Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Cerita Keluarga Agastya


__ADS_3

Andin sepenuhnya sadar bahwa kehormatan seorang istri adalah berada di bawah perlindungan suaminya. Kehormatan seorang istri berada di dalam rumah suaminya sendiri. Lagipula, bagi Andin bukan sebuah masalah besar jika memang suaminya lahir karena rahim sewaan.


"Kamu pasti bingung dengan semua ini kan Andin?" tanya Mama Sara kepada menantunya itu.


"Jujur, Andin bingung ... hanya saja, Andin tidak akan meninggalkan Mas Evan ... karena Andin cinta dengan Mas Evan."


Pengakuan secara jujur dan juga sadar dari Andin. Dia tidak akan meninggalkan Evan karena memang Andin begitu mencintai Evan. Pria pertama yang berani mengungkapkan keinginannya untuk serius. Pria pertama yang menyentuhnya dalam pernikahannya yang sah. Evan pun juga bekerja dengan begitu baik di Agastya Properti dan juga tidak sekadar menjadi suksesor yang tidak tahu apa-apa. Justru, Evan benar-benar bekerja keras untuk bisa menjadi suksesor yang sehandal Papanya.


"Mungkin, sekarang kamu juga harus tahu perihal tuduhan Papamu tadi, Ndin," ucap Evan dengan memberikan anggukan kepada Papa dan Mamanya.


Melihat sinyal yang dikirimkan oleh Evan, Mama Sara dan Papa Belva juga sama-sama menganggukkan kepalanya. Kali ini pasangan orang tua itu ingin menceritakan kisah keluarga mereka yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang.


"Jadi ... begini Andin, memang sebelumnya Papa sudah pernah menikah. Cukup lama Papa menikahi seorang wanita, bertahun-tahun pernikahan kami, Papa mendambakan seorang anak, seorang keturunan. Papa tahu wanita yang Papa nikahi mengidap endometriosis dan Tokophobia, sehingga dia tidak bisa memiliki anak. Akan tetapi, Papa adalah pria yang sehat, Papa ingin mendapatkan keturunan, dari darah dan daging Papa sendiri. Sampai pada akhirnya Papa bertemu dengan Mama Sara di sebuah bar. Di sana memang Mama kamu hanya sebagai pekerja bar, tetapi Papa tahu dan Papa membuktikan sendiri bahwa pria yang pertama kali menyentuh Mamamu adalah Papa. Kami menikah dengan alasan supaya Papa mendapatkan keturunan dari Mama. Dalam pernikahan yang disetujui bahwa 12 bulan, akhirnya Mama kamu berhasil mengandung Evan. Waktu berjalan hingga Evan lahir untuk kami, dan Mama kamu pergi meninggalkan kami."


Cerita Papa Belva yang menceritakan awal pertemuannya dengan Mama Sara dan juga bagaimana bisa ada Evan di antara mereka berdua.


"Usai melahirkan Evan, Mama memilih pergi padahal kala itu mendiang Mama Anin meminta Mama untuk tinggal dan bisa membesarkan Evan bersama-sama. Hanya saja, Mama tidak mau. Mama tidak mau merusak kebahagiaan keluarga Agastya, dan Mama sadar bahwa Mama bukan siapa-siapa bagi keluarga ini. Hingga Mama pergi, tetapi Mama tetap menjadi ibu susu untuk Evan, bukti kasih sayang Mama. Memang Mama tidak bisa mengasuhnya setiap hari, melihat tumbuh kembangnya, tetapi ada ASI yang setiap dua pekan Mama kirimkan agar Evan tumbuh sehat dan kuat. Mama pergi ke Bogor dan juga merintis Coffee Bay di sana. Pria yang bernama Anthony itu adalah pria yang dulu pernah melecehkan Mama, berusaha untuk menyentuh Mama. Namun, datanglah Papa kamu yang menyelamatkan Mama," cerita Mama Sara.


Tidak mudah untuk menceritakan semuanya secara langsung kepada Evan dan Andin. Akan tetapi, memang lebih baik terbuka perihal masa lalu keluarga mereka. Lagipula, Andin bukan orang lain. Andin sudah menjadi bagian dari keluarga Agastya.


"Waktu melakukannya Mama dan Papa saling cinta?" tanya Andin kemudian.

__ADS_1


Ada anggukan kepala dari Mama Sara dan Papa Belva, "Kami saling cinta, tetapi kala itu kami tidak bisa mengungkapkan perasaan kami. Hingga sepeninggalkan Mama Anin, empat tahun kemudian barulah Papa menemukan Mama Sara di Bogor. Papa berusaha mendapatkan hatinya dan mengakui perasaan Papa selama ini kepada Mama Sara," balas Papa Belva.


Andin pun tersenyum di sana, dan menggenggam tangan suaminya, "Kamu tetap anak luar biasa yang lahir karena cinta, Mas," ucapnya.


Evan pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... untuk itu, aku sama sekali tidak ragu. Mama dan Papa sangat menyayangiku sejak aku kecil. Hanya saja, aku tidak setuju sewaktu Papa kamu menudingku seperti pekerja yang bekerja keras di perusahaan Papaku. Apa salah jika aku ingin menjadi pemimpin yang handal dan sukses seperti Papaku? Justru aku membuktikan bahwa aku layak dan bisa menempati posisiku sekarang karena usaha dan kerja kerasku. Kenapa Papamu bisa seperti itu Andin?"


Seolah Evan pun juga bingung dengan sikap Papa Miko. Kenapa seolah-olah mereka mengharapkan harta warisan untuk Andin. Padahal keluarga Sukmajaya sendiri memiliki harta yang berlimpah dan juga bisa memberikannya secara adil untuk Arine dan Andin.


"Entahlah Mas ... aku sendiri merasa, aku ini anak, tetapi serasa tidak anak kandung bagi Papaku," jawabnya dengan memejamkan matanya sesaat.


Mendengar apa yang disampaikan Andin, Mama Sara pun mendekat dan segera memeluk Andin di sana. Tidak mudah bagi seorang wanita yang masih muda seperti Andin mengalami masalah seperti ini. Tadi, Mama Sara berpikir bahwa Andin akan meninggalkan Evan dan ikut dengan Papanya. Akan tetapi, semua itu tidak terjadi karena Andin memilih untuk tinggal di sisi Evan.


"Sabar Andin ... cara orang tua menyayangi anaknya berbeda satu sama lain," balas Mama Sara.


"Tidak Ma ... itu fakta dan Andin merasakannya sejak Andin masih kecil. Yang selalu disayang oleh Papa hanya Kak Arine, dan Andin selalu mengiba untuk mendapat kasih sayangnya," balas Andin.


Sejak kecil, Andin mencari perhatian Papanya dengan harapan bahwa Papanya itu akan menaruh hati kepadanya, dan menyayanginya. Akan tetapi, semua itu sia-sia karena yang selalu disayangi Papa Miko hanya Arine saja.


"Sejak kecil, semua yang baik diberikan kepada Kak Arine ... Andin hanya mendapat sisanya. Sama seperti pernikahan kontrak Mas Evan dengan Kak Arine dulu, Andin yang mengenal Mas Evan terlebih dahulu, tetapi justru Papa meminta Kak Arine untuk menikah dengan Mas Evan. Semua ini apa Ma? Andin juga tidak tahu, tetapi sudah terlihat bukan siapa yang lebih disayangi Papa," ceritanya.


Papa Belva yang turut mendengarnya menghela nafas, "Sabar Andin ... suatu saat kita juga pasti tahu apa yang menjadi alasannya selama ini. Tidak mungkin seseorang melakukan sebuah tindakan tanpa ada alasannya," balas Papa Belva.

__ADS_1


"Iya Pa ... Andin akan bersabar sebisa Andin. Hanya saja, Andin tidak akan pernah meninggalkan Mas Evan," balasnya lagi.


Evan merasa lega. Mungkin pemikiran Evan sebelumnya sama seperti Mama Sara di mana mungkin saja Andin akan meninggalkannya dan memilih pergi bersama Papanya karena Evan tidak bisa melakukan syarat yang diminta oleh Papanya. Akan tetapi, pikiran Evan salah. Evan justru tertegun kala Andin mengatakan bahwa kehormatan seorang istri ada di rumah suaminya.


"Terima kasih Andin sudah mau tinggal di sampingku," balasnya.


"Sama-sama Mas Evan," balas Andin.


Ada deheman dari Papa Belva, "Ya, sudah ... kalian menenangkan diri dulu. Jika sudah tenang, kita akan makan bersama. Ayo, Ma ... berikan waktu untuk anak-anak kita dulu," Papa Belva pun segera berdiri dan merangkul istrinya itu.


Bukan hanya Evan dan Andin yang perlu menenangkan diri. Akan tetapi, Mama Sara juga perlu menenangkan dirinya. Sebab, terlihat jelas bagaimana besannya sendiri mempersoalkan masa lalunya yang pernah bekerja di bar.


"Tenang ya Ma ... ada Papa. Bahkan sekarang Papa bisa hancurkan perusahaan Anthony dan Sukmajaya itu," ucapnya.


Mama Sara pun mengusapi punggung suaminya, "Sabar Pa ... kalau Anthony itu rival Papa sejak lama. Kalau Sukmajaya itu keluarga kita, Pa. Orang tua Andin," balas Mama Sara.


"Yang Miko sampaikan barusan adalah penghinaan, Ma," balas Papa Belva.


"Benar Pa ... semua adalah penghinaan. Akan tetapi, jika perusahaan Sukmajaya hancur, Andin akan sedih. Jika Andin sedih, Evan juga merasakan hal yang sama. Mama merasa bangga karena Andin yang masih muda bisa menentukan pilihannya. Mama pikir tadi Andin akan meninggalkan Evan," ucap Mama Sara dengan perasaan yang begitu lega.


"Papa juga lega, Ma ... Evan juga sangat mencintai Andin. Bisa dikatakan bahwa Andin lah yang membuat Evan berani menikah dan menghadapi permasalahan rumah tangga yang seperti ini. Ini baru permulaan, Ma ... ke depannya, akan banyak angin bahkan badai yang datang. Andin dan Evan harus saling berpegangan tangan dan menghadang badai itu," ucap Papa Belva.

__ADS_1


Mama Sara lantas memeluk suaminya itu, "Benar Pa ... rumah tangga bisa goyah bila suami dan istri tidak saling berpegangan tangan. Semoga saja Andin dan Evan bisa menghadapi semuanya bersama," ucapnya.


Memang begitulah rumah tangga. Ada kalanya cuaca begitu tenang, tetapi ada kalanya angin bahkan badai pun turut datang. Tidak perlu ragu dan gusar, tetapi terus bergandengan tangan, memupuk cinta, dan yakin bahwa semua bisa diatasi jika pasangan suami dan istri selalu bersama-sama.


__ADS_2