Terjerat Pesona Ayah Sahabatku

Terjerat Pesona Ayah Sahabatku
Bab 42. NENEK!


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Steve mematung manakala ia mendengar suara dari Savana yang memanggilnya. Suara dengan kata 'papa' yang selama ini selalu ia rindukan dari gadis itu.


Bulir air mata jatuh membasahi wajah ayah dan anak itu. Steve mematung, dia masih enggan untuk berbalik. Ia bingung, apa yang harus ia katakan pada putrinya itu. Steve, pria percaya diri dan selalu berdiri tegak itu, kini lemah tak berdaya di depan putrinya itu.


Sejujurnya, Steve takut bahwa Savana akan mengatakan hal yang menyakiti hatinya. Takut, Savana akan mengatakan bahwa gadis itu membencinya. Sungguh, lebih baik Steve tidak mendengarnya. Ketika Steve hendak melangkah pergi, kata-kata Savana kembali membuat dirinya terdiam.


"Papa...apa papa tidak merindukanku, pa? Apa papa akan meninggalkan aku lagi, pa? Baik, kalau itu pilihan papa, aku tidak akan...tidak akan memaksa papa untuk tinggal." Savana terisak, ia memegang dadanya yang sesak. Savana benci dengan sikap papanya, tapi tak bisa Savana pungkiri bahwa rasa rindunya lebih besar pada sang papa.


Elena dan Javier ada dibelakang Savana, mereka siap siaga bila terjadi sesuatu pada Savana nanti. Bersiap menopang, bila Savana roboh dan siap memeluk bila gadis itu butuh pelukan.


"Aku tau papa membenciku, tapi aku merindukan papa...hiks..."


Isakan tangis gadis itu, membuat Steve tidak berkutik lagi. Pria itu kemudian membalikkan badannya, ia menoleh ke arah Savana yang wajahnya memerah dan matanya berembun oleh air asin yang hangat. "Nak..."


"Maafkan Savana pa, maafkan Savana... Savana janji Savana tidak akan nakal lagi. Tapi izinkan Savana memeluk Papa sekali saja." Savana menatap Steve yang hanya berdiri beberapa langkah darinya, menatapnya penuh harap.


Steve tidak menyangka bahwa Savana tidak terlihat membencinya,tapi justru merindukannya. Steve pikir Savana akan menyumpahinya, memakinya karena dia sudah menjadi Ayah yang tidak bertanggung jawab dengan menelantarkan putrinya. Tapi dugaan Steve salah besar, Savana tidak membencinya sedalam itu. Semua benci itu kalah oleh rasa rindu yang bersarang di dalam benaknya.


Steve kemudian berlari menghampiri Savana, dipeluknya tubuh gadis kecilnya itu dengan erat. Sudah hampir 15 tahun mereka tidak bertemu, pelukan rindu rasanya tidak cukup untuk meluapkan segala rasa di dalam benak mereka.


Tangis keduanya pun pecah, manakala Savana mengungkapkan rasa rindunya pada Steve dan Steve mengungkapkan kata maaf pada Savana. "Papa, aku sangat merindukan Papa... Kenapa Papa melupakanku demi keluarga baru papa? Apa papa tidak sayang padaku? Hiks...maaf karena aku adalah anak yang nakal pa. Aku anak baik, jadi papa jangan tinggalkan aku, pa."


Steve memperat pelukannya, ia menangis sejadinya penuh rasa yang berkecamuk didalam dirinya. Ucapan Savana persis seperti Savana waktu kecil dulu. Dan kata-kata itu mengingatkan Steve akan masa dulu.


...Vana sayang, kalau kau nakal lagi! Papa akan meninggalkanmu....

__ADS_1


Kata-kata itulah yang selalu diucapkan oleh Steve ketika Savana kecil berbuat ulah dan Savana selalu mengingatkan ucapan papanya. Waktu kecil Savana sangat usil dan jahil, dia anak yang aktif dan ceria. Kata-katanya selalu membuat siapapun disekitarnya menjadi tertawa bahagia. Namun sejak perpisahan kedua orang tuanya, Savana menjadi lebih pendiam dan sikapnya mulai berubah. Ia tidak membuat ulah dan memilih jadi wanita yang fokus dalam belajar. Menjadi anak yang baik.


"Tidak nak! Kau bukan anak yang nakal, kau anak yang baik. Kau gadis kecil papa, kau kesayangan papa...papa yang salah karena sudah meninggalkanmu nak...papa yang salah. Maafkan papa Savana,"


"Jangan tinggalkan aku lagi, pa...jangan.." Savana memeluk papanya semakin erat, dia meluapkan rindu yang selama ini pendam pada papanya.


Javier dan Elena terharu melihat pertemuan ayah dan anak itu. Kemudian Savana pun kembali ke ruang rawat, Steve menjaganya. Ia merawat Savana dan menyuapinya makan. Javier dan Elena juga berada disana untuk mengawasi Savana.


Gadis itu merasa disayangi, ia bahagia semua orang terkasihnya ada disini. Kecuali nenek, ia merindukannya dan mungkin ini waktunya Savana menghubungi neneknya.


"Elena, mana ponselku? Cepat, aku ingin bicara dengan nenek." kata Savana semangat dan ia sudah rindu dengan Martha.


Wajah Elena, Javier dan Steve memucat saat mendengar pertanyaan dari Savana. Mereka saling melirik dengan bingung, harus bagaimana menjelaskan pada gadis itu tentang Martha.


"Kenapa kalian malah diam?" tanya Savana karena semua orang tiba-tiba hening.


Tiba-tiba atensi Savana tak sengaja melihat sosok Grace, orang kepercayaan Martha ada di depan ruangan itu dan disana ada ranjang beroda yang membawa seseorang dan tubuhnya ditutupi kain putih.


"Kau mau kemana Savana?" tanya Javier seraya menahan Savana dengan memegang tangannya.


"Om, itu ada ibu asuh, maksudku ibu Grace... om tau kan dia orang kepercayaan nenek? Dia ada disana." tunjuk Savana pada Grace yang masih berada didepan ruangannya dan terlihat dari kaca. Dari kejauhan Savana bisa melihat Grace menangis.


"Kau pasti salah lihat, mana mungkin dia ada disini. Bukankah nenekmu sedang liburan? Pasti kau salah lihat, Savana." kata Elena berusaha menutupi dengan gugup.


"Itu ibu asuh!" cetus Savana tajam. Ia memang gadis keras kepala, ia menepis tangan Javier lalu melangkah buru-buru ke depan sana untuk menghampiri Grace. Javier, Elena dan Steve buru-buru menyusulnya.


Grace menangis, ia berbicara dengan seorang dokter dan seorang suster membawa mayat diatas ranjang beroda itu.

__ADS_1


"Jadi jenazah nyonya Martha mau dibawa ke Chicago?"


"Benar dok, nyonya Martha akan dimakamkan di sana. Di tanah kelahirannya," jelas Grace yang terdengar oleh Savana, Javier, Elena dan Steve.


Bisa dipastikan Savana terkejut bukan main, ia syok sampai matanya tak berkedip dan tubuhnya mematung menatap ranjang dengan seseorang terbujur kaku diatasnya. Savana berdebar.


"Ibu asuh!"


Grace menoleh ke asal suara yang tidak asing ditelinganya itu. Grace tercengang melihat Savana ada di ambang pintu, tengah berjalan menghampirinya.


"Apa yang kalian katakan? Jenazah nyonya Martha?!" hardik Savana.


"Nona..."


"Tidak mungkin! Bukankah ibu asuh sedang liburan bersama nenek ke Inggris? Kenapa ibu asuh ada disini?"


"Nona..." lirih Grace yang tidak mampu menjelaskan situasi disana. Ia tak mau melihat Savana sedih, tapi semua terlanjur basah.


"Saya akan membawa jenazah nyonya Martha ke kamar mayat." ucap seorang perawat sambil mendorong ranjang itu. Namun Savana menahannya.


"Tunggu!"


"Savana, tenang nak." Steve berucap sambil memegang pundak putrinya. Tapi Savana seakan tuli, ia mendekati jenazah itu lalu membukanya dengan berat hati.


Alangkah terkejutnya ia melihat sosok wanita berambut putih dengan wajah pucatnya terbaring tak berdaya. Air matanya luruh seketika melihat sosok itu. Sosok yang menjadi ibu sekaligus ayah untuknya.


"NENEK!!"

__ADS_1


...****...


Hai Readers, maaf upnya dikit dulu ya☺️ author lagi ada keperluan keluar hari ini...nanti author lanjutkan lagi kalau udah pulang🥱 spoiler bab berikutnya, Bab 43. Surat dari Martha


__ADS_2