
Rupanya hanya berselang beberapa hari dari penandatanganan kesepakatan itu, pihak keluarga Andin pun meminta Evan untuk datang ke rumah dan tujuannya sekarang adalah untuk mengucapkan akad. Sungguh, ini jauh lebih cepat dari yang Evan bayangkan. Lantaran hanya pernikahan kontrak, Evan pun merasa tidak perlu ada wali dari orang tuanya. Lagipula, seorang pria jika menikah juga tidak memerlukan wali. Untuk itu, Evan cukup memberitahu kepada Mama Sara dan Papa Belva bahwa hari ini dirinya akan menikah secara siri, sekadar di bawah tangan saja.
Mama Sara dan Papa Belva menatap punggung Evan yang berlalu pergi, kemudian Mama Sara pun mengalihkan pandangannya kepada suaminya, “Kenapa kisah masa lalu kita terulang Mas? Dulu, kamu hanya menikahiku untuk mendapatkan Evan. Sekarang lihatlah, anak yang lahir dari transaksi rahim sewaan juga akan melakukan pernikahan kontrak. Hanya pernikahan berjangka 12 bulan, sama saat kamu menikahiku dulu,” ucap Mama Sara.
Walau sudah menyerahkan semua kepada Evan dan percaya kepada Evan. Hanya saja ketika masa lalu kembali terulang, yang terasa tentu ada kepedihan. Putra sulung kebanggaannya itu harus menempuh jalan ini hanya untuk mendapatkan Andin.
“Harus bagaimana lagi, Sayang … Evan sudah menjatuhkan pilihannya. Lagipula, memang Evan itu anaknya berkemauan keras. Begitu dia menginginkan sesuatu, dia akan mengejarnya. Hanya saja, kali ini agaknya Evan begitu menginginkan Andin, sampai Evan rela mengambil jalan ini,” balas Papa Belva.
“Benar Pa … semoga saja, Evan tidak dijerat dalam hubungan tanpa cinta ini. Semoga Evan tetap teguh pada pendiriannya yang semula. Cuma, Mama sih kalau disuruh memilih, Mama lebih memilih memiliki menantu dari kalangan biasa saja. Bukan dari kalangan artis maupun selebritis yang banyak skandalnya. Lebih adem memiliki menantu dari kalangan biasa,” balas Mama Sara.
“Setuju Ma … memiliki menantu artis itu terlalu berisiko. Banyak gossip dan skandal. Lebih baik juga kalangan biasa saja. Syukur-syukur yang mau jadi Ibu Rumah Tangga di rumah,” balas Papa Belva.
__ADS_1
Bukannya tidak memperbolehkan menantunya bekerja, hanya saja memang Papa Belva merasa memiliki Mama Sara adalah anugerah tersendiri. Mama Sara memang memiliki gurita bisnisnya sendiri. Akan tetapi, setiap harinya Mama Sara berada di rumah. Hanya sesekali saja dia datang untuk mengecek perusahaan miliknya secara langsung. Bahkan dari muda, Mama Sara mengurus ketiga anaknya dengan tangannya sendiri. Tak pernah menggunakan jasa babysitter. Oleh karena itu, ketiga anak-anak mereka pun tumbuh dengan baik, mendapatkan pengasuhan secara langsung, diajari dengan nilai dan norma, dan juga orang tua yang menjadi partner untuk terus mengasuh anak sesuai kebutuhannya.
“Papa mah yang dilihat cuma Mama yang sehari-hari di rumah sih,” balas Mama Sara.
“Benar Mama Sayang … Papa beruntung dan bersyukur banget miliki Mama dalam hidup Papa. Lihatlah Evan, Elkan, dan Eiffel yang tumbuh dengan baik, itu semua karena pengasuhan kooperatif yang diterapkan oleh Mama,” balas Belva.
Jika di rumah, Mama Sara dan Papa Belva banyak berdiskusi mengenai kehidupan mereka dan melihat bagaimana ketiga anaknya terus berkembang. Di kediaman Sukmajaya, Arine sudah bersiap dalam kebaya putih sederhana. Menikahi Evan Agastya pun bukan keinginannya. Hanya saja, pria yang menghamilinya tidak bertanggung jawab. Pun demikian dengan orang tuanya yang juga tidak setuju.
“Hari ini tiba Pak Evan … akad akan Pak Evan ucapkan tidak lama lagi,” gumam Andin dengan lirih.
Di ruang tamu, Mama Tika dan Papa Miko sudah bersiap dan juga Arine yang juga sudah bersiap. Hanya pemuka agama dari masjib terdekat yang menjadi saksi nikah bagi keduanya. Sementara Evan pun juga sudah tiba. Pemuda tampan itu segera mengambil tempat duduk di sisi Arine. Menatap pengantinnya pun tidak. Justru pandangan mata Evan mengedar dan mencari sosok keberadaan Andin. Hanya saja, Evan teringat bahwa memang Andin sudah mengatakan kepadanya bahwa Andin tidak akan turut hadir. Andin tak kuasa melihat Evan harus menikahi kakaknya sendiri.
__ADS_1
“Bisa kita mulai?” tanya Papa Miko.
Baik Evan dan Arine sama-sama menganggukkan kepalanya, “Ya,” sahut Arine dengan lirih.
“Saya nikahi kamu untuk jangka waktu 12 bulan lamanya,” ucap Evan.
Ya, demikian nikah kontrak. Akad yang diucapkan pun tidak sama dengan nikah yang sesuai dengan syariat Islam. Cukup mengatakan menikahi dan bukan mengawini, durasi waktunya pun akan disebutkan.
“Ya, saya terima,” balas Arine perlahan.
Sungguh, Evan bukan pemuda yang dia inginkan untuk menjadi suaminya. Secara kontrak pun tidak. Hanya saja, semuanya terjadi begitu saja. Arine juga kadung hamil dan kehamilannya hampir berusia 3 bulan. Dia hanya perlu menikah untuk menghindari aib yang bisa saja merusak reputasi karirnya dan juga merusak nama besar Papanya sebagai salah seorang pengusaha di Indonesia.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam kamarnya, Andin merasa sesak. Benar, dia tidak melihat akad nikah kontrak itu secara langsung. Akan tetapi, seolah-olah Andin telah melepaskan Evan untuk kakaknya sendiri. Seolah-olah terngiang suara Evan di telinganya. Sungguh, ini adalah hari yang berat untuk Evan, Andin dan juga Arine. Ikatan ini juga hanya menjerat salah satunya, tetapi menjerat ketiganya sekaligus. Ikatan yang sukar, tetapi harus tetap berjalan sampai masa 12 bulan nanti. Semoga saja, semua berjalan sesuai dengan rencana dan semua akan kembali di tempatnya masing-masing.