
"Savana, tenang nak." Steve berucap sambil memegang pundak putrinya. Tapi Savana seakan tuli, ia mendekati jenazah itu lalu membukanya dengan berat hati.
Alangkah terkejutnya ia melihat sosok wanita berambut putih dengan wajah pucatnya terbaring tak berdaya. Air matanya luruh seketika melihat sosok itu. Sosok yang menjadi ibu sekaligus ayah untuknya.
"NENEK!!" jerit Savana histeris melihat mayat sang nenek terbujur kaku di atas brankar. Takut terjadi sesuatu pada Savana, Steve buru-buru menghampiri Savana.
"Savana, sayang... tenanglah nak." Steve memegangi tangan Savana dengan erat. Gadis itu menangis terisak-isak. Ia tidak percaya dengan fakta yang ada didepan matanya.
"Tidak pa, ini tidak mungkin... tidak! Nenek...nenek sedang liburan. Nenek tidak mungkin...tidak mungkin...hiks...nenek..."
Tak berselang lama kemudian, tubuh Savana pun ambruk. Beruntung ada Steve yang menopang tubuh anaknya itu.
"SAVANA!" Elena dan Javier panik melihat Savana jatuh pingsan. Sudah pasti Savana syok dengan kenyataan ini. Padahal mereka berniat untuk memberitahukan tentang Martha nanti saja. Namun rupanya Tuhan tak sabar ingin memberitahu Savana tentang Martha, sang nenek yang sudah menjadi pelita dalam hidupnya selama ini. Pengganti ayah dan ibunya yang meninggalkan dirinya.
"Sayang, bangun nak! Savana!" Steve menepuk-nepuk pipi Savana, ia cemas melihat putrinya seperti ini.
__ADS_1
*****
Kota Chicago, siang itu.
Kediaman Martha, tampak dipenuhi orang-orang yang ingin melayat dan berbela sungkawa atas kepergian wanita tua itu. Savana terus menangis di pelukan Javier. Kenapa di pelukan Javier? Sebab saat itu Steve belum datang.
"Kalian mau bawa kemana nenekku? Kenapa nenekku di masukkan ke dalam peti?! Apa kalian pikir nenekku sudah mati?!" hardik Savana pada beberapa orang yang akan mengangkut peti mati Martha.
Orang-orang yang mengangkat peti mati itu langsung terdiam dengan raut wajah terheran-heran.
"Tidak! Kau tidak boleh meninggalkanku seperti ini, nek! Percuma aku bisa melihat lagi kalau kau TIADA! Aku tidak butuh mata ini, lebih baik aku buta selamanya!" kata Savana sambil melihat sang nenek terbaring damai di peti mati. Savana begitu hancur dan tambah hancur saat dia melihat dokumen tentang siapa pendonor matanya. Neneknya, ia yang sudah memberikan mata untuk Savana. Memberikan dunia baru penuh warna untuknya, bahkan sampai akhir pun Martha sangat menyayangi cucunya itu.
"Jangan bicara begitu Savana, aku mohon." bisik Javier seraya menepuk-nepuk punggung Savana. Berharap gadis itu berhenti menangis, sungguh rasanya sakit hati Javier melihat kekasihnya menangis. Tapi siapa yang tidak akan sedih kalau ditinggalkan orang tercinta?
Alexa dan Elena juga melihat Savana dengan kasihan. Malang sekali nasib anak itu, pikir Elena dan Alexa, kedua sahabat Savana.
__ADS_1
Setelah Savana agak tenang, dan disinilah kini Savana berada. Gadis itu pergi bersama dengan iring-iringan orang yang akan mengantar Martha ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sebuah pemakaman umum di Chicago dengan view yang indah dan tergolong pemakaman mewah.
Air mata Savana terus luruh, namun gadis itu tidak histeris seperti tadi. Javier, Elena dan Alexa selalu ada disampingnya untuk menyemangatinya. Tak lama kemudian, Steve datang dengan memakai pakaian serba hitam Ia berlari menghampiri Savana.
"Papa... hiks..." Savana memeluk erat papanya itu, mengadukan semua kesedihan dan bersandar padanya.
"Maafkan papa baru datang nak, kau yang sabar ya. Ikhlaskan kepergian nenekmu." kata Steve menasehati.
Tadinya Savana enggan pergi dari makam neneknya, tapi semua orang terdekatnya berhasil membujuk gadis itu dan akhirnya mereka kembali ke Mansion Martha.
"Sayang, ini surat dari nenekmu." kata Steve setelah Savana mulai tenang dan tidak seperti tadi. Ia menyerahkan amplop putih untuk Savana. Berisi surat dari Martha. Jangan lupakan bahwa disana masih ada Javier, Elena, Alexa dan Leo.
"Surat dari nenek?"
Savana membuka amplop yang itu, ia melihat secarik kertas berisi tulisan tangan neneknya disana.
__ADS_1
...****...