Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Debaran Kecil


__ADS_3

"Progres data yang kamu input sudah berapa persen Andin?" tanya Evan kepada sekretarisnya itu.


"Lumayan sih Pak ... sudah setengah jalan. Ada apa Pak? Apa Pak Evan butuh sesuatu?" tanya Andin kepada Atasannya itu.


Evan tampak menggelengkan kepalanya. Sekarang sudah jam 19.00 malam, sudah waktunya untuk makan malam. Tujuan Evan bertanya tentu karena Evan ingin mengajak sekretarisnya makan malam bersama. Evan kembali fokus dengan pekerjaannya, sementara Andin juga jari-jarinya kian lincah untuk mengetik di papan keyboard itu. Setiap tuts yang dia tekan seolah menjadi dentingan tersendiri yang menemani lembur mereka.


Namun, kali ini konsentrasi Andin seolah terganggu. Itu semua karena Evan yang dalam diam curi-curi pandang kepadanya. Sungguh, dilirik Evan saja membuat jantungnya berpacu dengan lebih cepat, Andin percaya bahwa sekarang ini aliran darah yang dipompa jantung mengalir ke seluruh tubuh dengan lebih cepat pula. Andin berusaha fokus, walau Andin yakin ekor mata Evan tampak mengamati Andin.


"Pak Evan, apa butuh sesuatu?" tanya Andin lagi.


Bak kehilangan kata-katanya, Evan menggelengkan kepalanya, "Tidak," balasnya.


Akan tetapi, Andin akan bertanya lagi supaya Evan tidak meliriknya. Jujur saja, dilirik oleh Evan membuat Andin salah tingkah.


"Apakah AC-nya kurang sejuk?"


"Tidak."


"Apakah Pak Evan membutuhkan kopi?"


"Tidak."


"Lalu, kenapa Pak Evan melirik saya?"


Kali ini Andin memberanikan dirinya, itu semua karena Andin percaya bahwa ekor mata Evan tampak mengamati setiap pergerakannya. Sungguh, Andin salah tingkah. Daripada Andin mengintepretasikan yang bukan-bukan, lebih baik Andin bertanya langsung kepada Evan.

__ADS_1


"Kamu tahu?" tanya Evan dengan singkat.


"Iya, saya tahu," balas Andin.


Bagaimana tidak tahu, jika jarak tempat duduk keduanya tidak lebih dari tiga meter. Tentu saja, Andin bisa tahu sedari tadi Evan diam-diam mencuri pandang kepadanya.


"Pak Evan jangan membuat saya bingung," ucap Andin dengan jujur.


"Hmm, bingung seperti apa?" tanyanya.


"Pak Evan masih ingat dengan pernikahan kontrak Pak Evan dengan Kak Arine. Saya adik ipar, Pak Evan," balas Andin.


Sekali lagi Andin seolah mengingatkan Evan dengan pernikahan kontrak yang terjadi antara Evan dan Arine. Bagaimanapun, pria yang bersamanya sekarang adalah Kakak iparnya. Walaupun semuanya masih dalam area pernikahan kontrak.


Evan tersenyum kecil di sana, "Bagaimana kalau aku ingin membuatmu bingung, Ndin?" tanya Evan dengan tiba-tiba.


Andin menundukkan wajahnya disertai dengan helaan nafas yang terasa begitu berat. Sejurus kemudian, Evan tampak berdiri. Pria itu menatap Andin, kemudian membawa satu tangannya masuk ke dalam saku celananya, dan kemudian perlahan menapakkan kakinya berjalan ke arah Andin.


Sungguh luar biasa pesona putra CEO ini. Wajah yang tampan, alis hitam yang terlihat begitu simetris di wajahnya, juga gestur sebagai seorang pria sejati. Bagaimana gadis-gadis di luar sana tidak terpana, jika Evander Agastya setampan ini.


"Kamu bilang supaya aku tidak membuatmu bingung. Sayangnya, aku ingin membuatmu bingung Andin," balas Evan.


Kini pemuda itu sudah berdiri di hadapan Andin. Secara otomatis Andin menengadahkan wajahnya, menatap wajah atasannya yang begitu tampan itu. Kini kedua tangan Evan berada di punggung kursi yang ditempati oleh Andin. Evan sedikit menundukkan wajahnya, dan kemudian menatap Andin dengan begitu lekatnya.


"Andin," ucapnya dengan sepasang mata yang fokus hanya pada Andin saja.

__ADS_1


"Hmm, ya Pak Evan ... kee ... kenapa," tanyanya dengan jantung yang sungguh berdebar-debar seperti ini.


"Andin, kamu pernah berciuman?" tanya Evan dengan begitu absurbnya.


Andin memilih diam, karena dia juga tidak pernah melakukan ciuman itu akan seperti apa. Selama ini Andin fokus untuk kuliah, harapannya adalah bisa menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin.


"Diam berarti ... kamu bingung Andin?" tanya Evan lagi. Pria itu kian menunduk, seakan mengungkung Andin yang tubuhnya lebih kecil dan duduk di kursi kerja itu.


"Hemm, ya ... saya ... bingung," balas Andin dengan menunduk. Gadis itu sama sekali tidak berani menatap Evan di sana.


Evan tersenyum tipis. Memang begitu Evan, pemuda itu hanya tersenyum tipis. Namun, senyuman yang tipis dan kadang kala hanya terlihat di sudut bibirnya itu mampu menghadirkan sejuta pesona bagi kaum hawa yang melihatnya.


"Sayangnya, aku akan membuatmu kian bingung," balas Evan.


Perlahan Evan mendekat, memangkas jarak wajahnya dengan Andin. Pria itu terus menatap wajah Andin dengan bola mata yang berputar dan berkedip-kedip itu. Evan bisa merasakan bahwa Andin pun dalam posisi yang bingung. Ketika jarak wajah keduanya kian mendekat, bahkan wajah Evan sudah dalam posisi miring, Andin secara refleks memejamkan matanya.


Tubuhnya menjadi dingin, jantungnya lebih berdebar-debar sekarang ini. Nafas yang Andin hirup kian berat rasanya. Sementara terpaan nafas Evan yang hangat tampak menyapu sisi wajahnya.


Dalam hatinya Andin menjerit, "Pak Evan ... menjauhlah Pak Evan ... tolong!"


Sayangnya jeritan itu hanya Andin sendiri yang mampuĀ  mendengarkan. Evan kian mendekat, bahkan Evan benar-benar akan melabuhkan bibirnya untuk kali pertama di bibir seorang gadis. Evan tersenyum, tetapi saat bibirnya nyaris berlabuh di dua belah lipatan bibir Andin, handphonenya tiba-tiba berbunyi.


Evan menarik wajahnya dan mengusap wajahnya, sementara Andin perlahan membuka matanya perlahan. Bisa Andin lihat wajah Evan yang tersenyum di sana.


"Nyaris saja," balas Evan.

__ADS_1


Tangan Andin bergerak dan memegangi dadanya yang memang begitu berdebar-debar sekarang ini. Sungguh, tindakan Evan kali ini membuat Andin kian salah tingkah jadinya.


Kenapa atasannya itu begitu hobi membuatnya berdebar-debar? Jika terus seperti ini, bisa dipastikan ritme kinerja jantung Andin kian lama akan kian berantakan jadinya.


__ADS_2