Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Tertegun


__ADS_3

Andin cukup tertegun, kala Evan berkata bahwa pria itu memiliki akses untuk mendekati Andin, karena gadis yang dia sukai adalah Andin dan bukan Arine. Di sini, Andin merasa heran dengan Evan. Dalam waktu 12 bulan nanti mungkinkah Evan bisa menjaga hati dan perasaannya hanya untuk Andin. Bagaimana jika seiring dengan berjalannya waktu, Evan justru merasakan perasaan yang berbeda? Sungguh, Andin pun seketika merasa galau. Hanya saja, Andin memilih untuk diam.


Usai kesepakatan kedua belah pihak, kini Evan dan Andin sedikit mengobrol bersama di taman yang ada di samping rumah mewah itu. Evan tampak menatap Andin sesaat, “Aku sudah melakukannya,” ucapnya.


“Iya Pak Evan … hanya saja dengan konsekuensinya itu terlalu berat menurut saya,” balas Andin.


Dengan cepat Evan menggelengkan kepalanya, “Tidak … karena ada kalanya mangkir dari kesepakatan itu bisa datang dari mana saja. Jadi, lebih baik mengantisipasi terlebih dahulu,” balas Evan.


“Semoga saja tidak terjadi hal yang demikian,” balas Andin.


Evan pun menganggukkan kepalanya, “Andin, tunggulah saya yah … 12 bulan jika kita menjalaninya dengan tulus dan saling percaya, 12 bulan tidak akan lama. Saya janji, bahwa saya akan meminang kamu,” balas Evan.


Kali ini Andin rasanya sangat tertegun dengan ucapan Evan. Ada kalanya jika sedang berdua saja dengan Andin seperti ini, ucapan Evan yang memang masih terdengar formal, tetapi justru memberikan efek yang mendebarkan bagi Andin. Sekadar mendengar bahwa Evan berjanji bahwa dia akan meminangnya saja, seolah kepakan sayap kupu-kupu memenuhi hati Andin sekarang. Gerakan menggelitik, tetapi sensasinya sangat mendebarkan.


“Iya Pak Evan … saya akan menunggu,” balas Andin.


Evan menghela nafas, rasanya begitu lega. Toh, 12 bulan yang akan terjadi juga tidak ada kontak fisik dengan Arine, sehingga Evan percaya bahwa 12 bulan akan berlangsung dengan lebih cepat. Jika sama-sama menunggu dan memegang komitmen, semuanya akan bisa dijalani dengan baik.


“Pak Evan, jika Pak Evan menikah nanti, saya tidak akan menemani Pak Evan yah?”

__ADS_1


Andin kali ini meminta, karena bagaimana Andin tidak akan kuat melihat pria yang sudah mulai menarik perhatiannya akan mengucapkan akad untuk Kakaknya sendiri. Sungguh, hatinya sungguh tak kuasa untuk menyaksikannya.


“Baiklah, terserah kamu saja. Hanya saja, usai akad temani saya jalan-jalan yah,” balas Evan.


“Kenapa Pak? Bukankah suami harus menemani istrinya?” tanya Andin dengan begitu lugunya.


“Temani saya yah … mendinginkan kepala. Rasanya berat, Andin. Yang saya suka itu kamu, tetapi yang saya nikahi adalah kayak kamu,” aku Evan dengan jujur.


Sungguh, menjadi Evan pun tidak mudah. Mungkin bagi orang lain menikahi seorang wanita cantik dan populer adalah kebahagiaan tersendiri. Akan tetapi, tidak dengan Evan. Walau Arine begitu cantik dan populer, hatinya hanya dipenuhi oleh sosok Andin yang cantik dan sederhana.


“Kita lihat saja nanti, Pak Evan,” balas Andin.


Andin pun seakan tidak bisa memberikan kepastian karena memang apa yang direncanakan hari ini, ada kalanya tidak sesuatu dengan kenyataan. Oleh karena itu, Andin memilih untuk menunggu dan melihat apa yang akan terjadi saat hari H nanti.


Cukup lama keduanya sama-sama diam. Hanya saja kepala mereka dipenuhi dengan berbagai hal yang benar-benar kusut dan perlu untuk mereka urai. Akan tetapi, untuk mengurai semuanya juga membutuhkan waktu yang panjang.


“Andin, dalam 12 bulan ini, bisakah saya meminta satu hal?” tanya Evan dengan sungguh-sungguh.


“Hmm, meminta apa Pak Evan?” tanyanya.

__ADS_1


“Tolong jangan bermain-main dengan pria mana pun. Tunggulah saya. Sebab, saya pun juga tidak akan bermain-main dengan cewek mana pun. Bahkan bermain hati dengan Arine pun tidak,” ucap Evan.


Seakan Evan sedang berkomitmen kepada Anin untuk tidak bermain-main kepada wanita mana pun. Bahkan, dengan Arine sekalipun, Evan tidak akan bermain hati. Evan akan berusaha menunaikan pernikahan kontrak ini sebagaimana mestinya, tanpa melibatkan hati dan perasaannya.


“Baiklah Pak Evan … Pak Evan bisa saya percaya kan?” tanya Andin.


“Bisa, sangat bisa,” balas Evan tanpa ragu.


“Oke Pak … saya akan mempercayai Pak Evan, dan Pak Evan percayalah kepada saya. Saya akan menunggu Pak Evan sampai dua belas bulan usai. Semoga saja, janji hati Pak Evan untuk saya masih tetap sama,” balas Andin.


Setidaknya Andin menyadari bahwa hati manusia tidak bisa diprediksi. Hari ini hati meminta A, tetapi untuk beberapa waktu yang lain si Hati bisa mengharapkan hal yang lain. Rasanya ingin mendamba, tetapi terlalu mendamba jika berakhir dengan kekecewaan pun rasanya juga lebih menyakitkan. Andin hanya bisa berjanji bahwa dia akan menunggu Evan. Menunggu sampai Bosnya itu menyelesaikan kontrak pernikahan dengan kakaknya. Semoga saja, janji hati yang sudah terikrar ini bisa terlaksana.


“Terima kasih banyak Andin. Ini janji saya kepadamu. Tunggulah aku,” balas Evan.


Lagi-lagi mendengar ucapan Evan yang terlihat begitu tulus dan juga bersungguh-sungguh membuat Andin merasa tertegun dibuatnya. Sungguh, pesona putra sang CEO itu begitu menawan di mata dan di hati Andin.


“Baik Pak Evan,” balasnya dengan menganggukkan kepalanya secara samar.


“Saya pamit pulang yah … besok kita bertemu lagi di perusahaan. Jangan terlalu banyak berpikir yang aneh-aneh. Anggap saja saya sedang berjuang,” ucap Evan.

__ADS_1


Senyum simpul pun terulas di wajah Andin, “Selamat berjuang Pak Evan … semoga berhasil dan meraih semuanya dengan kemenangan,” balasnya.


Evan yang semula duduk pun kemudian berdiri. Pria itu menatap Andin dengan begitu lekat. Sungguh, obrolan yang ringan dan mengalir begitu, tetapi terkesan serius dan meninggalkan kesan yang mendalam. Hari ini cukup di sini, dan Evan akan kembali menemui Andin besok di perusahaan. Biarlah kontrak ini berjalan, jika memang ini jalannya, Evan akan menempuhnya jika di ujung jalan yang dia dapatkan adalah sosok Andin, Evan tak akan keberatan.


__ADS_2