
...πππ...
"Dad, bagaimana jika Savana tau tentang neneknya nanti?" tanya Elena pada sang papa disela-sela penantiannya di depan ruang operasi.
"Cepat atau lambat dia akan tau semuanya, tapi untuk saat ini kita rahasiakan dulu saja. Semoga nyonya Biche baik-baik saja setelah operasi." ucap Javier pada putrinya. Meski dia sebenarnya tidak yakin tentang kondisi Martha, sebab beberapa hari yang lalu dia berbicara dengan dokter yang menangani wanita tua itu. Dokter itu katakan bahwa hidup Martha tidak lama lagi. Kanker sudah menggerogoti tubuhnya meskipun telah diobati dengan kemoterapi dan juga pengobatan alternatif lainnya.
Usianya yang sudah tua, memperparah keadaannya. Kanker itu sudah menjalar ke semua organ penting di dalam tubuhnya. Namun, Javier berharap agar kondisi Martha setelah operasi akan baik-baik saja. Setidaknya Savana harus melihat neneknya terlebih dahulu.
1 jam berlalu, lampu ruang operasi itu masih menyala. Javier dan Elena masih setia menunggu di depan ruangan itu. Ketika mereka tengah menunggu, tiba-tiba saja datanglah seorang pria paruh baya dengan berlari menghampiri mereka. Wajahnya terlihat panik dan cemas. Pria itu tidak sendiri, dia bersama seorang pria muda di belakangnya.
"Mr. Maverick?" sapa Javier pada pria paruh baya yang usianya hanya lebih tua 4 tahun darinya.
"Daddy, Daddy kenal dia? Dia mirip dengan Savana." bisik Elena pada daddynya ketika melihat sosok pria paruh baya dihadapannya yang mirip dengan Savana, terutama mata dan wajahnya.
"Dia ayah Savana."
Jawaban Javier sontak saja membuat Elena tercengang, ia tak percaya bertemu dengan ayah Savana yang selama ini selalu diceritakan olehnya. Ayahnya yang kabur dengan keluarga barunya dan meninggalkan Savana dengan Griselda, sang ibu. Savana selalu bercerita bahwa ia merindukan sosok ayahnya.
Javier juga pernah mendengar cerita sedikit tentang ayah Savana dari kekasih kecilnya itu. Javier ingat bahwa Savana pernah mengatakan dia melihat sosok ayahnya dalam diri Javier.
...Hubby, apakah kau tau? Ayahku sangat baik, dia selalu menjagaku, dia hangat sepertimu dan aku menemukan sosok ayah didalam dirimu. Tapi hubby, dia menyakitiku dan pergi dengan keluarga barunya. Dari situlah aku menyadari bahwa orang yang paling berpeluang menyakiti hati kita adalah orang yang kita cintai itu sendiri. Tapi hubby, kau tidak akan pernah menyakitiku sama seperti ayahku kan? Kau tidak akan meninggalkanku kan?'...
Steve menghampiri Javier dan Elena dengan tergesa-gesa. Dari tempat tinggalnya di Brazil, ia langsung datang ke Meksiko begitu mendengar kabar Savana akan di operasi. Dia mendapatkan kabar itu dari Javier, yang tak lain adalah seseorang yang baru saja menjadi rekan bisnisnya.
"Mr. Sanderix, bagaimana keadaan putriku? Apa dia sudah dioperasi?" tanya Steve cemas.
"Dia masih didalam, operasinya masih berlangsung." jawab Javier.
__ADS_1
Steve memegang dadanya, dia menghembuskan nafasnya. Ia berusaha mengendalikan nafasnya yang terengah-engah.
'Tuhan, tolong lancarkan operasi Savana dan mama Martha. Tolong ya Tuhan! Izinkan PUTRIKU agar bisa melihat dunia ini lagi'
Tangan Steve bersedekap di dada, ia berdoa pada Tuhannya. Supaya semuanya berjalan lancar dan keduanya baik-baik saja. Savana bisa melihat lagi. Setelah ini Steve akan membawa Savana pergi dan memberikan kebahagiaan pada putrinya itu. Kesempatan untuk Steve agar ia bisa memberikan Savana kasih sayang yang selama ini terlewatkan.
"Tuan Sanderix, terima kasih kau sudah banyak membantu putriku. Dan terima kasih juga untukmu, El--"
"Nama saya Elena, pak." sahut Elena.
"Ya, Elena...terima kasih sudah menjadi sahabat anakku." ucap Steve pada Elena.
"Tidak perlu berterima kasih pak, saya sangat senang dan beruntung menjadi sahabat Savana. Dia adalah gadis yang manis dan baik, Savana juga kuat. Tapi sayangnya dia memiliki ayah dan ibu yang jahat. Bagaimana anak semanis Savana diacuhkan kedua orang tuanya?" kata Elena sarkas, seraya mendelik sinis pada pria paruh baya itu. Hingga raut wajah Steve menjadi pucat dan matanya memancarkan kesedihan. Hati Steve mencelos sakit mendengar ucapan Elena.
"Elena, jaga bicaramu sayang." kata Javier seraya melirik Elena. Kemudian ia beralih menatap Steve. "Maafkan putri saya, Mr. Maverick."
"Tidak perlu meminta maaf. Apa yang dikatakan oleh Putri Mr. Sanderix memang benar. Tidak seharusnya saya sebagai seorang ayah, mengajukan Putri kandung saya sendiri. Apapun alasannya, semua yang saya lakukan tidak dibenarkan." Steve menyadari kesalahannya yang sudah menelantarkan Savana. Seharusnya walaupun dia menikah lagi dan telah memiliki keluarga baru, tidak semestinya dia mengacuhkan Savana dan mengabaikan tanggung jawabnya sebagai orang tua.
"Dokter, bagaimana dengan keadaan putri saya? Bagaimana juga dengan keadaan neneknya?" tanya Steve beruntun. Dengan harapan bahwa operasinya berjalan lancar.
"Operasi putri anda berjalan lancar, hanya tinggal menunggu pasien siuman dan barulah kita akan membuka perban di matanya untuk melihat hasilnya."
Javier, Elena dan Steve terlihat lega karena operasi Savana berjalan lancar. Tidak ada masalah sama sekali.
"Lalu bagaimana kondisi neneknya dok?"
Kali ini pertanyaan Steve membuat raut wajah dokter yang tadinya berseri, jadi muram dan gelap bagaikan petir disiang bolong. Raut wajah dokter ini mengundang banyak pertanyaan dari ketiga orang yang berdiri disana.
__ADS_1
"Dok, bagaimana keadaan--" Steve menggantung ucapannya disana, sebab ia tegang melihat raut wajah sang dokter.
"Dengan berat hati saya sampaikan, bahwa nyonya Martha telah meninggal dunia setelah operasi." ucap dokter pria itu yang sontak membuat ketiga orang disana terkejut bukan main.
"Apa?!" sentak Steve syok.
Elena dan Javier juga sama syoknya. Mereka turut berduka atas meninggalnya Martha dan disisi lain mereka mencemaskan kondisi Savana. Bagaimana bila gadis itu tau?
"Nyonya Martha menitipkan surat ini, untuk Savana dan juga Mr. Maverick." ucap sang dokter seraya menyerahkan dua amplop berisi surat dari Martha. Dengan tangan gemetar, Steve menerima surat itu.
*****
1 jam berlalu dan Savana pun siuman, inilah saatnya dokter akan membuka perban mata Savana. Savana yang sudah siuman, tak sabar ingin melihat dunia lagi.
Saat dokter akan membuka perban Savana, Steve memutuskan untuk menunggu diluar dan melihat Savana dari sana. Ia belum siap untuk bicara' dengan Savana dan tidak mau menganggu kebahagiaannya nanti, Padahal Javier sudah mengajaknya masuk ke dalam.
Perlahan-lahan dokter membuka perban yang menutupi kedua mata indah Savana. Setelah dibuka, Savana membuka mata secara perlahan. "Van, apa kau bisa melihatku?!" tanya Elena lebih dulu. Dia tak sabar.
"Kenapa kau jadi lebih kurus sekarang? Apa kau diet lagi?" Savana mencubit pelan pipi Elena. Ia tersenyum lalu meneteskan air mata, tak percaya bahwa dirinya bisa melihat lagi.
"Kau bisa melihat lagi? Ya Tuhan!!" seru Elena yang langsung memeluk Savana dengan perasaan bahagia. Savana pun sama. Savana melihat Javier sambil tersenyum, Javier balas tersenyum.
'Tuhan, syukurlah Savana bisa melihat lagi' batin Javier lega.
Sementara itu di luar sana, Steve melihat Savana dan tanpa terasa bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Savana melihat wajah Steve di jendela, buru-buru gadis itu turun dari ranjangnya. Lalu ia berlari keluar ruangan. Javier dan Elena heran kenapa Savana begitu.
"Papa..." lirih Savana memanggil Steve yang berjalan tak jauh darinya dan membelakanginya. Sedangkan Steve, ia bingung harus bagaimana.
__ADS_1
...****...
Maaf Readers ππkalian para nunggu scene uwu ya π€§ nanti author hadirkan udah drama keluarga ini...π