Terjerat Pesona Ayah Sahabatku

Terjerat Pesona Ayah Sahabatku
Bab 51. Margaretha antusias


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Leo menganggukkan kepala dan segera menelpon dokter Cheryl, dokter wanita di keluarga Sanderix itu. Leo menebak bahwa Margaretha memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Javier.


"Savana, kau mau kemana sayang?" tanya Margaretha begitu melihat calon menantunya hendak berlari ke arah dapur.


"Saya mau pergi ke dapur Oma, sepertinya hubby sedang tidak sehat." jelas Savana dengan raut wajah yang cemas. Gadis itu cemas karena tersenyum suara Javier yang mual-mual.


Margaretha langsung berdiri dari tempat duduknya dan memegang tangan Savana penuh kasih. Ia meminta Savana untuk duduk santai saja di sofa empuk disana. "Sayang, kau harus duduk disini dulu sebelum aku memastikan semuanya. Dan panggilan aku mama ya," ucap Margaretha ramah.


"I-iya mama."


"Kau kan akan menikah dengan si pria kulkas itu, jadi kau harus membiasakan diri memanggilku dengan sebutan mama. Atau mommy juga boleh, terserah nyamannya saja ya." kata Margaretha ramah sambil melihat ke arah perut datar Savana.


Savana menyadari tatapan mata Margaretha pada perutnya itu. Ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal, ia bingung kenapa Margaretha melihat dirinya sampai seperti itu?


'Apakah aku gemuk? Kenapa Oma Margaretha melihat perutku sampai seperti itu?' batin Savana bingung.


'Tuhan semoga saja dugaan ku ini benar' batin Margaretha berdoa dengan harapan besar bahwa apa yang ia duga memang benar.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Javier keluar dari kamar mandi dapur setelah memuntahkan semua makan siangnya. Wajahnya terlihat pucat pasi dan tubuhnya limbung, beruntung Leo menolongnya. "Anda tidak apa-apa pak?" tanya Leo.


"Leo? Kenapa kau masih ada disini?" tanya Javier dengan suara lemahnya dan membuat Savana juga Elena cemas.


"Dad, apa Daddy baik-baik saja? Dokter Cheryl ayo periksa Daddy!" ujar Elena pada seorang wanita paruh baya dengan kacamata itu.


"Baik, saya akan periksa tuan Javier." ucap dokter Cheryl seraya melihat Javier yang sudah duduk di sofa dengan tubuh lemah.


"Eh eh! Aku menyuruhmu datang kemari bukan untuk memeriksa si es batu itu. Tapi memeriksa menantuku!" ujar Margaretha.


Savana tersenyum simpul dan hatinya berbunga-bunga manakala perkataan Margaretha barusan yang mengatakan bahwa dirinya adalah nenantu.


"Iya Oma , kenapa mommy Savana yang diperiksa?" tanya Elena yang juga keheranan dengan Margaretha.


"Kalian diam saja!" Margaretha senyum-senyum bahagia. Tatapannya tidak teralihkan dari Savana. Javier dan Leo jadi heran saat melihatnya. Apalagi Savana, ia tidak paham kenapa Margaretha begitu.


Dokter Cheryl memeriksa Savana dengan stetoskop dan bahkan memeriksa tekanan darah, denyut nadi dengan serius. Kemudian dokter itu tersenyum.


"Nona Savana."

__ADS_1


"Ya?"


"Apa akhir-akhir ini kau sering merasa pusing, mual barangkali?" tanya dokter wanita itu pada Savana sambil mengambil sesuatu didalam tas dokternya.


"Tidak ada, saya kadang hanya merasa lelah dan saya sering mengantuk. Apa itu masalah?" tanya Savana bingung. Mungkinkah ia terkena penyakit serius. Tapi reaksi Margaretha lain, dia malah tampak antusias.


Elena sampai keheranan melihatnya. 'Ada apa dengan Oma?'


"Ya benar, akhir-akhir ini Savana mudah tidur." sahut Javier membenarkan ucapan Savana. Akhir-akhir ini Javier memperhatikan Savana yang biasanya kuat begadang atau tidur diatas jam 10 malam. Sekarang jam 7 saja dia sudah tidur.


"Hem...apakah tamu bulanan berjalan lancar atau tidak?" kali ini sang dokter tampak memperlihatkan senyuman walau tipis.


"Hem..tamu bulanan? Ah ya! Seingatku, aku belum mendapatkan tamu bulanan." jawab Savana yakin.


"Bisa coba pakai ini," ucap dokter Cheryl seraya menyerahkan sebuah benda pipih pada Savana.


"I-ini kan?" Savana menelan ludah melihat benda itu kini ada ditangannya.


'Aku tidak mungkin kan?' tanya Savana dalam hati.

__ADS_1


...****...


__ADS_2