Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Diajak Serius


__ADS_3

"Jadi, gimana Andin, kesanmu kepada keluargaku?" tanya Evan kepada Andini.


Kini, keduanya sudah dalam mobil dan hendak kembali ke Agastya Property. Makan siang telah usai, dan Andin pun diterima dengan baik oleh keluarga atasannya itu.


"Baik ... apalagi Tante Sara yang lembut dan ramah," jawab Anaya.


Itu adalah penilaian secara objektif karena memang di matanya Tante Sara dalah sosok yang lembut dan juga ramah. Terlihat juga bahwa keluarga Agastya begitu welcome dengan orang lain. Tidak seperti Crazy Rich lain yang terkesan angkuh dan sombong. Keluarga Agastya justru terlihat begitu ramah dan tidak menganggap orang lain rendah dari mereka.


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Andin, Evan pun merespons dengan menganggukkan kepalanya. Dia sepenuhnya setuju karena memang Mamanya sebaik itu. Orang yang paling lembut yang pernah Evan kenal adalah Mamanya.


"Jadi, kamu sudah mengenal keluarga saya ... kapan nih, kamu mau ngenalin saya ke keluarga kamu," ucap Evan dengan tiba-tiba.


Rasanya begitu aneh, karena tentu tidak pernah terbersit adalah pikiran Andini bahwa dia harus mengenalkan Evan kepada keluarganya. Lagipula hubungan mereka hanya seorang atasan dengan sekretarisnya. Tidak ada hubungan lebih. Kalau pun ada, Andini juga tidak mau.


"Ha, maksudnya apa ya Pak?" tanya Andin dengan bingung.


Evan kemudian menepikan mobilnya ke bahu jalan untuk sesaat, pemuda itu kemudian menggerakkan jarinya di stir kemudi, dan kemudian menatap Andin.


"Begini Andin ... kamu tidak serius sama saya?"


Evan bertanya dan menatap Andini dengan begitu lekat. Rasanya di depan matanya hanya ada satu objek, dan itu adalah Andin. Sementara Andin yang mendadak mendapat pertanyaan seperti ini tentu saja merasa benar-benar bingung. Serius yang bagaimana yang hendak dimaksudkan oleh atasannya itu. Mereka juga kenal baru satu minggu, itu pun hanya sebatas kenal, tidak kenal luar dalam. Lalu, bukankah aneh, jika hanya satu minggu berkenalan dan sekarang diajak serius.


"Eh, serius yang gimana ya Pak? Saya kelihatannya gak paham deh," balas Andin.

__ADS_1


Evan pun menyunggingkan sedikit senyuman di wajahnya, "Ya, serius ... kamu dan saya. Gimana mau tidak? Rasanya orang tua kelihatannya juga tidak masalah," jawab Evan.


"Agaknya saya jadi tambah pusing deh Pak ... kan kita tidak saling kenal. Lalu, Bapak ngajak saya serius? Membina hubungan tidak semudah itu, Pak ... mereka yang sudah saling mengenal lama pun hubungan masih bisa kandas. Apalagi yang kenal baru satu minggu," balas Andin.


Ya, bagi Andin itu sangat tidak wajar. Baru juga kenal satu minggu dan sudah diajakin seriusan. Lagipula, dalam satu minggu ini juga yang ada Andin yang dongkol dengan Evan. Gimana mau serius jika yang Andin rasanya hanya sebal dan kesal kepada atasannya itu.


"Jangan-jangan Pak Evan ngajak saya seriusan untuk menutupi kedok Pak Evan yang sebenarnya belok yah? Kan biasanya cowok-cowok tampan sekarang ini tidak suka sama cewek cantik. Lebih suka dengan yang varietas dengannya," ucap Andin.


Dengan cepat Evan pun mengelak, "Belok gimana? Saya pemuda tulen dan orisinil. Ngaco saja, bilang saya belok," elaknya dengan sebal.


"Lalu kenapa ngajak anak gadis orang untuk seriusan? Bukannya tadi Mamanya Pak Evan juga bilang baru saya ya yang diajak di rumah? Bisa saja kan ngajakin saya seriusan hanya untuk kedok," balasnya dengan memincingkan matanya menatap Evan.


Evan kemudian menggelengkan kepalanya perlahan, "Makanya saya ajakin seriusan ... biar kamu tahu sendiri saya ini lurus atau bengkok. Biar kamu yang memberikan perhatian secara pribadi," jawab Evan.


"Pak Evan apa-apaan sih ... ayo Pak, kembali ke kantor. Ini jam makan siang hampir selesai loh," ucap Andin dengan melihat waktu di jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Santai saja ... kayak kamu tidak tahu saja, kamu sekarang pergi dengan siapa," balas Evan.


Kemudian Evan segera mengemudikan mobilnya lagi. Lalu lintas Ibukota kali ini cukup ramai, sehingga memang harus berhati-hati untuk mengemudi. Yang penting mengutamakan keselamatan untuk tiba kembali di kantor.


"Kamu sudah punya pacar, Din?" tanya Evan sembari fokus mengemudikan mobilnya.


"Sudah Pak ... pacar dari SMA," balas Andin.

__ADS_1


"Wah, kecewa dong saya ... saya pikir masih single. Cuma kan masih sebatas pacaran, berarti kalau ditikung boleh dong," balas Evan.


Lagi-lagi ucapan Evan itu terdengar aneh. Mungkinkah dia kepikiran untuk menjadi penikung untuk mendapatkan Andin?


"Pak Evan ini makin enggak jelas aja sih ngomongnya. Nikung-nikung, emangnya ada tikungan yang bisa Bapak lalui?" sahut Andin.


"Ada ... banyak tuh tikungannya. Gimana, mau enggak nih seriusan sama saya? Untuk cinta mah pelan-pelan saja, sama seperti pepatah bilang kalau cinta bisa ada karena terbiasa. Ini saya serius loh," ucap Evan.


Dalam hidup mungkin memang baru kali ini Evan begitu serius. Evan sendiri tak mengerti dorongan apa yang membuatnya berani sekali untuk mengajak Andin serius. Biasanya pemuda itu fokus untuk bekerja dan membantu bisnis property milik Papanya.


"Seriusan gimana maksudnya sih Pak? Perkataan Pak Evan itu ambigu banget ... saya yang dengar justru jadi pusing," balas Andin.


Gadis itu tampak melirik ke Evan dan memijat keningnya. Jujur, setiap omongan yang keluar dari mulut Evan yang ada justru membuatnya makin pusing. Ya, setiap omongan yang disampaikan atasannya itu seakan bermakna ganda.


"Serius pacaran maksud Pak Evan?" tanya Andin lagi.


"Bukan ... serius nikah. Saya enggak mau pacaran ... kalau mau nikah saja. Toh, pacaran lebih enak dan lebih nikmat setelah menikah. Halal mau ngapa-ngapain," balasnya.


"Bapak ngajak saya Taaruf?" tanya Andin lagi.


"Ya, kalau kamu mau ... saya tinggal datang ke rumah untuk melamar kamu kan?" balas Evan.


Andin menggelengkan kepalanya. Tidak tahu dengan jalan pikiran pemuda tampan yang wajahnya begitu tampan itu, tetapi sikapnya yang tidak mudah dimengerti. Bisa-bisa baru bertemu seminggu dan kini Evan justru mengatakan untuk mengajaknya serius. Andin sampai menghela nafas sepenuh dada, semoga saja pasokan oksigen untuk tubuhnya cukup karena terlalu pusing mencerna setiap perkataan Evan. 

__ADS_1


__ADS_2