Terjerat Pesona Ayah Sahabatku

Terjerat Pesona Ayah Sahabatku
Bab 47. Margaretha baik


__ADS_3

Baca pelan-pelan ya, biar kerasa panjang,😎 jangan lupa komennya, hehe.


...🍀🍀🍀...


Javier hanya tersenyum tipis dan santai saat mendengar ucapan mamanya tentang menikah dengan Mona. Sementara Mona, wanita itu menampilkan senyum yang bahagia dan membuat bibir dengan lipstik merahnya itu semakin merekah. Javier semakin jijik saat melihatnya. Membayangkan menikah dengan wanita seperti Mona, astaga dia sudah merasa ngeri. Mona sama sekali bukan tipenya dan hati tak bisa di paksa. Dia menyukai Savana, hanya wanita itu.


"Javier, apa kau tidak akan menjawab mama?" sentak Margaretha karena Javier hanya diam saja dengan satu sudut bibir yang terangkat, bukannya menjawab pertanyaan darinya. Disisi lain mata Mona berbinar-binar menunggu jawaban yes dari Javier.


"Tidak Ma, Javier tidak mau menikah dengannya. Bukankah sudah aku tegaskan pada mama, sebelumnya." lugas Javier retoris dan tajam.


Margaretha menelan ludah kasarnya. Sudah ia duga bahwa anaknya itu persis seperti dirinya. Kalau sudah A ya A, kalau sudah B pasti B. Tak bisa di ubah keputusannya dan itu sulit. Mona tampak kecewa dengan jawaban Javier dan akhirnya dia angkat bicara.


"Kenapa Javier? Kenapa kau menolakku? Aku kurang apa? Jika masalahnya adalah Elena, aku bisa pastikan aku bisa jadi ibu yang baik untuknya. Javier, i love you..." kata Mona sambil mendekati Javier dan memegang tangannya. Mona memelas, berharap Javier menerima cintanya.


Margaretha hanya menghela nafas saat melihatnya. Wajahnya tetap datar, tapi akhirnya ia bicara pada Mona. "Mona, lebih baik kau cari pria lain saja."


"A-apa? Tante kau bicara apa? Bukankah mamaku dan tante sudah berjanji untuk menikahkan kami!" sentak Mona tak terima dengan ucapan Margaretha.


"Siapa yang bilang berjanji menikahkan kalian? Aku tidak bilang begitu. Aku hanya berjanji untuk menjodohkan kalian, tapi kalau Javier tidak mau. Aku tidak akan memaksanya dan ini jawaban untukmu Mona." jelas Margaretha tegas. Ternyata wanita tua itu bukanlah wanita yang kolot sama seperti usianya. Ia tidak seperti orang tua lainnnya yang memaksakan kehendak anaknya. Ia tau benar bagaimana Javier, keinginannya susah ditentang dan keputusannya selalu mutlak. Javier tersenyum senang dengan keputusan mamanya yang sepaham dengannya.


"Tante...tapi aku mencintai Javier. Kalau Tante tidak mau membantuku, aku akan bicara pada mamaku tentang menarik investasinya di usaha kosmetik Tante!" seru Mona mengancam, wajahnya merah karena marah. Ia tidak mau kehilangan Javier, dari dulu dia sudah jatuh cinta pada pria tampan itu. Sejak Javier masih menikah dengan Elisa.


Margaretha berdecak kesal dengan sikap asli Mona. "Hah! Jadi kau mengancamku, Mona? Maafkan aku membuatmu kecewa Mona, jika kau mengadukan pada ibumu...silahkan saja. Jika dia menarik investasinya, aku tidak keberatan. Lagipula perusahaan kosmetikku cukup besar untuk mencari investor lain!"


Mona mengepalkan tangannya dengan kesal. Ia tak bisa bicara lagi. Ibu dan anak itu seakan menertawakannya. Tanpa bicara apapun, Mona pergi dari sana dengan membawakan kemarahannya.


'Sialan! Lihat saja, aku akan membuat Javier setuju menikah denganku'

__ADS_1


Setelah kepergian Mona, Margaretha bicara pada putranya mengenai tema yang sama yaitu calon istri Javier. Margaretha tidak mau Javier terus melajang dan ia berharap agar putranya menikah, lalu ada yang mengurusnya dan Elena.


"Hidupmu bukan hanya tentang pekerjaan, Javier. Mama sudah membatalkan perjodohanmu, jadi lebih baik kau punya alasan kenapa kau menolak di jodohkan. Kalau tidak, maka Mama akan memperkenalkanmu pada wanita yang lain." kata Margaretha sambil menghela nafas.


"Aku punya alasan yang kuat, Ma. Tak lama lagi mama akan punya menantu." jawab Javier yang tentu saja membuat hati Margaretha berbunga-bunga. Pasalnya sang putra itu terlihat bahagia saat mengatakannya.


"Wanita seperti apa dia? Dari keluarga mana? Kau yakin dia wanita baik dan bukan mau harta kita saja?" tanya Margaretha mengintrogasi. Alasan ia bertanya ini karena takut Javier mendapatkan wanita seperti Elisa yang gila harta.


"Ish!! Mama, dia orang kaya dan bisnisnya juga sukses. Dia pewaris satu-satunya perusahaan mendiang neneknya dan dia cantik, ma." tanpa sadar pria yang disebut om kulkas oleh Savana itu tersenyum saat menceritakan tentang kekasih kecilnya.


"Baiklah, kalau begitu bawa dia kemari. Kalau bisa bawa plus cucu sekalian, lebih cepat lebih baik dan kau sudah tua ingat itu." celetuk Margaretha sambil tersenyum.


"Ma, untuk yang satu itu...aku tidak akan menyentuhnya sebelum menikah."


"Kau ini memang kolot. Tapi cepatlah bawa dia kemari, mama penasaran siapa wanita yang sudah membuat anak mama jatuh cinta. Sebenarnya asalkan dia wanita, mama senang. Dia pasti wanita yang hebat, bisa bertahan dengan sikap keras kepalamu ini." Lampu hijau tampaknya telah di dapatkan Javier dari sang mama. Tinggal dari Elena, apakah anak gadisnya itu akan menerima sahabatnya menjadi ibu sambungnya kelak?


*****


Mark, Savana dan Elena terlihat sedang mengobrol. Mark mengatakan bahwa dia akan melamar Elena dan dia serius akan hal itu. Savana senang mendengarnya, ia juga janji akan membantu bicara pada Javier. Karena terlihat Javier tak suka pada Mark. Mungkin karena Mark seorang pengangguran, pria itu belum mempunyai pekerjaan yang tetap dan selalu meniduri putrinya.


"Savana, terima kasih! Kau harus membantu kami ya!" kata Mark sambil mengatupkan kedua tangannya, seraya memohon pada Savana. Elena juga ikut-ikutan. Ia tau mungkin Savana bisa membantunya.


"Ya, aku akan bantu kalian. Tapi El, untuk permudah rencana pernikahan kalian...aku punya jalan pintas."


"Jalan pintas?" tanya Elena dan Mark kebingungan.


"Ya, jika kau menyetujui Daddymu memiliki hubungan dengan seorang wanita. Aku yakin Daddymu akan setuju juga dengan hubungan kalian! Karena dari yang kudengar Om Javier itu mempunyai seorang kekasih." kata Savana sambil tersenyum.

__ADS_1


Elena dan Mark terlihat berpikir. Mereka pun akan setuju setuju saja bila Javier mempunyai pasangan. "Ya baiklah, Aku akan mencoba menyetujui Daddy kalau dia punya kekasih. Saranmu benar juga Savana." kata Elena setuju.


Seringai terlihat di wajah Savana. Ia senang karena Elena setuju dengan usulannya. Tapi apakah Elena akan setuju bila tahu bahwa kekasih daddynya adalah sahabat baiknya? Ah mari kita pikirkan itu nanti saja, sekarang yang penting persetujuan Elena tentang daddynya yang boleh punya kekasih, sudah dikantongi. Elena juga berpikir mungkin wanita yang dibawa oleh Papanya nanti lebih baik daripada si Mona.


****


Malam itu Javier dan Savana kembali bertemu diam-diam. Tapi kali ini mereka bertemu di Mansion Sanderix, sebab Savana sedang menginap disana. Mereka bertemu di gudang dekat dapur, tempat tidak etis memang. Tapi hanya disini mereka bisa bicara leluasa. Tempat itu kan sepi.


Mereka membicarakan masalah tadi siang, Javier juga menjelaskan kepada Savana bahwa ibunya menolak perjodohan dengan Mona dan menyetujui wanita yang akan menjadi calon istrinya. Savana sangat senang mendengarnya, tapi ia juga takut kalau Margaretha tidak menyukainya. Namun Javier tegaskan sekali lagi, mamanya pasti akan menyukai Savana karena dia wanita dan dia adalah wanita pertama yang dibawa oleh Javier dengan atas dasar rasa cinta.


Usai membicarakan masalah mereka, kini Savana beralih membicarakan masalah Elena dan juga Mark. Javier agak kurang setuju dengan keputusan untuk menikah dengan Mark. Bukan karena Mark miskin, dia hanya takut bahwa pria itu tidak bertanggung jawab terhadap putrinya. Buktinya saja dia sudah menjamah tubuh Elena sebelum menikah.


"Hubby, aku tidak memintamu untuk langsung setuju dengan rencana mereka untuk menikah. Tapi setidaknya tolonglah beri kesempatan kepada Mark untuk membuktikan keseriusannya. Hubby kau mau kan?" tanya Savana berusaha membujuk Javier demi Elena sahabatnya.


"Baiklah, aku akan mencoba untuk memberikannya kesempatan. Tapi jika dia tidak menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya, maka aku tidak akan pernah menyetujui hubungan mereka." tegasnya.


"Terima kasih sayang."


Savana memeluk Javier dengan erat, ia bangga pada Javier. Selain sosok kekasih yang baik, Javier juga adalah sosok ayah yang baik untuk putrinya. Begitu bodoh Elisa, menyia-nyiakan Javier.


"Oh ya, aku belum menghukummu."


"Menghukumku?" tanya Savana bingung.


"Tadi pagi kau dengan Mark pegangan tangan, aku tak suka sayang." Javier mengangkat tubuh kekasihnya ke atas meja. Kemudian ia pun mengigit gemas pundak Savana dengan tangan yang menggerayangi perutnya.


"Ahh...sayang...stop! Geli, haha." Savana menggelinjang kegelian. Keduanya pun saling melempar canda dan tawa. Tampaknya masalah di antara mereka perlahan mulai teratasi.

__ADS_1


...*****...


Bab berikutnya, minta malam pertama... Komen ya guys biar cepet up 😎😎😎


__ADS_2