Terjerat Pesona Ayah Sahabatku

Terjerat Pesona Ayah Sahabatku
Bab 37. 1 bulan kemudian


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


1 bulan telah berlalu sejak Savana kehilangan penglihatannya. Sejak saat itu Savana tinggal di mansion Elena dan ia dirawat oleh orang-orang yang ada di mansion tersebut. Bahkan Javier juga sering pulang ke mansion, sejak Savana tinggal disana. Dengan alasan menemui Elena. Savana dan Javier sama-sama masih merahasiakan hubungan mereka dari Elena.


Sejak kejahatannya terbongkar, Elisa di usir dari rumah itu dan tidak dibekali uang sedikitpun oleh Javier. Elisa di usir dan Javier yang membuatnya kembali ke luar negeri, agar wanita itu tidak lagi mengganggu dirinya maupun Elena.


Keadaan Savana, dirahasiakan juga dari neneknya. Savana yang memintanya, ia tidak mau neneknya cemas. Apalagi wanita tua itu sedang liburan. Sudah sebulan Savana tidak bisa melihat dan selama itu pula Javier belum mendapatkan donor mata untuk kekasihnya.


Malam itu Elena menemui Javier di ruang kerjanya, untuk menanyakan tentang donor mata. Elena tidak tega melihat Savana terus menerus begini. Savana pun sementara menutup galeri seni miliknya yang baru saja buka karena kondisi Savana yang tidak memungkinkan untuk melukis.


Tok, tok, tok!


Javier menoleh ke ambang pintu saat ia mendengar suara ketukan pintu ruang kerjanya. Javier melihat sosok Elena disana. Wajah Javier terlihat lelah, matanya juga sayu.


"Dad, boleh aku masuk?" tanya Elena meminta izin.


"Masuklah sayang," sahut Javier.


Elena berjalan mendekati Javier, begitu papanya memberi izin. Elena menepuk bahu papanya, lalu menatap Javier dengan sendu.


"Savana sudah tidur? Apa dia sudah makan dan minum obatnya?" tanya Javier pada Elena.


"Sudah dad. Tapi bagaimana dengan kunjungan Daddy ke Belanda hari ini? Apa Daddy sudah menemukan pendonor itu?" tanya Elena penuh harapan, tapi wajah Javier tidak menunjukkan tanda-tanda harapan itu menjadi nyata. Pria itu menggelengkan kepalanya. Hari ini Javier memang pergi ke Belanda, setelah dia mendapatkan informasi dari Leo tentang pendonor mata yang ada di negara kincir angin itu. Tapi hasilnya nihil, sebab si pendonor mata itu telah mendonorkan matanya untuk yang lain.


"Dad, aku tidak bisa melihat Savana seperti ini terus. Aku...aku tidak bisa dad." Elena terisak mengingat kesalahannya pada Savana. Sesak dadanya mengingat satu bulan ini Savana harus kesulitan dengan keterbatasannya yang tidak biasa itu.


"Savana...dia selalu bilang baik-baik saja, tapi sebenarnya dia sedih, aku tau itu dad." gadis itu menangis. Dan beberapa detik kemudian, Elena sudah berada didalam dekapan daddynya.


"Daddy tau sayang, kau jangan menyalahkan dirimu lagi. Sekarang lebih baik kau mendukung Savana agar dia tidak sedih dan semangat! Savana juga kuat, ia berusaha untuk tegar dengan nasibnya. Urusan donor mata, biar Daddy yang mencarinya." Javier harap dengan kata-katanya ini, bisa membuat Elena merasa lebih baik. Javier tau berapa dalam rasa sakit hati dan kejamnya rasa bersalah pada diri Elena. Gadis itu sama hancurnya dengannya Savana.


Malam itu setelah memastikan Elena dan Savana tidur, Javier berjalan kembali ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara tongkat yang seperti berjalan. Ya, itu adalah Savana yang saat ini tengah berjalan dengan tongkatnya entah mau kemana.


"Mau kemana dia malam-malam begini?" tanya Javier terheran-heran. Javier pun mengikuti Savana sampai ke dekat anak tangga.


Javier terlihat was-was melihat Savana mencoba menuruni tangga dan meraba-raba dengan tongkatnya. Dan benar saja, langkahnya hampir saja membuat jatuh. Javier dengan sigap merengkuh pinggangnya.

__ADS_1


"Hubby? Apa ini kau?" Savana meraba-raba tangan kekar yang melingkar di perutnya itu.


"Kenapa kau bisa tau ini aku? Instingmu tajam juga baby." bisik Javier, kemudian dia menarik tubuh kekasihnya menjauh dari anak tangga dan membawanya ke tempat aman.


"Dari aroma tubuhmu, aku bisa tau. Walaupun aku buta, tapi penciumanku masih berfungsi dengan baik." Savana kembali mengukir senyum manis, ia bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Namun entahlah, Javier merasa bahwa Savana hanya berpura-pura.


Javier memandang kekasihnya dengan sedih, hingga satu tangan pria itu hinggap di pipi Savana dan mengelusnya dengan lembut.


"Jangan kasihani aku! Jangan menatapku dengan iba! Aku baik-baik saja sungguh." ucap Savana tiba-tiba yang membuat Javier tersentak. Walaupun Savana tidak bisa melihat, ia bisa merasakan bahwa Javier tengah menatapnya.


"Darimana kau tau aku menatapmu dengan iba? Aku tidak melakukan itu!" sanggah Javier


Savana menepis tangan Javier, ia menatap tajam tapi sayangnya tatapannya itu meleset kemana saja, bukan pada Javier. Tapi Javier tau tatapan tajam itu untuknya.


"Aku buta, aku tidak bisa melihat tapi jangan kau pikir aku tidak merasakannya. Ayolah, jangan perlakukan aku seperti orang cacat. Meski selamanya aku tidak bisa melihat lagi, aku tidak--"


Bibir Savana bungkam, manakala ia merasakan benda kenyal menempel di bibirnya. Melumatt, menjelajahi setiap rongga mulutnya dengan lembut. Savana juga memberikan akses pada pria itu untuk mengeksplor bibirnya.


Tangan Savana reflek memeluk sang kekasih, alias ayah sahabatnya itu dengan erat. Menikmati ciuman itu dengan mesranya. Disertai dengan buliran hangat yang membasahi pipi Savana.


"Maafkan aku...aku...aku malah menangis seperti ini, maafkan aku." Savana menangis terisak.


"Tidak apa, wajar saja kau menangis tapi jangan sering. Kasihan matamu yang cantik ini sayang," lirih Javier, lalu mengecup kening Savana dan ciumannya beralih pada kedua kelopak mata gadis itu.


"Aku bisa melihat lagi kan? Aku bisa kan?" tanya Savana dengan nafas yang tersengal-sengal karena terisak.


"Bisa sayang. Tolong tunggulah sebentar lagi, bertahan sebentar lagi." pinta Javier walau ia pun berat. Membayangkan bagaimana jika dia adalah di posisi Savana.


"Aku bisa menunggu...namun aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bersedih. Dan kalau aku tidak bisa melihat lagi, lebih baik kau cari wanita lain saja. Wanita yang lebih sempurna dariku karena aku--"


Cup!


Javier kembali membungkam Savana dengan ciuman basahnya, tapi kali ini singkat. Dan dia tidak peduli jika ada yang memergokinya.


"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, seperti apapun keadaanmu. Aku akan tetap mencintaimu baby girl, aku akan selalu bersamamu. Sungguh, kata-katamu itu sangatlah mengerikan. Jangan di ulangi lagi!" seloroh Javier tegas. Ia menekankan pada gadis itu untuk tidak berbicara sembarangan. Sebab ia tidak akan pergi meninggalkan Savana dalam keadaan apapun dan dia sudah memiliki rencana akan membongkar hubungan mereka pada Elena.

__ADS_1


"Tapi aku tidak sempurna--"


"Stop! Aku tidak mau mendengarnya lagi." Javier menggendong Savana apa bridal. Lalu ia membawa gadis itu untuk kembali ke kamar dan pergi tidur. Padahal tadinya dia ingin pergi ke taman untuk menghirup udara di malam hari. Tapi Javier tidak mengizinkannya, ia begitu protektif terhadap kesehatan Savana.


Sementara itu Hilda terlihat berada dibawah tangan, ia memegang dadanya setelah melihat ketiga kali. Savana dan Javier tampak begitu intim. Tapi Hilda tidak banyak bicara dan memilih untuk menutupinya. Lagipula, apa gunanya ikut campur terhadap hubungan orang lain?


"Semoga semuanya berjalan lancar untuk Tuan besar dan nona Savana." Hilda malah mendoakan agar hubungan keduanya selalu berjalan lancar.


****


Keesokan harinya.


Savana terlihat murung di pagi hari, makan pun tidak ada gairah seperti biasanya. Savana sudah bisa makan sendiri, padahal awalnya ia tak terbiasa dengan keadaan ini. Namun sekarang ia sudah mulai membiasakan diri dengan kebutaannya dan bisa makan dengan kedua tangannya sendiri.


"Van, kau baik-baik saja? Apa kau sakit?" tanya Elena mendahului sang Daddy yang juga akan bertanya. Javier dan Elena menatap Savana dengan cemas.


"Aku tidak apa-apa."


"Katakan ada apa?" tanya Javier dengan kening berkerut.


"Aku hanya bosan, om." jawab Savana akhirnya ia jujur. Savana bosan, dunia gelap ternyata tidak indah seperti apa yang dia bayangkan. Sulit, hidup dalam kegelapan dan membuatnya bosan.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kau ikut aku untuk pemotretan hari ini? Biar tidak bosan, mau ya?" tawar Elena seraya tersenyum.


"Tidak usah, aku hanya akan membuatmu malu." jawaban Savana yang insecure itu sontak saja membuat hati ayah dan anak yang ada didepannya menjadi mencelos.


"Jangan pernah katakan itu! Aku sama sekali tidak malu, aku sayang padamu seperti saudaraku sendiri! Jadi aku tidak mungkin malu! Ayo, aku akan mendandanimu. Kita akan berangkat." Elena dari tempat duduknya, kemudian dia menarik tangan Savana dan membawanya untuk di dandani.


'Seharusnya aku tidak mengatakan kalau aku bosan'


Javier tersenyum tipis saat melihat itu semua. Javier harap dengan ajakan Elena, Savana akan merasa lebih baik.


...****...


Cuplikan bab berikutnya...

__ADS_1


"Pak, sudah ada yang bersedia mendonorkan matanya untuk nona!"


__ADS_2