Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Kabar Arine di Australia


__ADS_3

Di tempat yang berbeda, Arine kini menetap sementara di Sydney, Australia. Menempati rumah keluarga Sukmajaya di sana sampai waktu bersalin tiba nanti. Bahkan karena Arine tengah berbadan dua, Arine sampai mengurungkan niatnya untuk datang ke pernikahan Andin. Tentu Arine memilih semuanya itu karena menghindari sorotan awak media atau mungkin pandangan orang yang mengenalnya dan juga mengetahui kehamilannya.


Tidak terasa kehamilan Arine sekarang sudah berusia hampir enam bulan. Hanya beberapa bulan lagi sebelum bersalin. Di sana, Arine juga tidak tinggal sendirian. Akan tetapi, ada Tante Lany yang turut menjaganya di sana. Setidaknya tidak akan membiarkan Ibu hamil untuk tinggal sendirian.


Kali ini, Papa Miko dan Mama Tika terbang ke Australia untuk menjenguk Arine. Sebagaimana janji Papa Miko, bahwa Papa Miko akan terus menjenguk Arine secara rutin. Sekarang, Papa Miko dan Mama Tika sudah sampai di Sydney. Menuju rumah keluarga yang ditempati oleh Arine.


“Bagaimana kabarmu Arine?” sapa Papa Miko yang tentu bahagia melihat kembali putri sulungnya setelah satu bulan lamanya tidak bertemu.


Ya, Arine memang memilih pergi ke Australia. Dia juga enggan untuk menemui Rendra lagi. Padahal kala itu Rendra datang dan ingin menikahi Arine. Hanya saja, menurut Arine semuanya sudah terlambat. Unruk apa Rendra datang di saat Arine sudah berbadan dua. Arine justru memilih terbang ke Australia dan menepi di sana sampai waktunya melahirkan nanti.


“Baik Pa … akhirnya Papa dan Mama mengunjungi Arine juga. Andin bagaimana kabarnya Pa? Akhirnya Andin menikah juga dengan Evan,” ucap Arine.


“Andin baik. Dia sudah tinggal bersama Evan sekarang,” balas Mama Tika.


Arine menghela nafas dan menatap kedua orang tuanya. “Beruntung sekali Andin karena menikahi pria yang mencintainya dan stabil secara finansial. Sudah pasti Andin sangat bahagia,” balas Arine.

__ADS_1


Seakan Arine juga memikirkan nasibnya. Cantik, terkenal, seksi, dan juga memiliki segalanya, tetapi dengan kehamilan sekarang seolah semuanya itu tidak berharga sama sekali. Justru, menurut Arine yang bernasib baik adalah Andin.


“Kenapa kamu tidak menikah dengan Rendra saja, Rine?” tanya Papa Miko sekarang.


“Menikah untuk apa Pa?” tanya Arine menyelidik.


“Untuk anakmu tentunya. Dia membutuhkan figur Papa. Kalau tidak mau, kamu bisa menikah kontrak dengan sejumlah kesepakatan dan juga bisa mendapatkan harta Rendra,” balas Papa Miko.


Seolah pemikiran itu adalah pemikiran itu adalah licik. Akan tetapi, menurut Papa Miko, Rendra juga berhak bertanggung jawab atas Arine dan juga bayinya. Setidaknya melahirkan di luar negeri nanti ada Rendra yang siap menanggung semuanya.


Otak bisnis seorang Miko Sukmajaya bergerak cepat. Setidaknya ada kompensasi yang harus Rendra keluarkan untuk anaknya. Melibatkan Rendra secara finansial untuk persalinan Arine nanti.


“Nikah kontrak sampai persalinan Pa? Kenapa, Arine hanya puas menjadi wanita yang dinikahi kontrak Pa? Arine juga ingin mendapatkan pasangan yang mencintai Arine apa adanya dan membina rumah tangga dengan serius,” balas Arine.


Semula Arine sudah menikah kontrak dengan Evan, dan sekarang Papanya juga menawarkan untuk mengadakan pernikahan kontrak antara dirinya dengan Rendra. Dalam hatinya yang terdalam, Arine juga ingin untuk mendapatkan suami yang baik dan tulus padanya.

__ADS_1


“Jika kamu mau menerima Rendra pun, Papa tidak masalah kok. Kamu mau memulai lagi semuanya dari awal tidak?” tanya Papa Miko kali ini.


“Entahlah Pa … rasanya Arine lebih menikmati hidup sendiri seperti ini,” balas Arine.


“Bayimu butuh Ayah Biologisnya juga, Rine,” ucap Mama Tika yang kali ini turut berbicara.


Arine akhirnya diam, juga karena dia cukup bingung dengan hatinya. Selama ini, Rendra juga sering menghubunginya dan menanyakan kehamilannya. Hanya saja, Arine ragu apakah memang Rendra siap untuk berkomitmen dalam sebuah pernikahan.


“Mama dan Papa mendoakan yang terbaik untukmu. Hanya saja pikirkan juga untuk bayi yang sekarang kamu kandung. Dia juga membutuhkan sosok Ayahnya. Memulai sama-sama dari awal jika kamu mau pun tidak menjadi masalah,” balas Mama Tika.


Dalam pandangan Mama Tika, itu jauh lebih baik daripada Arine melahirkan seorang diri tanpa suami. Lagipula, ketika anaknya tumbuh dewasa nanti, pastilah anak juga akan menanyakan sosok Papanya. Apalagi ketika mereka melihat teman-temannya memiliki Papa, tetapi seorang anak juga akan menanyakan sosok Ayahnya.


“Benar Rine … kalau mau kalian bisa menikah dan tinggal di luar negeri dulu sampai waktunya melahirkan nanti. Papa yakin bahwa Rendra akan setuju,” balas Papa Miko.


Arine menundukkan wajahnya, dan menghela nafas panjang. “Coba Arine memikirkan dulu dan bertanya kepada Rendra. Sebab, dengan perut Arine yang kian membesar, Arine juga tidak akan mungkin pulang ke Jakarta untuk menikah. Siapa pun di bandara bisa mengenali Arine. Menurut Arine, tempat ini yang cocok untuk Arine sekarang,” balasnya.

__ADS_1


Mungkin kali ini Arine mencoba luluh karena dia juga memikirkan bayinya. Walau dia bersikukuh, tetapi bayinya tetap membutuhkan Papanya. Menganggap pernikahan hanya formalitas saja mungkin itu jauh lebih baik, daripada anaknya tidak memiliki Papa.


__ADS_2