
...🍀🍀🍀...
Hari itu Elena mengajak Savana keluar dari mansion. Sudah lama Savana tidak keluar dari rumah mewah Elena yang bak istana itu. Selama ini Savana selalu mendapatkan perlakuan baik dari orang-orang di mansion Sanderix termasuk kasih sayang dari Javier walaupun selalu diam-diam di belakang Elena.
Elena dan Savana diantar ke tempat pemotretan oleh Javier dan Leo. Sekalian Javier ingin memastikan ketiga gadis itu aman-aman saja.
"Dad, jadi benar kau akan pergi ke Meksiko?" tanya Elena saat sudah sampai ditempat pemotretannya yaitu di depan sebuah cafe elit. Disana Elena akan mengiklankan makanan dari cafe itu.
"Iya, Daddy akan usahakan untuk kembali sebelum besok setelah pertemuan dengan klien Daddy selesai." ucap Javier sambil tersenyum pada putrinya. Lalu ia melihat Savana dengan sendu.
"Baiklah Dad,"
"Jaga dirimu baik-baik sayang, Savana juga ya." tukas Javier pada Savana dan Elena. Didepan banyak orang Javier terlihat sebagai ayah yang sayang pada kedua putrinya.
"Aku akan menjaga Vanvan ku dad!" Vanvan adalah panggilan bestie dari Elena untuk Savana. Sedangkan Savana memanggil Elena dengan nama panggilan Nana. Panggilan itu sudah lama tidak digunakan, tapi sekarang Elena mulai membiasakan panggilan itu lagi.
"Oke, Daddy pergi dulu." Javier pamit, lalu ia masuk ke dalam mobil dan pergi bersama Leo. Lagi-lagi ia kembali sibuk dan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Berat rasanya meninggalkan dua kesayangannya, apalagi Savana yang saat ini sedang dalam keadaan tidak baik.
"Nah Vanvan ku sayang, sekarang kau duduk disini ya. Aku akan ganti baju dulu, kau jangan kemana-mana! Oke?" pesan Elena pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Iya, aku akan disini." jawab Savana tanpa melihat ke arah Elena, bola matanya menatap ke arah lain. Ya, begitulah orang buta.
"Rocky! Aku titip sahabatku sebentar ya." kata Elena pada salah seorang temannya yang bekerja sebagai fotografer.
"Baiklah." jawab Rocky seraya tersenyum pada Elena. Rocky pun duduk disamping wanita buta itu, sambil menunggu pemotretan dimulai.
Rocky sedikit mengobrol dengan Savana, tentang Justin. Tentunya Rocky mengenal Justin, sebab mereka teman satu kampus dahulu. Rocky juga tau bahwa Justin menyukai Savana.
"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Justin? Apa kalian masih sering berkomunikasi?"
"Terkadang kami berkirim pesan dan saling video call," jawab Savana.
"Ya, aku tau aku buta." jawab Savana dingin.
"Ma-maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu." Rocky memang mengatakan maaf, tapi saat ini raut wajahnya senang melihat Savana sedih. "Kau jangan marah ya?"
"Kau hanya mengatakan fakta, kenapa aku harus marah?" suara Savana terdengar dingin kali ini.
"Ya, kau tidak harus marah. Kau kan buta dan kau tidak pantas untuk Justin." cetus pria itu menyebalkan.
__ADS_1
"Terimakasih atas pemberitahuannya, sebab aku memang tidak ada niat untuk memantaskan diri dengannya." Savana tersenyum sinis, lalu ia pun beranjak dari tempat duduknya. Setelah ia menyadari tujuan sebenarnya pria itu mengajaknya bicara. Ia tak mau Justin bersama dirinya yang buta, Savana paham akan hal itu.
'Menyebalkan sekali pria ini'
"Kau mau kemana? Elena menitipkanmu padaku." tanya Rocky seraya mengejek Savana lagi.
Savana tidak menggubris pertanyaan Rocky, ia berjalan pergi dengan tongkatnya entah mau kemana. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang hingga tubuhnya oleng ke belakang dan jatuh ke lantai.
"Hey! Kalau jalan lihat-lihat!" hardik seorang wanita paruh baya pada Savana.
'Aku yang jatuh kenapa dia yang marah?' batin Savana kesal.
Seorang pria paruh baya disamping si wanita itu membantu Savana untuk berdiri. Namun wajah si pria memucat saat melihat wajah Savana.
'Savana?'
...****...
Maaf guys, chapter ini ke Cut! Akan dilanjutkan besok lagi ya
__ADS_1