
...🍀🍀🍀...
Malam itu disebuah cafe mewah, terlihat seorang pria dan wanita paruh baya tengah berada didalam satu meja yang sama. Diatas meja tersebut telah tersedia secangkir kopi dan secangkir teh. Mereka adalah Steve dan Griselda.
Setelah susah payah menghubungi mantan istrinya itu, Steve langsung mengajak Griselda bertemu di cafe. Tanpa diketahui oleh istri dan anaknya. Dia membicarakan masalah Savana kepada Griselda. Griselda sendiri, dia memang sedang kebetulan berada di Chicago dan esoknya ia akan kembali ke Belanda setelah menyelesaikan bisnisnya.
"Apa kau bilang? Savana buta? Siapa yang mengarang cerita itu?" tanya Griselda kaget dengan apa yang dikatakan oleh mantan suaminya itu.
"Mengarang cerita? Griselda, kenapa kau bersikap seolah-olah kau tidak tahu apa-apa tentang anak kita?" Steve malah balik bertanya, saat ia melihat Griselda seolah tidak tahu apa-apa tentang Savana.
"A-aku..." Griselda bingung saat menjawabnya.
"Griselda, apa selama ini kau tidak mengurus anak kita? Apa kau--"
"Benar, aku memang tidak mengurus anak kita sejak kita bercerai. Aku menyerahkan semua tanggung jawab Savana kepada ibuku. Bahkan aku juga baru bertemu tiga bulan terakhir ini." akui Griselda.
Steve terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh mantan istrinya itu. Jadi selama ini dia tidak tinggal bersama Savana. Jelas, bahwa pria itu memang tidak tahu apa-apa tentang Savana.
"Kau...bukankah kita sudah sepakat agar kau menjaga Savana! Aku bahkan sudah menyerahkan hak asuhnya kepadamu. Tapi apa yang kau lakukan, hah?!" hardik Steve yang selama ini buta dengan keadaan Savana. Ia tidak menyangka bahwa Griselda mengabaikan Savana. Kalau tau Griselda mengabaikan putrinya, Steve pasti akan membawa Savana.
"Aku tidak bisa melihat wajah Savana setiap hari, tidak...aku muak melihat wajahnya. Wajahnya selalu mengingatkanku pada penghianatanmu Steve. Dia begitu mirip denganmu, segalanya... dia sangat mirip. Hingga aku tidak sanggup untuk melihat, apalagi mengurusnya."
"Kau EGOIS!" sentak Steve emosi.
Griselda terima dikatakan egois oleh Steve, ia akui itu. Hatinya terlalu sakit saat di khianati oleh Steve dan wajah Savana selalu mengingatkannya akan rasa sakit itu. Tapi itu seharusnya tidak menjadi alasan kenapa membenci anaknya sendiri.
Steve marah, ia tidak menyangka bahwa Griselda berbohong padanya tentang Savana selama ini. Pria itu tidak mau berbasa-basi dengan Griselda setelah ia tau semuanya.
"Aku akan membawa Savana, tak peduli dia membenciku atau marah padaku nanti. Aku juga akan mencarikan donor mata untuknya." kata Steve pada Griselda yang membuat wanita paruh baya itu bungkam. Steve langsung pergi meninggalkan Griselda sendiri disana.
"Savana buta? Kenapa aku tidak tahu? Kenapa ibu tidak memberitahuku hal ini?" tanya Griselda kebingungan, ia juga sedih mendengar berita ini dari orang lain. Griselda buru-buru menghubungi Martha untuk menanyakannya.
****
Setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam perjalanan, Javier dan Leo sampai di Meksiko. Sesampainya disana mereka langsung menemui si pendonor mata di sebuah rumah sakit besar. Leo memberikan informasi kepada Javier bahwa si pendonor mata mengalami penyakit kanker darah dan ia ingin mendonorkan matanya sebelum ajal menjemputnya.
__ADS_1
"Apa ini ruangannya, Leo?" tanya Javier begitu ia sampai didepan sebuah kamar VVIP bangsal Kenanga nomor 45.
"Benar pak, ini ruangannya."
"Kau bilang siapa nama pasiennya, tadi?"
"Martha Alicia Biche." jawab Leo.
Javier mengerutkan keningnya, ia seperti tidak asing dengan nama itu. Tak mau berlama-lama didepan sana, Javier pun masuk ke dalam ruang rawat tersebut. Alangkah kagetnya ia begitu melihat sosok wanita yang berbaring di atas ranjang dalam keadaan pucat dan tak berdaya.
"Nyonya Martha?"
"Mr. Sanderix?" wanita tua itu melihat Javier dengan bingung, mau apa pria itu kemari.
"Anda...bukankah anda sedang liburan?" tanya Javier bingung. Sebab Savana mengatakan bahwa neneknya sedang pergi berlibur. Tapi apa ini? Dia menemukan bahwa nenek dari kekasih kecilnya itu berada disini? Dan sakit kanker?
Mereka pun akhirnya berbicara tentang kondisi Savana dan juga donor mata. Martha yang tidak tahu tentang Savana, awalnya marah para Javier tapi akhirnya ia tenang sebab dirinyalah yang akan mendonorkan matanya untuk Savana.
"Nyonya, saya bisa mencari donor mata yang lain. Savana pasti akan sedih karena--"
Javier terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia sudah membayangkan betapa terpukulnya Savana nanti bila ia tau bahwa neneknya adalah pendonor mata itu.
"Tuan Sanderix, apa kau benar-benar mencintai cucuku?" tanya Martha seraya menatap pria itu dengan tajam.
"Saya mencintainya, nyonya." jawab Javier bersungguh-sungguh.
Martha masih menatapnya, ia berusaha mencari kebohongan didalam mata pria itu. Namun tak ada kebohongan disana dan Martha bisa menyimpulkan bahwa pria itu memang benar-benar mencintai cucunya.
"Aku bisa percaya padamu, kan? Kau benar-benar akan menjaga cucuku, setelah aku tiada..."
"Nyonya..." lirih Javier.
"Berjanjilah, Mr. Sanderix!" tukas Martha dengan mata berembun.
Javier memegang tangan wanita tua itu, ia tersenyum dan menatapnya penuh kesungguhan.
__ADS_1
"Tolong terimalah kekurangan cucuku. Dia tidak bisa memasak." kata Martha sambil tersenyum menceritakan cucunya.
"Saya tau."
"Dia juga selalu heboh dan kadang manja."
"Saya tau." jawab Javier lagi.
"Tapi dia imut dan dia baik hati. Savana adalah cucuku yang berharga dan dia sangat cantik. Benar kan?" Martha menangis sambil tersenyum saat mengingat Savana. Cucunya yang sangat ia sayangi.
"Iya nyonya, itulah yang membuat saya tergila-gila padanya. Saya janji akan menjaga Savana seumur hidup saya, saya akan menikahinya." Javier menunjukkan pada Martha, cincin yang akan ia gunakan untuk melamar Savana.
Cincin berlian berwarna merah dengan bentuk hati dan ada inisial JS disana. Martha terpukau melihat cincin itu. "Savana suka warna merah, dia akan menyukainya." ucap Martha senang.
"Saya akan membahagiakan Savana, nyonya. Saya janji!" janji Javier pada Martha.
****
2 hari kemudian, saat dokter mengatakan keadaan Martha sudah berada di ujung. Akhirnya Javier membawa Savana ke Meksiko untuk di operasi. Savana pergi bersama Elena dan juga Javier.
"Om, aku ingin bertemu dengan orang baik itu." kata Savana saat ia sampai di rumah sakit. Savana ingin bertemu dengan orang baik yang mau mendonorkan matanya untuk Savana.
"Setelah selesai operasi, kita akan bertemu dengannya." jawab Javier merasa bersalah karena menyembunyikan tentang kondisi neneknya.
'Maafkan aku baby girl, maafkan aku'
"Tapi..."
"Ayo Savana, kau harus segera di operasi." ajak Elena pada sahabatnya itu. Elena tak sabar, ingin Savana segera melihatnya lagi.
Seorang suster menuntun Savana masuk ke ruang operasi. Bersamaan dengan Martha yang masuk ke ruang operasi. Wanita tua itu tersenyum di wajah pucatnya.
Elena menangis melihat Martha, entah kenapa ia merasakan perasaan aneh didalam hatinya. Ada rasa bahagia dan sedih didalam hatinya. Campur aduk.
Pintu ruang operasi itu pun tertutup, tak lama kemudian lampu ruang operasi menyala. Javier dan Elena menunggu didepan ruangan itu dengan cemas. Semoga saja Martha masih bisa bertahan setelah operasi, agar Savana tidak sedih.
__ADS_1
...****...