Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Kali Kedua


__ADS_3

Kurang lebih dari satu jam, keduanya masih berbaring dengan selimut yang masih mengcover tubuh keduanya. Akan tetapi, agaknya Evan masih merasakan debaran bersama dengan Andin di sana. Pria itu merasakan bahagia, dan ada rasa dorongan hasrat untuk memulai percintaan lagi dengan Andin.


“Mau langsung tidur atau gimana Andin?” tanya Evan kemudian.


“Pengen mandi sebenarnya Mas … lengket. Cuma, aku gak yakin bisa berjalan deh, bagian sini nyeri,” ucapnya dengan mendesis dan memang terasa begitu nyeri.


Evan yang mendengar keluhan dari Andin nyatanya justru tersenyum tipis di sana. “Mandi yuk … barengan,” ucapnya yang seakan mendapatkan ide brilian dalam otaknya.


Jika untuk kali pertama memulai, Evan merasa begitu gugup. Kini tidak lagi, rasanya otaknya berkinerja dengan sangat baik hingga terlintas untuk mengajak Andin mandi bersama. Tentu yang dimaksudkan oleh Evan bukan hanya sebatas mandi. Hanya sebuah alasan saja.


“Sendiri-sendiri saja Mas … malu,” balasnya.


Lagi, Evan tersenyum tipis, “Aku bisa melihat semuanya. Serius … enggak apa-apa, yuk,” balasnya.


Rupanya, Evan segera berdiri dan menyingkap selimut yang semula dia kenakan. Setelahnya, Evan juga menyingkap selimut yang dikenakan oleh Andin dan kemudian segera membopong istrinya itu ke dalam kamar mandi. Sedikit menjerit, karena Andin tidak mengira bahwa Evan sekarang membopongnya dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


“Mas,” ucap Andin sedikit meronta.


“Tidak apa-apa. Nanti waktu bobok biar segar,” balasnya.


Andin akhirnya hanya bisa menundukkan wajahnya, dan juga memilih diam. Begitu sampai di dalam kamar mandi, Evan menurunkan Andin di depan wastafel dengan kaca yang super besar di sana. Di dalam hatinya, Evan tersenyum karena bisa menatap tubuh Andin di sana. Lekuk-leku feminitas yang indah dan pinggangnya yang ramping.


“Dimatikan saja lampunya, Mas,” pinta Andin kali ini.


“Mana bisa di kamar mandi gelap-gelapan, Andin … tidak bisa,” balasnya.

__ADS_1


“Malu,” balas Andin lagi.


Akan tetapi, Evan menggelengkan kepalanya, “Sudah … biasa saja. Aku halal bagimu,” balasnya.


Andin pun hanya bisa mende-sah pasrah dengan kelakuan suaminya itu. Setelahnya, Andin memilih menggosok giginya terlebih dahulu dan mencuci muka. Sementara Evan tampak mengisi bath up dengan air suhu ruangan dan memberikan bath bomb yang beraroma buah di sana.


Menunggu bath bomb berubah menjadi busa, Evan juga memilih untuk membersihkan mukanya dan juga menuntaskan ritual lainnya. Setelahnya, Evan masuk ke dalam bath up. Pria itu membasahi tubuhnya dengan air bercampur busa. Menggosok-gosok badannya dengan busa di sana. Sementara, begitu Andin sudah selesai, Evan tampak mengulurkan tangannya kepada Andin.


“Sini,” ucapnya.


Dengan ragu, Andin pun memasuki bath up itu. Satu bath up ditempati dua orang tentu saja mengoyak air dan busa yang ada di sana.


“Jangan menjauh Andin … kamu takut dan menjaga jarak dengan suamimu sendiri?” tanya Evan kemudian.


Andin mendekat, rupanya Evan membawa Andin duduk di pangkuannya dan menghadap ke arahnya. Nyaris tidak ada jarak dari tubuh basah keduanya.


Ya Tuhan, rasanya pun Andin justru tak bisa mendeskripsikan kegiatan berbasah-basahan dengan suaminya dalam posisi sedekat dan seintim ini. Tubuh yang saling menempel satu sama lain, mata yang saling memandang, dan bibir yang tak henti-hentinya memberikan sapaan hangat.


Feeling Evan kali ini sangat baik, hanya saja dia tidak ingin mengedepankan hasratnya yang kian memuncak. Dia akan mengikuti alur yang tercipta. Hanya saja, tangan-tangan Evan bergerak dan menyisir lekuk-lekuk feminitas milik Andin. Meraba paha bagian dalam, memberi remasan di dada Andin, dan juga jari telunjuk Evan dengan memberikan gesekan di lembah milik Andin.


“Mas  ... Evan,” ucap Andin dengan nafas yang seakan tertahan. Bahkan cengkeraman tangan Andin di leher dan bahu pria itu kian kuat. Sentuhan demi sentuhan yang diberikan Evan benar-benar berhasil membuat bulu romanya berdiri. Sentuhan yang membangkitkan gelenyar asing dalam dirinya.


“Hmm,” balas Evan. Pria itu tersenyum melihat wajah berselimut kabut milik istrinya.


“Kamu makin cantik sih, Honey … ini bertambah besar,” ucap Evan dengan meremas dua buah persik milik

__ADS_1


Kini pria itu mengangkat sedikit pinggul Andin, dan memasukkan pusakanya ke dalam cawan surgawi milik Andin. Keduanya sama-sama menahan nafas merasakan sesuatu yang penuh, hangat, dan tentunya basah di bawah sana.


“Gerakkan pinggulmu perlahan, Sayang,” pinta Evan kali ini.


“Slowly saja … jangan cepat-cepat,” sambung Evan lagi.


Dengan helaan nafas yang kian terasa berat, Andin menggerakkan pinggulnya. Gerakan seduktif di dalam bath up yang justru mengoyak perpaduan air dan busa di dalam bath up itu.


“Oh, Mas Evan,” balas Andin yang merasakan badai dingin yang menerpanya.


“Cantik,” balas Evan dengan tatapannya yang nakal.


Tentu ini hanya kenakalan yang Evan tunjukkan secara khusus kepada Andin. Kenakalan seprang suami yang memuja istrinya itu.


Gerakan pinggul Andin yang menghasilkan gesekan demi gesekan membuat Andin beberapa kali mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya. Tangannya berpegang kuat-kuat di bahu suaminya itu.


“Astaga, Andin ... oh Andin,” balas Evan kali ini.


Ketika kehangatan air di dalam bath up berkurang, nyatanya sekarang tubuh Evan dan Andin sama-sama hangat, tidak terpengaruh dengan kehangatan air di dalam bath up yang kian berkurang. Air yang terkoyak, busa-busa yang berceceran di lantai, de-sahan dan lenguhan yang terdengar memenuhi seisi kamar mandi itu benar-benar membuat sore hari itu bergelora. Kini, saat Andin kian terengah-engah. Evan yang menggerakkan pinggulnya. Memberikan sodokan demi sodokan, hujaman demi hujaman, mandi basah yang benar-benar berbalut kenikmatan.


Gerakan seduktif yang dilakukan Evan kian kacau, tetapi dirinya masih berusaha menahan. Evan memberikan hujaman, tusukan, bahkan sodokan dengan lembut, dan berusaha menikmati puncak asmara bersama. Sampai di batas, pusaka yang di bawah sana berkedut, Evan pun memuntahkan pijaran lava yang tersembunyi di dalam pusakanya.


Rengkuhan Evan kuat menguatkan. Keduanya sama-sama pecah, meledak, di waktu yang bersamaan.


“Love U So Much,” ucap Evan sembari merengkuh tubuh Andin.

__ADS_1


“Too,” balas Andin.


Sungguh, keduanya benar-benar merasakan euforia pengantin baru yang begitu bergelora. Mandi panas basah-basahan yang membuat keduanya sama-sama meneguk nektar cinta yang begitu manis. Tentu ini bukan sekadar hubungan suami istri, karena Evan benar-benar menyentuh Andin dengan sepenuh hati. Mengedepankan kenyamanan istrinya. Melakukan aktivitas halal di malam pertama yang sudah sepenuhnya sah!


__ADS_2