
...🍀🍀🍀...
Savana terkejut manakala ia mendengar Javier mengatakan tentang mempublikasikan hubungan mereka ke publik. Melihat kekasih kecilnya terkejut, tentu Javier jadi bertanya-tanya.
"Kenapa kau kaget begitu sayang? Apa kau tidak suka bila kita membongkar status kita didepan umum? Atau kau malu karena punya kekasih yang usianya tak jauh beda dengan papamu?" tanya Javier curiga.
Sungguh bukan itu alasan Savana terkejut, bukan. Tapi Javier sudah bicara yang bukan-bukan dan berprasangka buruk terhadapnya. Jadilah Savana menjelaskan semuanya perlahan-lahan.
"Bukan begitu! Tapi masalahnya adalah--"
Javier menantikan apa yang akan dikatakan oleh Savana. Tangannya masih melingkar ditubuh Savana dengan posisi gadis itu yang berada diatas pangkuannya.
"Apa?"
"Elena, aku takut Elena tau." cicit Savana pelan.
Pria itu mendecak. "Sudah seharusnya Elena tau tentang hubungan kita. Sayang, aku serius denganmu dengan hubungan kita." lirih Javier seraya membelai pipi Savana dengan lembut.
"Aku juga serius dengan hubungan kita hubby, tapi tolong tunggu sebentar lagi. Jangan publikasikan dulu hubungan kita," ucap Savana memelas.
"Kenapa? Berikan aku alasan yang jelas!" seru Javier tegas. Savana selalu menunda-nunda hal ini, meski Javier mendesaknya. Dia butuh alasan yang jelas.
"Berikan aku waktu untuk meyakinkan Elena, itu karena sebelumnya dia pernah mengatakan padaku, bahwa dia tidak mau kau menjalani hubungan dengan wanita manapun." jelas Savana yang membuat Javier terkejut. Javier juga baru mengetahui hal ini dari Savana, dia tidak menyangka bahwa putrinya mengatakan itu pada Savana. Secara tidak langsung, Elena menentang hubungan Daddynya dengan siapapun.
"Jadi ini yang kau takutkan? Kenapa kau tidak mengatakan padaku sebelumnya? Aku akan bicara padanya, aku akan mengubah pikirannya." kata Javier seraya menenangkan pikiran Savana. Ya, dia akan meyakinkan putrinya untuk menerima Savana sebagai mama sambungnya kelak. Javier tau ini tidak akan mudah, walaupun begitu dia ingin tetap berjuang.
"Ta-tapi--"
"Baby girl, no tapi tapi...harus okay okay. Hubungan ini dijalani oleh dua orang dan aku ingin kita sama-sama berjuang. Tidak hanya kau atau tidak hanya aku yang memikirkan hubungan ini, tapi kita. Ya kan?" Javier begitu dewasa, lembut dan pria idaman Savana. Mungkin Javier hanya satu dari sejuta, bukan umurnya saja yang dewasa tapi juga sikapnya. Oh, Savana semakin jatuh cinta saja padanya. Dulu waktu masih pacaran dengan Jonas, Savana tidak pernah diperlakukan dengan lembut seperti ini. Mungkin karena berpacaran dengan orang yang berusia sama, jadi lah terkadang ego sangat besar.
"Iya aku tau, mari kita yakinkan Elena tentang hubungan kita. Namun sebelum itu, jangan publikasikan hubungan kita ke publik terlebih dahulu."
"Baby girl, tapi aku tidak mau orang lain mengira bahwa kamu masih lajang!" cetus Javier dengan pelukan posesifnya pada sang kekasih.
"Aku memang masih lajang." jawab Savana asal.
"APA?" pria itu menatap Savana dengan tajam, seolah akan memakannya hidup-hidup saja. "Lalu aku apa?" sentak Javier kesal.
__ADS_1
Savana malah tersenyum melihat Javier yang kesal seperti itu. Savana mencubit gemas pipi Javier dan menggoyang-goyangkannya ke kanan ke kiri. "Savana, apa yang kau--"
Cup!
Gadis itu membungkam pria yang usianya beda 19 tahun dengannya itu, hingga membuat si pria terdiam.
"Aku hanya bercanda, aku tidak lajang...tidak! Aku punya ini," Savana menunjukkan kalung di di lehernya. Kalung diamond merah yang disebut sebagai heart of blood, dan diberikan oleh Javier padanya sebagai tanda jadian mereka.
"Siapa yang memberikan ini?" tanya Javier pura-pura tidak tahu, ia masih mempertahankan wajah kesalnya. Padahal saat ini ia ingin memeluk dan mencium Savana.
"Dia seorang pria yang akan berusia 40 tahun di awal tahun depan. Dia tampan, kaya dan--" Savana tidak melanjutkan ucapannya, ia menatap Javier dengan genit dan membuat gairah Javier sebagi seorang pria jadi bangkit.
"Dan apa, baby?" tanya Javier seraya mengusap-usap tengkuk sang kekasih. Nafasnya memburu, sebenarnya ia sudah lama membayangkan adegan ranjang dengan Savana. Tapi Javier selalu menahannya, ia ingat pesan dari mendiang nenek kekasihnya itu. Ia akan menjaga Savana sebelum mereka sah menjadi pasangan suami-istri.
Gadis itu pun berbisik. "Dan sangat hot."
Seketika bulu kuduk Javier meremang, aliran darahnya berdesir hebat. Tangannya menarik tengkuk Savana, lalu ia kembali melumatt bibir cantik itu. Hanya bertukar saliva saja, tidak sampai melakukan hal lain.
"Hmphh....ahhh..." lenguh Savana disela-sela ciuman panas yang di hujani oleh Javier padanya.
Javier melepas ciumannya itu manakala ia merasa si gadisnya mulai kehabisan nafas. Savana pun terengah, ia menghirup oksigen sebebasnya. "Aku... hampir tidak bisa bernafas...setiap kali berciuman denganmu."
Savana memeluk kekasihnya dengan penuh kasih sayang. Ia selalu merasakan hangatnya pelukan Javier sama seperti pelukan Steve, ayahnya. "Kau pandai membuat hatiku berdebar, Hubby."
"Kau pandai membuat juniorku berkedut sayang." kata Javier vulgar dan sontak saja membuat Savana mengurai pelukannya.
"Mesum!" Savana memukul lengan Javier, ia menatap kekasihnya dengan kesal.
"Mesumku hanya padamu dan hanya kau yang melihat sisi mesumku." kata Javier bersungguh-sungguh.
"Kau harus mesum padaku saja, kalau kau ingin seksss...jangan kau salurkan pada wanita lain. Kau harus mengatakannya padaku!"
"Baby, aku masih bisa menahannya meski aku ingin. Kau jangan bicara sembarangan bawa aku akan mencari wanita lain untuk menuntaskan nafsuku. Itu tidak akan pernah terjadi. Tapi pasti kita akan melakukannya, nanti setelah kita resmi. Paham?" Javier sangat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia tidak akan pernah mencari wanita lain untuk menuntaskan nafsunya, ia masih waras. Dan ketika nafsunya sudah berada di ujung, dia masih bisa bermain solo.
Javier tegaskan sekali lagi, bahwa hanya Savana yang akan menjadi teman hidup dan tempatnya menuntaskan cinta serta hasrat dalam dirinya.
"Aku sangat beruntung memilikimu Hubby," Savana mendusel di dalam pelukan Javier dengan manja.
__ADS_1
"No baby girl, aku yang sangat beruntung karena memiliki dirimu. Kau lupa statusku? Aku seorang duda dengan satu anak, sedangkan kau adalah seorang gadis. Kau juga masih muda dan aku sebenernya takut."
"Takut? Kenapa?"
"Takut, apabila suatu hari nanti kau akan berpaling dari diriku yang sudah tua ini." kata Javier insecure. Secara kan Savana masih muda, cantik, dia bisa mencari pria lain yang lebih muda atau sedikit lebih dewasa darinya. Sedangkan dirinya sudah tua, apakah dia pantas mendapatkan Savana? Gadis yang seumuran dengan putrinya.
Sontak Savana mendongakkan kepalanya, ia kembali menatap nyalang pada kekasihnya itu. Savana tidak senang dengan ucapannya. "Hey! Itu tidak akan pernah terjadi! Walaupun kau sudah tua, kau tetap muda dan tampan bagiku hubby. Seperti apapun dirimu, you always be my love." lirih Savana lembut.
Hati Javier tersentuh mendengar kalimat-kalimat manis yang keluar dari bibir cantik Savana. Pria itu menatap Savana dengan lekat, berusaha untuk mencari kebohongan di dalam mata kekasih kecilnya itu. Namun dia tidak menemukan kebohongan di sana, yang ada hanya jujur yaitu ketulusan.
"Aku percaya, mari kita berjuang sayang. Dan sekarang aku kau makan dulu, bukankah kau belum makan? Aku bawakan makanan manis untukmu, tapi sebelum itu kau harus makan nasi terlebih dahulu." kata Javier.
"Tapi aku sedang malas makan Nasi."
"Kau harus makan, kau sangat kurus. Aku ingin mau gemuk."
"Kalau gemuk, aku tidak cantik lagi!' gadis itu sangat ketakutan walau hanya membayangkan dirinya gemuk. Bagaimana jika Javier tidak meliriknya lagi? Ah, Savana sangat takut. Tapi Javier bukan orang yang seperti itu.
"Kata siapa? Kau akan tetap cantik dimataku, mau kau gemuk sekalipun. Dan membayangkan bokongmu berisi, sepertinya bagus." ujar Javier seraya meremas b*kong Savana dengan jahil.
"Hubby!!" seru Savana sebal dan pria yang membuatnya kesal itu malah tertawa terbahak-bahak.
Kemudian Javier pun menyuapi Savana makan dengan penuh kasih sayang. Mereka mau ngobrol di kamar cukup lama.
****
Di mansion Sanderix.
Terlihat seorang wanita tua berpenampilan mewah dan modis, tengah duduk bersama Mona dan Elisa. Kedatangannya kemari adalah untuk Javier.
"Daddymu belum pulang El?"tanya wanita tua itu pada cucunya.
"Iya Oma,"
"Daddymu itu selalu saja sibuk bekerja, kali ini Oma harus berhasil membuatnya menikah!" seru Margareta penuh tekad.
'Dan menikahnya harus denganku' batin Mona sambil tersenyum berseri-seri.
__ADS_1
...****...
Ada dua gunung lagi yang harus di lewati guys untuk Savana dan Javier 🙈 harap bersabar 😊 jangan lupa komennya kakak kakak...Semoga mama Javier baik ya