
...🍀🍀🍀...
Savana duduk di sofa ruang tengah, ia membaca surat dari neneknya. Disana masih ada Steve yang siap menjadi sandaran untuk putrinya, apabila gadis itu menangis lagi. Steve, dia tidak membawa anak dan istrinya sebab dia datang kesini secara diam-diam. Emma dan Emily pasti akan marah dan berbuat ulah, bila mereka tau Steve menemui Savana.
Gadis itu pun mulai membaca suratnya, matanya mulai meneteskan buliran hangat. Javier melihat Savana dari kejauhan, ia ingin sekali memeluk kekasihnya. Tapi jika itu ia lakukan disaat seperti ini, yang ada Savana akan marah dan keadaan jadi kacau. Savana melarang Javier memberitahu tentang hubungan mereka pada siapapun juga, terutama Elena.
Untuk Savana
Untuk pretty girlku tersayang...
Hahaa...aku biasanya tidak bisa mengatakan hal manis ini, tapi taukah kau nak? Aku sangat menyayangimu melebihi apapun yang ada di dunia ini. Kau adalah cahaya nenek, kau adalah si imutku. Maafkan nenek nak, nenek tidak bisa menepati janji nenek untuk melihatmu menikah, apalagi menimbang cicit. Sebab bila kau sampai membaca surat ini, nenek pasti sudah tidak ada di dunia ini lagi. Tapi nenek harap kau selalu bahagia nak, nenek selalu mendoakanmu dimanapun aku berada.
Jangan lupa untuk makan teratur, makanlah nasi jangan makan junk food terus. Tetaplah jalankan hobimu, apa yang kau suka. Jangan dengarkan kata orang lain, kau berhak bahagia. Dan nenek harap kau bisa menjaga diri baik-baik. Savana, jangan pula membenci ibu dan ayahmu. Nenek tau kau benci mereka, tapi janganlah kau hidup dengan rasa benci pada kedua orang tuamu. Ingat! Kalau bukan karena mereka kau tidak akan ada di dunia ini, mereka punya alasan kenapa mereka bersikap begitu padamu, nak. Nenek tau kau tidak bisa melupakan apa yang mereka lakukan, tapi kau bisa memaafkan bukan? Nenek harap begitu, sebab hidup dalam dendam, hanya akan membuatmu menderita. Percayalah sayang, bahwa semua yang kita alami dan kita lakukan di dunia ini. Pasti ada balasannya, mau itu perbuatan baik ataupun yang buruk. Dibalik kesedihan ada kebahagiaan, ada hal yang indah menantimu. Ketika kau bersedih akan ada sejuta kebahagiaan untukmu, kau anak baik dan nenek percaya kau akan bahagia.
Maafkan nenek Savana, maafkan nenek karena nenek sudah merahasiakan penyakit ini darimu. Itu karena nenek tidak mau kau bersedih nak. Tolong relakan kepergian nenek, agar nenek bahagia. Nenek mencintaimu sayang.
Salam cinta Martha.
Isi surat itu sukses membuat Savana kembali terisak dalam kesedihannya. Kepergian sang nenek sungguh membuatnya berduka. Wanita tau yang melimpahkan kasih sayang padanya dari kecil, kini sudah tidak ada lagi.
"Kenapa...hiks...kenapa nenek tidak bilang kalau nenek sakit...hiks..." Savana menangis tersedu-sedu dan Steve segera memeluk anaknya itu.
Javier, Elena, Alexa dan Leo sudah pergi dari sana karena hari sudah mau malam. Lama menangis, Savana mulai memejamkan matanya di pelukan sang papa. Namun saat akan memejamkan mata, tiba-tiba saja seseorang menarik rambutnya.
"Ackkk!!" pekik Savana kesakitan.
"Griselda! APA yang kau lakukan?!" Steve terkejut karena mantan istrinya tiba-tiba datang kesana dan menjambak rambut Savana.
"ANAK SIALAN! Sudah aku duga, sejak kau lahir kau memang pembawa sial! Kau bahkan membunuh nenekmu sendiri hah? Kau ambil matanya?!" hardik Griselda penuh amarah.
Steve mendorong Griselda dengan kasar, ia kesal pada wanita itu. Datang-datang dia malah menyakiti Savana. Steve tidak terima, atau jangan-jangan selama ini Griselda pernah berbuat kasar juga pada Savana kalau mereka bertemu?
"Kau sudah GILA Griselda! Tidak waras kau! Apa yang kau lakukan hah?" bentak Steve seraya memegang tangan Savana, terlihat rambut Savana yang acak-acakan karena ulah Griselda.
"Steve, kenapa kau ada disini?" tanya Griselda terheran-heran, sebab ia baru ngeh ada Steve disana.
"Kau tanya kenapa aku disini? Aku disini untuk Savana dan juga mama." jelas Steve, lalu tatapannya beralih pada Savana. "Kau baik-baik saja sayang? Apa kau terluka?" tanya Steve cemas.
"Hah! Kenapa juga kau ada disini? Kau bukan siapa-siapa lagi disini dan lebih baik kau MINGGIR!" Griselda menarik tangan Savana dan bahkan mencubit lengan anaknya itu.
"Sakit Ma, lepaskan!" teriak Savana.
__ADS_1
Plakk!
Griselda memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Steve. Pria itu tak tahan lagi dengan kelakuan Griselda. Inilah yang membuat Steve tidak tahan hidup dengan Griselda, wanita itu tempramental dan keras kepala. Tapi tetap kan perselingkuhan tidak dibenarkan apapun alasannya. Harusnya mereka saling introspeksi diri, bukannya berpisah dan memilih hidup yang baru dengan keluarga baru. Dan Savana adalah korbannya.
Griselda menatap nyalang pada Steve, ia pun menumpahkan semuanya pada Savana. Menyalahkan semua pada Savana, terutama tentang Martha yang tiada.
"Ini semua gara-gara KAU! ANAK PEMBAWA SIAL!"
Savana bungkam, ia hanya bisa menangis sedih. Tubuhnya lemas, terlalu lelah untuk melawan. Kepalanya pusing, benar-benar pusing. Suara teriakan Griselda membuatnya semakin pening.
"STOP! HENTIKAN! DIAM! KUMOHON!" teriak Savana sambil memegang kepalanya. "PERGI! KUMOHON!"
"KAU!" Griselda hendak menyentuh Savana lagi untuk menyakitinya. Namun Savana mendorongnya. Ia butuh waktu sendiri dan meminta semua orang untuk pergi, termasuk Steve.
Orang tua kandung Savana itu pun keluar dari mansion Martha. Awalnya Griselda tidak mau keluar dari sana tapi Steve menahannya dan akhirnya mereka bicara. Lebih tepatnya berdebat.
"Terus saja kau menyalahkan Savana!"
"Lalu aku harus apa? Harus menyalahkan siapa? Sumber masalahnya kan, dia!" tukas Griselda yang membuat Steve semakin kesal.
"Bukan dia yang salah, tapi kita. Aku dan kau salah, Savana...anak kita hanya korban."
"Steve!"
Griselda terdiam setelah mendengar ucapan mantan suaminya, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Ia membenci anaknya sendiri karena perselingkuhan suaminya, jelas dia salah.
****
Satu Minggu setelah meninggalnya Martha, sudah satu Minggu juga Savana tidak keluar dari mansion. Dia lebih banyak dia dan mengurung dirinya di dalam kamar. Grace dsn beberapa dua orang pelayan di rumah itu merasa kasihan pada nona mereka. Tinggal di rumah yang luas dan mewah, tapi dia kesepian. Sesekali Javier dan Elena menemui Savana di rumahnya untuk menghibur gadis itu.
Dan hari ini pun begitu, namun kali ini Javier datang seorang diri. Javier membawakan makanan manis untuk Savana.
"Dimana Savana?" tanya Javier pada Grace, pengasuh Savana sekaligus kepala pelayan di rumah itu. Jangan lupakan bahwa sekarang Savana adalah pewaris tunggal atas kekayaan neneknya, sementara Griselda hanya diberikan rumah di kota itu.
"Nona atas di kamarnya tuan," ucap Grace pada Javier. Grace menatap Javier dengan sedikit curiga.
'Kenapa tuan Javier sering datang kemari? Bahkan tanpa nona Elena...apakah tuan Javier menyukai nona Savana? Ah...Grace, apa yang kau pikirkan?' Grace berusaha menepis apa yang ada didalam pikirannya tentang Javier dan Savana.
"Silahkan masuk tuan," ucap Grace kemudian mempersilahkan Javier untuk masuk ke dalam sana.
******
__ADS_1
Di dalam kamar, Savana terlihat sedang video call dengan seseorang. Ya, itu mama Justin yaitu Amie. Ia juga video call dengan Justin juga disana.
"Nanti saya dan Justin akan mengunjungimu ya Savana. Maaf karena saya dan Justin belum bisa kesana karena terkendala cuaca disini. Sudah 1 Minggu penerbangan off." jelas Amie merasa bersalah karena ia belum bisa datang ke Chicago untuk berbelasungkawa secara langsung pada Savana.
"Tidak apa-apa Nyonya Amie, saya malah mencemaskan nyonya Amie karena disana cuaca sangat buruk akibat bencana alam. Saya sudah baik-baik saja." kata Savana sambil tersenyum.
"Benarkah? Wajahmu memang lebih baik dari terakhir kali aku melihat mu. Tapi tetap aja aku cemas dengan keadaan calon menantuku!" cetus Amie sambil tersenyum.
"Mom!" seru Justin yang terlihat ada dibelakang mommynya itu.
"Lihatlah anak ini Savana, dia terlihat malu-malu." Amie terkekeh melihat rona di pipi Putranya itu.
"Mom, kau tidak boleh begitu! Savana bukan calon istriku, mom." sanggah Justin kesal. Ia merasa tak enak pada Savana karena mamanya terus saja bicara tentang hubungan mereka. Padahal Savana sudah menolaknya.
"Haha..." Savana tertawa.
Tiba-tiba saja seseorang memeluk Savana dari belakang dan membuatnya kaget bukan main. Pasalnya video call itu masih terhubung dengan Amie dan Justin.
"Kau sedang tertawa dengan siapa sayang?" bisik Javier pada Savana.
"Savana? Dia..." Amie dan Justin syok melihat pria yang memeluk Savana itu. Jangankan mereka, Savana juga syok karena tiba-tiba Javier masuk ke dalam kamarnya dan memeluknya seperti ini.
Buru-buru Savana menutup video callnya tanpa pamit, ia takut Amie dan Justin tau siapa Javier. Secara kan Javier adalah Presdir dari perusahaan fashion dan bisnis makanan terkenal di seluruh benua Amerika bahkan di luar itu.
"Hubby, kau...kenapa kau--"
Tiba-tiba saja Javier memagut bibir Savana dengan posisi Savana yang membelakanginya. Tangan Javier yang semula melingkar di perut Savana, mulai merayap pada gundukan kenyal milik gadis itu.
"Hubby, kenapa kau tiba-tiba datang?" Savana memegang tangan Javier agar tidak bertindak lebih jauh dan mengurai pertukaran Saliva mereka.
"Kau tidak senang aku datang? Oh ya, aku tau karena kau sedang sibuk video call dengan calon mertua dan calon suamimu." ucapan Javier sontak saja membuat Savana tercekat, ia langsung balikan tubuhnya dan berhadapan dengan Javier.
"Kenapa kau bicara begitu hubby? Memangnya kau senang aku menikah dengan pria lain?" tanya Savana dengan kening berkerut.
"Tidak, aku tidak mau."
"Lalu kenapa kau bicara begitu? Kau kan tau kalau hatiku untukmu!" seru Savana seraya memeluk kekasihnya. Dalam hati Javier senang karena keadaan Savana berangsur-angsur mulai membaik.
'Nenek, nenek tenang saja. Saya akan menjaga Savana dan membuat dia bahagia' batin Javier teringat surat dari Martha dan kata-kata terakhir dari wanita tua itu.
"Aku cemburu dan aku ingin kita mempublikasikan hubungan kita ke publik, sayang." kata Javier yang membuat Savana tercengang.
__ADS_1
...****...