Terjerat Pesona Ayah Sahabatku

Terjerat Pesona Ayah Sahabatku
Bab 49. Jangan sentuh aku


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Suara isak tangis itu membuat pria yang masih terbaring dengan tubuh telanjang dibalik selimut pun terbangun. Alangkah terkejutnya Javier saat melihat seorang wanita berambut coklat yang memunggunginya dan sedang menangis. Dan tubuh gadis itu gemetar.


"Hiks...hiks..."


"Baby girl?" panggil Javier seraya memegang tangan Savana dan mencoba membalikkan tubuh wanita itu. Namun Savana enggan berbalik dan terus meringkuk dibalik selimutnya.


Javier memegang kepalanya, mencoba mengingat kejadian semalam. Sambil mengingat kejadian itu, Javier melihat-lihat di sekitar ranjang dan lantai di kamar itu. Baju, celana, jas dan sepatunya, berserakan dimana-mana. Ya, Javier ingat kejadian semalam. Dimana kepalanya berputar dan kehilangan akal setelah minum segelas jus yang diberikan salah satu rekan bisnisnya semalam. Lalu ingatan tentang semalam ia memperlakukan Savana kembali terlintas satu persatu.


"Sial!" umpat Javier saat menyadari kesalahannya telah memaksa Savana semalam. Pasti gadis itu sangat kesakitan karena melakukan xx tanpa foreplay terlebih dahulu. Dan jangan lupakan bahwa itu adalah pertama kalinya.


"Baby, apa kau baik-baik saja? Lihat aku baby, please..." Javier beranjak duduk kemudian ia memegang tubuh Savana agar mau berbalik padanya. Ia ingin melihat keadaan kekasihnya itu.


"Lepas! Jangan sentuh aku..." sentak Savana dengan suara parau yang terisak. Javier menduga dari suaranya, gadis itu pasti menangis semalaman. Atau jangan-jangan ia tidak tidur semalam? Astaga! Dia sangat merasa bersalah.


Javier pun beranjak dari tempat tidurnya, ia memakai celana boxernya terlebih dahulu sebab ia telanjang dibalik selimut itu. Kemudian ia pun berjalan ke sisi tempat Savana terbaring. Akhirnya ia bisa melihat wajah Savana yang tampak kacau, matanya sembab, bibirnya bengkak dan di leher juga dadanya penuh kissmark.


"Baby girl, lihat aku! Mana yang sakit sayang?" Javier berusaha mendudukkan Savana diatas ranjang, meski gadis itu menolaknya.


"Jangan sentuh aku! Kau jahat, jahat! Hiks.." suara tangisan Savana mulai melemah. Mungkin gadis itu lelah karena menangis semalaman.


Secara paksa namun lembut, Javier membuat gadis itu duduk di atas ranjang. Savana buru-buru menutupi tubuhnya masih telanjang itu. "Hiks..hiks..."


"A-aku minta maaf sayang, aku...aku semalam dalam keadaan tidak sadar dan aku--" pria itu gusar sendiri, ia bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Savana. Sekarang pikiran dan hatinya di penuhi rasa bersalah, mengingat buahnya dia semalam. Savana pasti merasa di perk*sa untuk pertama kalinya, ini menyakitkan.


"Ah...ahh..." Savana meringis kesakitan, ia memegangi bagian perutnya.


"Sayang, kau kenapa? Perutmu sakit?" tanya Javier panik melihat kekasihnya kesakitan. Terpaksa Javier harus menyingkap selimut yang dipakai oleh Savana.


"Jangan...jangan..." Savana memegang selimut yang ada ditubuhnya. Dia tidak mau membiarkan Javier melihat tubuhnya.


"Aku lihat sebentar baby," tenaga Savana kalah jauh dengan tenaga pria itu. Akhirnya Javier berhasil menyingkap selimut itu dan ia melihat banyak luka ditubuh Savana. Terutama di bagian intinya, seprai itu berdarah banyak dan Savana merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Astaga! Sayang, kau--"

__ADS_1


"Ugh...sakit, perutku sakit sekali. Perih...hiks...hiks..."


"Aku akan membawamu ke rumah sakit, baby!" seru Javier segera memakai pakaiannya. Ia tak tega melihat Savana kesakitan dan wajahnya pucat. Namun saat ia akan membawa Savana, tiba-tiba saja ia urungkan niat untuk pergi ke rumah sakit. Bila mereka ke rumah sakit, bukankah nanti Savana yang akan malu sebab dokter pasti akan tau masalahnya.


Akhirnya ia pun mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai dan menelpon Leo. "Leo! Cepat kau ke apartemen Savana, bawa seorang dokter wanita kemari!" ucap Javier lalu langsung menutup telponnya.


"Masih sakit baby?" tanya Javier dengan lembut, matanya berkaca-kaca di penuhi rasa bersalah. Seharusnya ia bisa mengendalikan diri, tapi obat itu terlalu kuat dan akhirnya membuat Savana jadi korban. Apalagi tadi malam adalah kali pertamanya.


"Aku benci padamu...aku benci..."


"Iya sayang, aku tau. Maafkan aku, sungguh...maaf..." Javier memegang tangan Savana, namun gadis itu kembali menepisnya dan menatapnya dengan sinis.


"Jangan sentuh a--"


Belum sempet menyelesaikan kata-katanya, Savana terbaring tidak sadarkan diri diatas ranjang itu. Javier semakin panik saat melihatnya. "Baby! Baby bangunlah, baby!" Javier memegangi tubuh Savana yang dingin.


'Sial! Terkutuklah kau Javier!' umpat Javier menyesal dalam hatinya.


****


"Leo, sudah kau selidiki kandungan apa yang ada di dalam minumanku itu dan siapa yang memberikannya?" tanya Javier tidak sabar.


"Sudah pak, memang benar kalau di dalam minuman itu ada kandungan afrosidiak. Dan jumlahnya cukup banyak pak!"


"SIAL!" maki Javier dengan tangan memukul tembok yang ada didepan kamar. "Lalu benar apa pelakunya wanita itu?!" dengus Javier marah.


Leo menganggukkan kepalanya. "Benar, pak."


"SIALAN! Karena dia, aku jadi menyakiti baby girlku! Lihat saja Mona, aku akan membalasmu." pria itu mendengus marah, sepertinya ia sudah punya rencana untuk membuat Mona hancur.


CEKLET!


Pintu kamar itu pun terbuka dan memperlihatkan sang dokter wanita yang memeriksa kondisi Savana.


"Bagaimana keadaannya dokter?"tanya Javier cemas.

__ADS_1


"Anak bapak mengalami pendarahan karena bercinta tanpa pemanasan terlebih dahulu." kata dokter itu tanpa filter. Teman dari Leo ini memang bicaranya blakblakan.


"SIAL! Dia bukan anak saya! Dia kekasih saya!" sergah Javier kesal karena Savana dibilang anaknya.


"I-iya, baiklah pak. Saya ingin mengatakan bahwa ada baiknya bercinta dengan baik, memperlakukan wanita dengan lembut dan jangan berperilaku seperti binatang buas. Apa anda tau? Baru saja saya menjahit luka di bagian intinya? Seorang wanita tidak pantas di perlakukan seperti itu, tuan."


"APA? Kau bilang aku binatang? Hey, Leo dimana kau menemukan wanita kasar ini?!" hardik Javier kesal dan tidak terima dengan kata-kata si dokter ini. Bahkan wajahnya datar-datar saja. Menyebalkan!


"Sabar pak sabar, bukankah poin utamanya adalah nona Savana. Liz, jadi apa yang harus dilakukan agar nona Savana sembuh?" akhirnya Leo yang bertanya untuk mengalihkan perhatian.


"Saya sudah tuliskan resep salep untuk luka-lukanya, di oleskan sehari 3 kali. Juga ada obat untuk nona. Lalu untuk sementara ini, nona tidak boleh banyak bergerak, apalagi BERCINTA. Bagian xx nya masih terluka dan bisa mengalami pendarahan lagi bila dipaksakan. Dia pasti sangat kesakitan, jika saya jadi dia...saya sudah pasti melaporkan anda ke kantor polisi." kata dokter itu panjang lebar dan membuat Javier semakin sebal. Tapi dia menahan amarahnya, lebih penting Savana daripada emosinya, bukan?


Dia harus merawat gadis itu, karena ulahnya Savana terluka begini dan yang paling penting adalah luka mentalnya. Setelah dokter itu pergi dengan Leo, Javier segera masuk ke kamar Savana. Ia meninggalkan semua pekerjaannya hari itu untuk menjaga Savana. Savana sudah berpakaian lengkap dan sudah bersih karena dokter wanita itu membantunya.


Savana lelap dalam tidurnya, wajah cantiknya terlihat lelah dan letih. Javier jadi semakin merasa bersalah, sangat. Bagaimana bisa ia menyakiti wanita yang ia cintai? Kenapa Javier tidak bisa mengendalikan dirinya? Ya tuhan.


Selagi menunggu Savana bangun dari tidurnya, Javier pergi ke dapur apartemen itu dan memasak makanan untuk Savana. 3 jam kemudian, Savana bangun dari tidurnya. Matanya melihat ke sekeliling, kepalanya pusing mungkin karena ia kurang tidur. Atensi Savana pun terhenti saat melihat sosok pria yang tengah duduk di sofa kamarnya.


'Kenapa dia ada disini?' batin Savana kesal.


"Baby, kau sudah bangun?" Javier tersenyum lalu ia menghampiri Savana.


Gadis itu memperhatikan mata Javier yang sembab dan merah seperti habis menangis. Tapi ia berusaha cuek saja.


"Kau mau kemana sayang?" tanya Javier saat melihat Savana menyingkapkan selimutnya dan menurunkan satu kakinya. Javier memegang tangannya.


"Jangan sentuh AKU!" Savana menepis tangan itu dengan kesal. Matanya melotot pada Javier.


"Maafkan aku sayang, maaf. Aku tidak sengaja menyakitimu, aku sudah melanggar prinsipku. Kau pasti marah padaku, kau pasti kecewa. Tidak apa-apa, aku akan terima semua kemarahanmu itu." Javier memeluk Savana pelan-pelan, ia menyesali perbuatannya semalam. Dan Savana juga tidak semudah itu memaafkannya.


Sementara itu di luar apartemen, terlihat Elena sedang memencet password apartemen Savana. Setelah pintu itu terbuka, Elena langsung masuk ke dalam apartemen tersebut.


...****...


Spoiler!

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kau akan mengkhianatiku seperti ini Savana!"


__ADS_2