Andin," balas Papa Miko.
Kehidupan Miko Sukmajaya memang tidak seperti yang dibayangkan selama ini. Publik melihatnya sebagai pebisnis yang kaya raya dan putrinya adalah aktris populer Ibukota. Akan tetapi, ada noda kelam di dalam hidup pebisnis itu. Pernikahannya dengan Tika adalah pernikahan bisnis yang diatur oleh kedua orang tuanya dulu, sementara Miko nyatanya justru jatuh hati kepada sekretarisnya dulu yang bernama Rosa.
Dengan memaksa Tika untuk mau dimadu, Rosa pun akhirnya dinikahi oleh Miko Sukmajaya. Miko lebih senang menghabiskan hari-hari bersama Rosa, tiada hari yang mereka habiskan dengan memadu kasih bersama. Dia bahkan abai dengan Tika dan juga Arine yang kala itu masih kecil. Sementara dengan Rosa, semua hari yang Miko lalui semuanya indah.
Setiap hari bercinta pun tak pernah membuat keduanya bosan. Sampai suatu hari Rosa pun hamil, mengandung buah cintanya dengan Miko. Kehamilan yang berjalan begitu lancar hingga sampai pada hari persalinan, rupanya Rosa mengalami tekanan darah tinggi. Melahirkan dengan kondisi tekanan darah tinggi sangat berbahaya. Oleh karena itu, Dokter menyarankan untuk menyelamatkan salah satu di antaranya Ibu atau Bayinya. Sebab, waktu itu hanya itulah pilihannya. Miko tidak bisa memilih keduanya.
__ADS_1
"Silakan tentukan Pak Miko, Ibu atau Bayinya yang Anda pilih," tanya sang Dokter yang akan mengoperasi waktu itu.
"Mas ... biarkan aku pergi. Pilihlah putri kita, bayi kita ... nanti berikanlah dia nama Andini, karena dia akan tubuh menjadi anak yang taat, patuh, dan juga setia. Pilihlah putri kita, Mas ...."
Rosa berbicara lirih kepada suaminya yang sudah berlinangan air mata di sana. Meminta kepada sang suami untuk lebih memilih bayi kecilnya.
Miko menangis dan menggelengkan kepalanya, "Tidak bisakah aku memilih kamu?" tanyanya.
"Pilihlah bayi kita ... aku akan pergi dengan tenang, usai ini."
Linangan air mata membasahi wajah Rosa kala itu. Tidak mungkin juga dia akan mengorbankan bayinya yang belum melihat dunia. Oleh karenanya, Rosa membuat pengorbanan yang besar. Risiko terburuk pun dia ambil dengan menyerahkan nyawanya asalkan bayinya selamat.
"Selamatkan bayi saya, Dokter ...."
Keputusan seorang Rosalia Rahaya pada akhirnya. Dengan keputusan yang dibuat pasien itulah, Dokter melakukan tindakan operasi, dan bayi kecil pun diangkat dari rahim Rosa. Masih bisa Rosa dengar tangisan sang bayi. Kulitnya yang merah, masih terlihat lendir dan darah di hidung bayi itu.
"Bayiku ... Andini ...."
Usai mengatakan semuanya, Rosa pun memejamkan matanya untuk selamanya. Itu adalah momen terpahit dalam hidup Miko Sukmjaya. Sejak saat itu, kehidupan Miko tidak pernah sama. Sejak saat itu, rasanya tidak ada kasih sayang di dalam hatinya untuk bayi yang baru saja lahir itu.
Sejak saat itu, Miko menganggap kehadiran Andini hanyalah sebuah upaya untuk memisahkannya dengan Rosa. Tidak ada tempat di dalam hati Miko untuk Andini. Hingga Tika, istri pertamanya yang mengambil bayi milik Rosa, memberikan ASI untuk Andini, dan juga merawat Andini sejak kecil.
__ADS_1
Sementara Miko mengobati kehilangan di dalam hatinya dengan membenci Andin, dan dia mulai menyayangi Arine. Semua yang Arine minta akan selalu dia berikan, tetapi tidak untuk Andin. Hingga tahun-tahun berlalu dan kian terlihat jelas bagaimana kasih sayang Miko untuk Arine, dan ketidaksukaannya kepada Andin. Padahal keduanya adalah anaknya, darah dagingnya. Akan tetapi, keduanya memiliki tempatnya tersendiri di dalam hati Miko Sukmajaya.