Terjerat Pernikahan Kontrak

Terjerat Pernikahan Kontrak
Menarik Batas


__ADS_3

"Jadi, menurutmu kita harus bagaimana?" tanya Evan.


"Berdiri di posisi kita masing-masing seperti ini, Pak," balas Andin.


Tampak Andin menghela nafas dan kemudian menatap pada lautan lepas di hadapannya. "Mari kita sama-sama bersikap profesional. Di perusahaan kita adalah atasan dan sekretarisnya, di luar itu kita adalah saudara ipar. Lagipula, saya sendiri juga belum tahu perasaan apa yang saya rasakan sekarang. Hanya saja, saya jujur merasa tidak rela Pak Evan menikah dengan Kakak saya," balas Andin.


Ya, rasa cinta mungkin belum juga ada. Rasa cinta yang belum dihadirkan dalam hati keduanya. Hanya saja, Andin mengakui bahwa dirinya merasa tidak rela Evan menikah dengan Kakaknya sendiri.  Hatinya benar-benar tidak menginginkan itu. Secara, dialah yang kali pertama bertemu Evan. Dialah yang mendapatkan janji untuk diajak serius, tetapi yang terjadi sama sekali tidak diharapkan.


"Apakah memang harus begini?" tanya Evan kemudian.


"Iya, harus Pak ... mungkin kita bisa sama-sama bersikap profesional. Mungkin saja dalam masa dua belas bulan, saya bisa mengenal Pak Evan lebih baik dan bisa merasakan perasaan suka itu," balas Andin.


Ya, Andin sendiri masih begitu muda. Usianya saja masih 21 tahun, oleh karena itu Andin pun berharap bahwa dia bisa merasakan jatuh cinta. Siapa tahu dengan mengenal Evan lebih baik, bunga-bunga cinta itu akan bermekaran di dalam hatinya. Sehingga, kala pernikahan kontrak Evan dengan Kakaknya usai, mungkin saja Andin akan merasakan cintanya untuk Evan.


"Baiklah," balas Evan pada akhirnya.


"Deal ya Pak Evan ... kita lakukan semuanya dengan profesional. Saya akan berusaha dengan sebaik mungkin," balas Andin.


"Iya, cuma kamu juga tidak boleh menutup akses untukku mendekatimu. Sebab, saya jujur tertarik padamu, Ndin," balas Evan lagi.


Andin menganggukkan kepalanya. Dia pikir jika hanya sekadar mendekati tidak masalah. Yang penting tidak berlaku terlalu jauh. Walau hati menginginkan lebih, tetapi mereka harus berpikir logis dan juga rasional bahwa semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya. Pun demikian dengan Evan, yang juga harus menahan dirinya.

__ADS_1


"Andin, bolehkah saya bertanya?" tanya Evan kali ini.


"Ya, silakan Pak ... jika saya bisa menjawab sudah pasti saya akan menjawabnya," balas Andin.


"Apakah orang tuamu tidak menyayangimu, kenapa pernikahan kontrak ini seolah-olah menghiraukan perasaanmu begitu saja. Bukankah seharusnya mereka menanyai keputusanmu terlebih dahulu?" tanyanya.


"Saya tidak tahu, Pak ... cuma memang beginilah keluarga kami, Pak. Papa yang sibuk bekerja dengan bisnisnya, Kak Arine yang syuting setiap hari, dan saya dan Mama yang sering berada di rumah. Hanya saja, Papa berkata tidak ada pria yang bertanggung jawab kepada Kakak dan kalau bertanggung jawab, Papa tidak mau karena dia adalah anak rival bisnisnya Papa. Saya tidak tahu Pak ... Papa berpikir demikian pun atas dasar apa, saya juga tidak tahu," balas Andin.


Sejauh ini Evan kemudian merumuskan satu hal bahwa mungkin saja di dalam keluarganya Andin adalah anak yang kurang disayangi dan diperhatikan. Buktinya Andin diminta untuk mengalah demi reputasi dan popularitas Kakaknya. Namun, bukankah artis yang hamil, dengan bertambahnya bulan perutnya juga akan semakin kelihatan?


"Bagaimana jika dengan bertambahnya bulan, perut Arine akan kelihatan? Bukankah dia juga harus pensiun dari dunia keartisannya?" tanya Evan.


"Tidak tahu Pak ... mungkin saja Kak Arine akan mulai memikirkan semuanya itu," balas Andin.


"Ya, tentu saja boleh. Ada apa?" tanyanya.


"Saya merasa suka dengan keluarganya Pak Evan. Papanya Pak Evan seorang pengusaha, tetapi terlihat bagaimana Papanya Pak Evan begitu mencintai Tante Sara dan juga menyayangi Pak Evan dan Kak Elkan. Sementara Tante Sara sendiri begitu lembut dan ramah. Sewaktu saya ke rumah Pak Evan dan ikut makan siang itu, hati saya terketuk. Di rumah kami tidak ada makan bersama seperti itu. Jadi, saya rindu saja bisa makan siang dengan Papa, Mama, dan Kakak saya. Itu hanya sebuah keinginan kecil, tetapi tak pernah bisa saya dapatkan karena Papa yang sibuk dan Kakak yang syuting," cerita Andin pada akhirnya.


Memang keluarganya kaya raya. Akan tetapi, Andin merasakan ada kekosongan di dalam hatinya. Dia juga mendambakan kebersamaan keluarga yang seperti itu. Kasih dari pasangan suami istri yang besar dan tersalurkan dengan baik kepada anak-anaknya. Mungkin Andin mengakui dirinya salah, karena jika Evan menikahinya, Andin ingin merasakan tulusnya kasih sayang dan perhatian seperti itu.


"Kami memang kaya raya. Sejak kecil, apa yang saya mau, sudah pasti Papa bisa membelikannya. Bahkan peralatan sekolah saya selalu yang termahal dibandingkan teman-teman saya. Akan tetapi, saya rindu diantar sekolah sama Papa, menghabiskan akhir pekan dengan Papa, atau bahkan menjabat tangannya ketika hendak berangkat sekolah. Itu semua hanya kegiatan sehari-hari dan seolah kecil, tetapi saya menginginkannya. Hal-hal seperti itu begitu mahal bagi saya," balas Andin.

__ADS_1


Kali ini Evan mengerti bahwa ada kekosongan di hati Andin sebagai seorang anak. Kasih dalam keluarga yang nyatanya tidak utuh. Pemenuhi materi, tetapi tidak diikuti dengan pemenuhan afeksi (kasih sayang) dari orang tua kepada anak. Akibatnya ya anak merasa tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Anak merasa bahwa kehidupannya di dalam rumah hanya dipenuhi materinya, padahal yang anak butuhkan adalah lebih dari semua itu.


"Ironis ya Pak ... cuma ya inilah kami. Keluarga sukmajaya yang kaya raya, tetapi di dalam rumah seorang anak bungsu merasa kehilangan figur seorang Papa dalam keluarga," lanjut Andin lagi.


"Sabar Ndin ... kamu harus bisa berdamai dengan keluarga kamu dan kebiasaan itu. Jika tidak akan ada inner child yang akan selalu kamu bawa dan berpengaruh kepada cara kamu mengasuh anak-anak nanti. Tidak mudah memang bertahan dan bersabar dalam situasi yang pelik, tetapi kita harus memiliki daya tahan untuk selalu bertahan," balas Evan.


"Benar Pak ... maafkan saya, ini hanya sebatas saya bercerita saja. Jika sudah, lupakan saja Pak ... tidak usah dimasukkan ke dalam hati. Masalah hidup Pak Evan sudah banyak, saya justru menambah-nambahi," balas Andin.


Evan dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Tidak ... saya justru suka kamu bercerita kayak gini. Ya sudah, kapan-kapan saya ajak makan siang ke rumah saya lagi yah. Mungkin saja itu bisa mengobati rasa kosong di dalam hati kamu itu," balas Evan lagi.


"Terima kasih Pak Evan," balas Andin.


"Sama-sama," balas Evan.


Kemudian keduanya melanjutkan untuk menyisir pantai. Evan mengajak Andin untuk meminum air kelapa muda yang tentunya akan lebih menyegarkan mereka berdua. Kali ini mereka sama-sama diam, lebih meminum air kelapa muda dan menikmati terpaan angin di pesisir pantai itu.


"Ada tempat yang ingin kamu datangi Ndin?" tanya Evan kepada sekretaris dan Adik iparnya itu.


"Tidak Pak ... antar saya untuk pulang saja," balasnya.


"Baiklah ... Senin kita bertemu lagi di kantor yah," balas Evan.

__ADS_1


"Iya Pak," sahutnya.


Kini garis batas sudah ditarik. Di kantor keduanya adalah Bos dan sekretaris. Di luar itu mereka adalah Kakak Ipar dan Adik Ipar secara kontrak. Hubungan yang pelik, tetapi harus dijalani untuk waktu dua belas bulan ke depan.


__ADS_2