
...🍁🍁🍁...
Steve dan Savana kini telah berada didepan altar, bersama pendeta dan calon mempelai pria yang telah menunggu mereka disana. Pernikahan itu diadakan di taman penuh dengan bunga di kota Paris. Tadinya Savana ingin menikah di pantai, tapi Javier dan Margaretha melarangnya karena air laut sedang pasang. Juga udara pantai tidak cocok untuk Savana sebab gadis itu sekarang mudah mual karena udara dingin.
Ya dan disini sekarang mereka berada. Di taman sebuah kota Paris, indah dan berada di musim panas. Savana terlihat sangat cantik dengan balutan dress berwarna putih. Javier terpana sampai dia tidak berkedip saat melihat calon istrinya itu. Tatapan pria itu seakan ingin segera memeluk dan membawa Savana ke dalam kamar. Otak mesumnya traveling saat melihat kecantikan Savana.
"Berkediplah tuan Javier." serka Steve pada Javier yang masih tenggelam dalam lamunannya. "Aku tau putriku sangat cantik, tapi tolong kendalikan dirimu." imbuhnya lagi dan berhasil membuat satu lengkungan senyum di bibir Savana dan Javier.
"Jangan panggil saya tuan, ayah mertua. Panggil nama saya saja, sebentar lagi saya akan segera menjadi menantu anda." ucap Javier sambil tersenyum.
"Aku akan coba membiasakan itu, Javier. Nah, sekarang aku serahkan putri kesayanganku padamu. Tolong jaga dia, jangan pernah membuat gadis kecilku menangis, kau harus berjanji padaku untuk selalu membahagiakannya. Bersamanya, dalam suka maupun duka. Aku tidak akan mentolerir kesalahan sedikit apapun, bila kau berani membuat putriku menangis. Camkan ini baik-baik!" seloroh Steve selaku ayah dari calon mempelai wanita kepada calon menantunya.
"Saya berjanji, saya akan selalu membahagiakan Putri anda. Saya tidak akan pernah membuatnya kecewa atau pun menangis, apalagi menyakitinya. Jika itu sampai terjadi, saya janji...saya tidak akan pernah membuat anda kecewa. Cinta dan hati saya hanya satu dan sudah saya persembahkan kepada Savana. Entah, kata-kata ini anda anggap sebagai buaian atau apapun. Namun saya mengatakan ini dari dalam lubuk hati saya dan Papa bisa melihat ketulusan saya." tutur Javier yang membuat Steve dan Savana tersentuh.
"Baiklah, kalau begitu aku akan melihat ketulusanmu. Semarang kuserahkan dan kupercayakan putriku padamu, menantu." kata Steve sambil menyerahkan tangan Savana pada Javier hingga akhirnya kedua tangan pasangan itu pun bersatu.
Janji suci pun di ucapan oleh Javier dan Savana. Janji yang mengikat hubungan mereka menjadi suami-istri. Mereka saling memasangkan cincin di jari masing-masing. Keduanya tersenyum penuh kebahagiaan, sama seperti para tamu yang bersorak-sorai mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Dan jangan lupakan bahwa di sana juga ada Jonas dan Justin, dua pria yang pernah dekat dengan Savana. Mereka harus menelan kenyataan bahwa Savana sudah menjadi istri orang. Tapi pada akhirnya mereka mencoba menerima kenyataan bahwa Savana bukan jodoh mereka.
"Sekarang mempelai pria bisa mulai menci--"
Sang pendeta belum sempat menyelesaikan ucapannya kepada sang mempelai pria, namun sepertinya sama mempelai pria sudah tidak sabar. Dan lihatlah, saat ini Javier sudah membuka veil Savana, dan mencium pengantin wanitanya dengan mesra dihadapan semua orang yang ada di sana.
"Wow... Daddy!" pekik Elena yang langsung mengambil ponselnya di dalam saku, kemudian dia mengabadikan momen ini. Margaretha juga tak kalah heboh, ia meminta fotografer mengabadikannya juga.
"Jangan lupa nanti foto yang ini di perbesar ya pak fotografer!" ujar Margaretha pada seorang fotografer pria itu. Raut wajah si wanita tua itu terlihat berseri-seri.
"Baik nyonya." sahut si fotografer seraya senyum dan melakukan tugasnya dengan kamera yang dia bawa.
"Mantap jiwa pak Presdir!" seru Leo sambil bertepuk tangan, saking hebohnya Leo. Ia sampai tak sengaja menyenggol Alexa. Alexa hampir jatuh, namun tangan Leo sigap merengkuh pinggang mungil gadis itu.
__ADS_1
"Aduh!" pekik Alexa kesakitan sebab kening Alexa tak sengaja terbentur sikut Leo. Alexa mendongak ke arah Leo. Ia melihat netra berwarna coklat muda itu dengan dalam. Mata Alexa menelisik wajah tampan pria itu dengan sedikit brewok dan kumis tipis dibawah hidungnya.
'Oemji, sektretaris om Javier si hot Daddy, hot juga ya. Ganteng sekali'
Alexa menelan ludah, rupanya ia baru pertama kali melihat wajah si sekretaris papa sahabatnya itu dari dekat. Tampan juga.
"Tampan." gumam Alexa tanpa sadar.
"Maaf? Kau bilang apa nona?" tanya Leo sambil melepaskan pegangan tangannya dari pinggang Alexa.
"Ah! Tidak apa-apa!" Alexa tersentak dari lamunannya sendiri dan berusaha menetralkan raut wajahnya yang tadi sempat terpesona. Ya, dia terpesona pada Leo. Pria berusia 35 tahun itu dan dia belum menikah.
'Astaga apa yang aku lakukan? Hey Alexa! Kau sudah punya kekasih, kenapa kok malah terpesona pada pria yang usianya diatasmu ini? Singkirkan itu Alexa!' Alexa menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha menepis pikiran buruknya tentang Leo.
"Kau baik-baik saja kan nona? Maaf karena aku menyikutmu tadi. Apa kau terluka?" tanya Leo cemas seraya melihat wajah Alexa. Kemudian dia menemukan ada kemerahan di kening Alexa.
"Oh! Keningmu terluka, biar saya bantu nona." ucap Leo yang merasa bertanggung jawab terhadap Alexa karena dia sudah menyikut keningnya tanpa sengaja.
"Mari ikut saya, saya akan obati." ajak Leo yang tidak bisa ditolak oleh Alexa. Gadis itu pun mengikuti Leo dari belakang.
****
Usai acara janji suci pernikahan, kini semua para tamu undangan menikmati pesta resepsi pernikahan Javier dan Savana di taman itu. Beragam makanan dan minuman tersedia disana, semua makanan dan minuman yang disajikan adalah kualitas terbaik dan juga harga mahal. Semua Margaretha yang menanggungnya dan ia melarang Savana untuk mengeluarkan uang. Tapi tetap saja Savana juga Steve merasa tak enak. Mereka turut membantu dalam hal biaya juga, biaya MUA dari Steve.
"Savana selamat ya," kata Jonas sambil mengulurkan tangannya pada Savana. Dia bersama dengan kekasihnya yang saat ini sedang hamil besar.
"Iya, terima kasih Jonas." sahut Savana sambil membalas uluran tangan dari Jonas. Namun dengan cepat Javier menepisnya.
"Jangan lama-lama." dengus Javier dingin dan tatapannya begitu dingin.
__ADS_1
"Haha tenang saja om, saya sudah punya kekasih dan kekasih saya sedang hamil besar. Om bisa lihat sendiri. Ah ya dan sebentar lagi kami akan menikah , mungkin." oceh Jonas sambil menunjukkan wanita dengan rambut blonde dan perut buncitnya itu.
"Sayang kenapa kau bilang mungkin? Kau Harusnya bilang pasti." kata wanita itu seraya menepuk bahu Jonas.
"Bagaimana nanti saja ya sayang." kata Jonas dengan santainya.
Sikap Jonas yang seperti ini membuat Savana tertawa sumbang, Javier melihat istrinya tertawa begitu jadi salah paham. Ia pikir istrinya masih ada rasa pada si Jonas ini dan Javier tidak lupa bahwa Jonas adalah mantan tunangan istrinya. Pria yang membuat Savana sakit hati, hingga Savana nekad pergi ke klub dan meminum minuman haram untuk pertama kalinya.
"Ya sudah Savana, om, bahagia selalu ya." kata Jonas menggandeng tangan wanita disampingnya itu.
"Saya bukan Om!" hardik Javier kesal. Tak terima dipanggil om, padahal dirinya tidak setua itu tuh.
Setelah mengucapkan selamat, Jonas dan wanita hamil itu pergi dari sana. Savana langsung melihat wajah suaminya yang cemberut. "Sayang."
"Sepertinya ada yang masih cinta sama mantan."
"Huh? Hubby, kau cemburu?" goda Savana seraya membelai tengkuk sang suami. Tak peduli ada dimana dia sekarang. Javier masih tetap diam dengan wajah datarnya, hingga Savana memberanikan diri untuk mengecup bibirnya sekilas dan benar saja. Kali ini Javier menoleh ke arahnya.
"Baby..."
"Dia masa laluku, kau masa depanku untuk sekarang, nanti dan selamanya." ucap Savana seraya tersenyum.
"Kita bicarakan hukumanmu di ranjang nanti malam," bisik Javier yang santai saja membuat semburat merah di wajah Savana.
"Hubby..." lirih Savana.
Para tamu masih terus berdatangan untuk memberikan ucapan selamat ataupun untuk sekedar berfoto bersama pengantin baru. Mereka semua terlihat bahagia, terutama pengantin baru itu.
Sampai Justin dan ibunya datang kesana, lalu membuat kehebohan dengan datangnya para wartawan juga.
__ADS_1
...***...