
...🍁🍁🍁...
Semua orang berdebar saat mendengar ucapan Savana yang mengatakan bahwa semua gelap dan dia meminta agar dinyalakan lampu.
Elena syok, ia langsung menggenggam kedua tangan Savana. Bulir air mata terus jatuh dari membasahi pipinya. "Van, ini aku Van! Aku disini, kau melihatku kan?" tanya Elena dengan harapan bahwa apa yang ia pikirkan itu salah.
Javier, Leo dan Alexa juga terlihat tegang saat melihat Savana. Cemas, takut, berdebar. Semua rasa berkecamuk didalam hati mereka yang ada disana.
"Elena... bagaimana bisa aku melihatmu sedangkan semuanya gelap? Tolong kau nyalakan lampunya, aku tidak suka gelap." pinta Savana dengan mata mengarah ke mana-mana. Bukan pada Elena.
"Astaga!" pekik Alexa yang tidak bisa menahan rasa syoknya. Sontak ia menutup mulutnya yang menganga, bulir air mata pun jatuh juga.
"Elena...om, tolong nyalakan lampunya!" seru Savana lagi karena semua gelap baginya. Ia tak bisa melihat apa-apa.
"Van...maafkan aku, maaf...aku minta maaf...hiks.." sesal Elena sambil memeluk Savana. "Aku tidak sengaja mendorongmu, sungguh...maaf..."
"Elena..."
Javier juga miris melihat ini, ia tidak bisa mengkondisikan raut wajahnya saat ini yang sedih dengan kondisi Savana. Gadis itu sepertinya buta.
"Savana, apa kau bisa melihat om?" tanya Javier dengan berat hati, memastikan apakah Savana benar-benar kehilangan penglihatannya atau tidak.
"Bagaimana aku bisa melihatmu om? Cepat nyalakan lampunya, aku tidak tahan... kumohon." pinta Savana lirih, gadis itu sudah hampir menangis karena tak tahan gelap gulita ini.
Savana takut gelap, Elena dan Javier tau benar. Bahkan saat tidur saja, lampu harus di nyalakan walau lampunya temaram sekalipun. Savana juga tergolong penakut dengan hal-hal berbau gaib. Dan sekarang dia buta?
Oh Tuhan!
Savana mendengar isak tangis disana, terutama Elena yang berada disampingnya. Savana bertanya-tanya ada apa dan kenapa semua gelap.
"Kenapa kau menangis Elena? Kenapa kalian... kenapa aku..." Savana kebingungan, kemudian ia pun beranjak untuk turun dari ranjangnya karena merasa sendirian.
Semua orang memperhatikan pergerakannya, terutama Elena dan Javier. Mereka memegangi tangan Savana, memintanya agar tidak pergi kemana-mana.
"Savana kau disini saja!" titah Javier pada kekasihnya itu. Kemudian ia menatap Leo. "Leo panggil dokter, cepat!" seru Javier.
"Baik!" sahut Leo, kemudian pria itu berlari keluar dari ruang rawat Savana.
__ADS_1
Savana mulai meneteskan air matanya, ketika ia menyentuh kedua kelopak matanya yang jelas-jelas terbuka. Tapi kenapa ia tidak bisa melihat apapun? Kenapa gelap?
"Aku... apakah aku buta? Semuanya...gelap..." gumam Savana sambil mencolok colok matanya. Mencoba memahami apa yang terjadi pada dirinya.
"Van...jangan...kau bisa melukai matamu!" seru Alexa sambil menangis, ia tak tega melihat sahabatnya kehilangan penglihatan dan melukai dirinya sendiri. Disisi lain Elena tak bisa bicara karena masih syok dan tak tahu harus bicara apa pada sahabatnya itu.
'Ini semua karenaku, karena aku Savana begini' batin Elena merasa bersalah.
"Aku tidak bisa melihat! Kenapa semuanya gelap? KENAPA GELAP?!" Savana berteriak histeris sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya. "TIDAK!! ARGGGGH!"
Semua orang panik melihat Savana histeris dan berteriak-teriak, tidak ada yang berani menenangkan Savana sebab semuanya sedang syok. Elena, Alexa menangis terisak-isak. Akhirnya Javier lah yang maju untuk menenangkan Savana. "Tenanglah Savana! Aku disini, semua akan baik-baik saja... tenang ya?"
Suara dan dekapan hangat dari Javier sedikit menenangkan Savana. Gadis itu terdiam, meski air mata terus mengalir dari kedua matanya yang saat ini tidak bisa melihat dunia lagi.
"Savana..." lirih Javier dengan penuh kasih sayang.
"Semuanya gelap, gelap..." tangan gadis itu terkulai lemas di dalam pelukan Javier, matanya terpejam.
Elena, Alexa dan Javier sesak dan sakit melihat Savana seperti ini. Apalagi Elena yang merasa bersalah pada Savana, ia tidak sengaja mendorong sahabatnya itu. Rasa bersalah Elena kian membesar.
Ketika semua orang berada di luar ruang rawat Savana, menunggu tim medis memeriksa Savana. Alexa langsung mencecar Elena dengan banyak pertanyaan tentang Savana.
"Iya...aku, memang aku yang sudah mendorongnya. Aku penyebab semua ini, hiks." Elena masih menangis, ia benar-benar diliputi rasa bersalah yang besar dan kasihan pada Savana. Bagaimana jika Savana buta permanen? Apa yang akan terjadi nanti? Elena pasti tidak bisa hidup lagi.
"Aku percaya kau tak sengaja El. Tapi pertengkaran macam apa yang membuat kalian sampai seperti ini? Apa karena Mommy-mu?" tebak Alexa sambil duduk di samping Elena. Akhir-akhir ini Savana curhat padanya bahwa hubungannya dan Elena merenggang karena Savana salah bicara saat membahas Elisa.
"Tidak...ini karenaku sendiri yang terlalu berlebihan. Aku yang salah Alexa, aku yang bodoh karena sudah percaya pada mommyku. Padahal dia tidak sebaik yang aku pikirkan!" Elena menundukkan kepalanya dan bertumpu pada pahanya.
"Sudahlah, yang penting kau sudah tau semuanya kan? Jadi, sekarang kita doakan saja semoga Savana tidak mengalami buta permanen dan masih bisa disembuhkan." ucap Alexa dengan hati yang sesak saat mengucapkannya.
Sementara itu Javier tengah berdiri didepan ruang rawat, ia sama galaunya dengan Elena. Ia tidak tega melihat kekasih kecilnya seperti ini.
Setelah hampir setengah jam menunggu, akhirnya seorang suster keluar dari ruangan itu dan meminta semua orang untuk masuk karena Savana yang memintanya. Gadis itu sudah siuman dengan kondisi yang sudah lebih tenang daripada tadi.
Ia berbaring diatas ranjangnya, ditemani dokter yang baru saja memeriksa kondisinya. Percayalah, bahwa Savana kuat. Buktinya dia sudah tenang sekarang. Savana kuat, tapi tidak dengan Elena yang merasa bersalah. Ia tidak kuat, bahkan sampai saat ini ia masih menangis. Padahal Javier sudah meminta putrinya untuk tenang dan tidak sedih, setidaknya didepan Savana.
"Dokter, bagaimana kondisi sahabat putri saya?" tanya Javier. Pria itu belum bisa mengakui statusnya dan Savana disaat seperti ini.
__ADS_1
"Begini semuanya, jadi nona Savana mengalami benturan keras pada bagian kepala yang ternyata adalah fatal pada bagian syaraf mata dan menganggu retinanya sehingga nona Savana mengalami kebutaan." tutur sang dokter dengan raut wajah sedih.
Atensi semua orang di ruangan itu sontak menoleh tajam pada sang dokter yang menggantung ucapannya disana.
"Tapi kalian tenang saja, kebutaan ini tidak bersifat permanen dan bisa sembuh. Satu-satunya adalah dengan operasi mata dan operasi kepala. Tentu saja, nona Savana harus menemukan donor mata yang tepat untuk operasi itu."
Kali ini penjelasan dokter, cukup membuat hati Elena, Javier, Alexa dan Leo tenang. Walau hanya sedikit, sebab Savana tidak buta permanen dan masih ada jalan agar Savana bisa melihat lagi. Meskipun begitu, Elena tetap merasa bersalah.
"Kalian sudah dengar kan? Aku nanti bisa melihat lagi, jadi kalian jangan sedih ya." Savana tersenyum tenang, matanya menatap ke arah berlawanan dengan tempat dimana orang-orang berada.
Mereka masih memandangi Savana dengan sedih, sayangnya Savana tidak melihat itu. Nyatanya senyum Savana tidak membuat semua orang merasa lebih baik.
"Ya, kau pasti akan sembuh. Aku akan mencarikan donor mata untukmu, jadi bisakah kau bertahan sebentar?" Javier mengusap lembut kepala Savana. Ingin sekali ia mengecup kening gadis itu, tapi disana masih ada semua orang.
"Terimakasih om." jawab Savana dengan senyuman tipis yang terbit dibibir pucatnya.
'Aku tak boleh membuat Elena semakin sedih karena rasa bersalahnya. Tidak boleh' batin Savana.
"Aku akan baik-baik saja dan aku akan menunggunya." Savana meraba-raba ke depannya, ia mencari-cari keberadaan Elena dan Alexa.
"Kau mencari siapa Savana?" tanya Javier.
"Elena dan Alexa, apa mereka pergi om? Aku tidak mendengar suaranya?" tanya gadis itu polos.
"Kami disini...hiks." jawab Alexa dan Elena bersamaan. Mereka mendekati Savana dan memegang tangan gadis buta itu.
"Sudah sudah jangan menangis lagi, nanti make up kalian luntur. Bukankah kalian selalu takut dengan make up yang luntur?" canda Savana ditengah kesedihannya saat ini. Ia tak mau membuat semua orang cemas.
"Ish... kosmetik ku ini mahal dan ku beli dari Paris. Tidak mungkin luntur!" kata Alexa sambil berusaha tersenyum.
Sementara Elena masih belum bisa bicara apapun, ia juga sedang berusaha tegar saat ini.
Setelah itu Javier dan Leo keluar dari ruang rawat Savana karena sudah ada yang menjaga gadis itu disana. Lalu Javier segera memerintahkan Leo untuk mencarikan donor mata untuk Savana secepatnya. Ia tidak bisa membiarkan keadaan Savana seperti ini terus.
"Aku akan menemukan donor mata itu untukmu baby girl, kau tenang saja." gumam Javier sambil tersenyum tipis.
...****...
__ADS_1
Mohon bersabar, konflik nya gak berat-berat kok...malah belum sampai ke puncak 😍 So nikmatin alurnya yes... dan jangan lupa komen 😍😍