
...🍀🍀🍀...
"Oh ya Elena sayang, siapa pria itu?" tanya Margareta begitu melihat sosok pria berambut pirang turun dari lantai dua rumahnya.
Elena langsung panik saat melihat Omanya melihat sosok kekasihnya disana, yaitu Mark. Dan sialnya Elena lupa menyuruh Mark untuk sembunyi lebih dulu. Elena mengisyaratkan kepada Mark untuk pergi, tapi sayangnya itu sudah terlambat.
"Elena, Oma bertanya padamu! Siapa dia?!" sentak Margaretha pada cucunya, ia menatap nyalang pada pria yang masih berjalan menuruni tangga itu. Margaretha terkenal tegas dan keras, sama seperti Javier. Lebih tepatnya, jauh lebih tegas dan keras kepala daripada Javier.
"O-oma di-dia." Elena terbata, bingung, bagaimana menjelaskan kepada Omanya tentang Mark. Haruskah ia bilang bahwa Mark adalah kekasihnya dan semalam menginap di rumah ini? Bisa-bisa Elena diasingkan ke Afrika. Sebagai catatan, Javier semalam tidak pulang ke mansion dan hal itu digunakan sebagai kesempatan agar Elena bisa berduaan bersama Mark. Berhubungan layaknya pasangan suami-istri. Apakah Javier tahu tentang hal ini?
Oh tidak, Javier taunya Elena dan Mark sudah putus sebab gadis itu mengatakan bahwa ia tak ada hubungan apapun lagi dengan Mark.
'Matilah kau Elena! Kalau aku bilang Mark ada temanku, pasti Oma tidak akan percaya. Lalu kalah Daddy tau aku membawa pria ke rumah, dia pasti akan marah besar. Siapa yang akan menolongku kali ini? Astaga...ya Tuhan'
Padahal masih pagi tapi peluh keringat membasahi wajah Elena dan juga Mark. Mark juga terlihat bingung, ia harus berbuat apa dan harus mengatakan apa.
"Hey! Kemarilah, anak muda!" ujar Margaretha seraya melambaikan tangannya pada Mark yang masih berdiri mematung tepat didepan anak tangga.
"Sa-saya?" tanya Mark bingung dan gugup. Raut wajahnya saat ini menunjukkan bahwa dia akan mati.
Pria berambut pirang itu kemudian melangkah dengan ragu-ragu ke arah Margaretha dan Mona yang duduk saling berdampingan. Di sisi lain ada kekasihnya, Elena menatapnya dengan penuh kepanikan dalam matanya.
"Kau... kenapa kau ada disini anak muda? Kau siapa--"
"Sayang! Ternyata kau masih ada disini," teriak seorang wanita yang tiba-tiba saja muncul dari ambang pintu dan berjalan mendekati Mark.
Atensi tiga wanita yang sedang duduk di atas sofa ruang tengah itu langsung tertuju kepada gadis yang menghampiri Mark. Dia adalah Savana dan dibelakangnya ada Javier dengan wajah menyeramkan.
'Maaf hubby, aku harus menolong Elena lebih dulu' batin Savana merasa bersalah. Tapi ia tak mau Elena terkena masalah sebab Elena selalu bercerita bahwa Omanya sebelas dua belas dengan daddynya. Dilihat dari wajahnya, memang terlihat galak. Tapi tidak ada yang tau kan?
'Savana kenapa begitu? Aku tidak suka dia memanggil sayang pada orang lain' Javier menatap tajam pada Savana ,tapi gadis itu memalingkan wajahnya dan terpaksa memegang tangan Mark.
Mark dan Elena langsung paham dengan apa yang dilakukan oleh Savana adalah untuk menolong mereka. "Eh Vanvan kau sudah datang? Dari tadi Mark menunggumu," kata Elena seraya tersenyum, gadis itu berusaha untuk menetralkan kembali raut wajahnya. Agar Margaretha tidak curiga.
"Oh, jadi ini temanmu yang namanya Savana itu?" tanya Margaretha yang tampaknya lebih tertarik dengan sosok Savana dibandingkan dengan sosok Mark.
__ADS_1
Wanita tua itu memperhatikan Savana dari atas sampai ke bawah, menurutnya Savana good looking. Margaretha langsung mengulurkan tangannya secara tiba-tiba. "Saya Margaretha, nenek Elena. Elena cucu saya sudah banyak bercerita tentangmu. Saya senang bisa bertemu denganmu." kata Margaretha dengan ada suara yang dingin. Tapi menunjukkan raut wajah yang lumayan hangat.
Kesan pertama Savana saat melihat wanita tua ini adalah, 'Yes dia mirip dengan Javier, terutama wajah'
Lama terdiam, akhirnya Savana balas mengulurkan tangannya dan ia pun berjabatan tangan dengan Margaretha.
"Saya Savana, salam ke-kenal nyonya." gadis itu tampak tidak bisa menahan rasa gugupnya di depan Margaretha.
"Kau sangat cantik." kata Margaretha memuji namun wajahnya tampak datar.
"A-ah ya, terimakasih nyonya." ucap gadis itu terbata sambil terus mempertahankan senyumnya.
'Benar-benar mirip hubby saat dulu pertama kali aku bertemu dengannya'
"Panggil saja saya Oma," ucap Margaretha yang tentu saja membuat Savana, Elena dan Javier kaget.
'Apa aku salah dengar? Mama tiba-tiba saja memuji seseorang dan menyuruhnya memanggil Oma? Seorang mama?' batin Javier terheran-heran karena biasanya Margaretha selalu jutek kepada orang yang baru dia temui. Tapi kepada Savana dia menunjukkan reaksi yang cukup baik. Wanita tua itu bukan orang yang suka memuji orang lain, dia dingin. Namun dia sayang kepada orang-orang terdekatnya.Ya, tidak jauh berbeda dengan sifatnya.
"O-oma?" Savana tersentak mendengar ucapan Margaretha.
"Iya betul itu. Kau harus panggil Omaku dengan sebutan Oma juga, sebab kau adalah sahabat rasa saudaraku." Elena menggamit tangan Savana, menunjukkan pada Margaretha tentang sahabat baiknya ini.
Saat Savana sedang berada dalam kegugupan, tiba-tiba saja Mona mendekati Javier dan langsung menggamit tangannya dengan genit. "Javier,kau sudah pulang?" wanita itu menempelkan tubuhnya ke dada Javier dengan sengaja. Ia mempertontonkan dadanya yang membusung itu, berharap bahwa Javier akan tergoda padanya.
Sang kekasih yang melihat prianya berdekatan dengan wanita lain, tentu saja cemburu. Bahkan matanya melotot pada Javier. Percayalah, Savana ingin mendekat ke arah Javier dan mendorong Mona. Tapi keadaan saat ini tidak memungkinkan.
'Baby girl, jadi kau cemburu? Kau juga berpegangan tangan dengannya. Memang aku tidak bisa?' Javier merasa senang melihat Savana cemburu.
"Oh ya Mona, mama, kapan kalian datang?" pertanyaan sederhana dari Javier dan genggaman tangannya membuat Mona merasa Javier ada rasa padanya.
'Apa yang kau lakukan hubby? Kenapa kau memegang tangan si monakor?' Savana melotot pada Javier. Pria itu tersenyum puas melihat Savana cemburu, lalu ia pun melepaskan tangan Mona begitu saja.
"Oh ya Javier, ayo kita semua duduk dulu. Ada hal yang ingin Mama bicarakan denganmu dan Mona." kata Margaretha pada putranya. Tampaknya Margaretha ingin membicarakan masalah serius pada Javier dan Mona.
Setelah itu Javier, Mona dan Margaretha pergi ke ruang pribadi karena sepertinya ada hal yang ingin mereka bicarakan secara privat. Savana dan Elena penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Margaretha.
__ADS_1
"El, kira apa yang akan omahmu katakan kepada Daddymu?" tanya Savana setengah berbisik. Wajahnya tampak penasaran, rasanya dia ingin sekali masuk ke dalam ruangan tersebut dan mendengar pembicaraan itu. Walau nanti pun Javier pasti akan memberitahukan padanya.
"Hem...bisa aku tebak, pasti Om aku akan meminta daddyku untuk menikah lagi dengan si Mona." cetus Elena asal.
"APA? TIDAK!" teriak Savana panik.
"Ya benar, aku juga tidak setuju bila daddy menikah dengan wanita itu. Aku juga belum setuju kalau daddyku menikah lagi." kata Elena sebal. Perkataan sahabatnya itu membuat Savana terdiam, tapi Savana tidak akan menyerah.
"Elena, Mark, ayo kita pergi dari sini. Aku ingin bicara sesuatu pada kalian!" Savana mengajak pasangan kekasih itu pergi ke tempat lain.
'Hubby, kau bilang ingin berjuang kan? Aku juga akan berjuang untuk hubungan kita'
"Ayo, kita pergi ke kamarku." kata Elena setuju.
Ya, setelah apa yang terjadi pada mereka barusan. Bukankah mereka harus saling bicara. Dan untuk pasangan kekasih itu, mereka harus berterima kasih pada Savana.
****
Di dalam ruang pribadi, tepatnya ruang keluarga di mansion itu. Margaretha, Mona dan Javier tengah duduk di sofa empuk disana. Raut wajah Margaretha tampak serius, menatap tajam putranya dan juga Mona yang di klaim akan menjadi menantunya.
"Apa yang ingin Mama bicarakan?" tanya Javier langsung to the poin pada mamanya.
'Aku sudah tak sabar ingin memberikan baby girl ku hukuman' Javier ingin pembicaraan ini berakhir walau baru di mulai. Ia tak sabar ingin menghukum Savana yang berpura-pura sebagai kekasih Mark. Dan soal Elena, dia jua akan menghukum putrinya yang sudah berani membawa pria asing masuk ke dalam mansion.
"Javier, mama ingin kau menikah dengan Mona."
Deg!
Javier tercengang saat mendengarnya tapi lain halnya dengan Mona. Wanita berpakaian seksi itu tersenyum lebar, seakan impiannya menjadi nyonya Sanderix akan segera terkabul.
...*****...
Akan langsung up kalau banyak komen ya 😍😂
Spoiler bab berikutnya....
__ADS_1
"Hubby, kau kenapa? Apa kau sakit?"
"Savana sayang, aku ingin...minta malam pertama kita... sekarang..."