
Warning!
...🍀🍀🍀...
Keesokan harinya, Javier sangat sibuk sampai ia hanya bisa mengirim satu pesan singkat pada Savana. Tapi Savana juga sama sibuknya, sekarang ia harus memimpin perusahaan yang ditinggalkan oleh neneknya juga, yaitu Biche food. Mengurus galeri dan memegangi perusahaan sekaligus, ternyata cukup melelahkan. Namun ia beruntung sebab ada beberapa orang kepercayaan sang nenek yang membantunya.
Malam itu...
Sepulang dari pekerjaannya di kantor, kali ini Savana memilih pulang ke apartemen sebab kadang ia merasa sedih berada di rumah neneknya. Mengingatkannya akan kenangan tentang masa kecil dan neneknya disana. "Haahh... ternyata menjadi pekerja kantoran itu sangat melelahkan! Itulah sebabnya aku memilih jadi seniman," gerutu Savana sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Gadis itu membersihkan dirinya di dalam sana, setelah hampir 20 menit. Savana pun keluar dengan menggunakan kimono handuknya. Wajahnya terlihat segar setelah berkeringat seharian. Rambut coklatnya yang panjang itu tampak basah.
"Kenapa hubby belum membalas pesanku? Dia pasti masih meeting dengan kliennya bukan?" tanya Savana sambil melihat ponselnya sekilas, namun belum ada balasan pesan dari Javier dari tadi siang.
Tiba-tiba saja Savana mendengar suara pintu apartemennya yang terbuka. Savana ingat, hanya dua orang yang tau kode pintu apartemennya. Yaitu Elena dan Javier.
"Apa itu hubby?"
Savana berjalan keluar kamarnya dengan buru-buru dan ia lupa belum memakai pakaiannya. Hanya mengenakan kimono handuk saja.
Gadis itu pun sampai didepan pintu apartemennya, ia melihat Javier berjalan sempoyongan dan ada Leo memapahnya. Leo terbelalak manakala ia melihat keindahan tubuh Savana.
"Sayang, kenapa kau hanya memakai handuk hah??" tanya Javier dengan nafas terengah-engah. "Leo pergilah!" titah Javier pada sekretarisnya itu.
"Ta-tapi bapak baik-baik saja kan?"
"Aku baik-baik saja, lebih baik kau pergi dari sini sebelum ku congkel matamu karena kau sudah berani menatap wanitaku seperti itu!" hardik Javier sambil memegang dadanya. Ia marah pada Leo.
Savana bingung, sebenarnya apa yang terjadi. Leo langsung pergi meninggalkan Javier begitu saja di apartemennya. "Hubby kau kenapa? Apa kau sakit? Badanmu panas." kata Savana setelah ia mengecek kening Javier yang panas dan nafas pria itu terengah.
__ADS_1
'Sial! Mona aku tidak menyangka kau akan melakukan ini. Aku akan membalasmu, beraninya kau memasukkan sesuatu ke dalam minumanku' Javier benar-benar tidak kuat lagi menahan sesuatu didalam dirinya yang akan meledak.
Beberapa saat yang lalu ia memang sedang meeting kerja bersama kliennya di sebuah cafe, namun ternyata kliennya membawa Mona sebagai asistennya. Dengan gilanya, Mona memasukkan sesuatu ke dalam minuman Javier tanpa sepengetahuannya. Saat itu juga Javier yang di goda oleh Mona, berusaha mati-matian untuk menahan hasratnya dan tanpa pikir panjang Javier meminta Leo membawanya ke apartemen Savana. Ia yakin bahwa dirinya tidak akan sembuh bila dibawa ke rumah sakit, yang ada dia hanya akan mempermalukan diri sendiri.
""Savana sayang, maaf... aku ingin...minta malam pertama kita... sekarang..." lirih Javier seraya melihat kecantikan kekasihnya yamg baru saja mandi itu. Belahan dada yang terlihat itu, sangatlah seksi dan ia kesulitan untuk menahan libidonya lagi.
"Hah??!" Savana terkejut dengan apa yang dikatakan kekasihnya. "Hubby, kau..."
Tanpa ba bi bu, Javier menarik tengkuk kekasihnya dan memagut bibir Savana dengan intens. "Hmphh--umptt..."
Savana memukul-mukul dada Javier, saat ia merasakan ciuman Javier mulai kasar. Bahkan gigi pria itu menggigit bibirnya. "Sa-sakit Hubby, pelan-pelan..." sela Savana setelah berhasil membuat Javier melepaskan ciumannya. Ia merasa ada yang aneh dengan Javier.
"Baby girl, maaf...aku tidak bisa menahannya lagi."
Detik berikutnya, Javier yang sudah mencapai puncak. Akhirnya menggendong Savana ala koala, dengan bibir yang tidak lepas dari pagutannya pada Savana.
'Ada apa dengan hubby? Kenapa dia tampak berbeda?' batin Savana heran, tapi dia berusaha mengimbangi permainan lidah kekasihnya itu, tanpa berpikir panjang bahwa Javier sebenarnya menginginkan lebih dari itu.
Terlihat otot-otot dadanya yang berjumlah 6 itu berkeringat, bahkan memerah. Nafas pria itu juga memburu. "Hubby, apa kau sakit? Kau sangat panas hubby."
"Ya, aku sakit...sesak sekali rasanya Savana sayang." Javier mulai hilang kendali atas tubuhnya. Belum dapat persetujuan dari kekasihnya, Javier sudah membuka tali kimono handuk yang dikenakan oleh Savana.
"Akhh! Apa yang kau lakukan hubby?!" pekik Savana saat kini tubuhnya sudah polos didepan kekasihnya. Meski mereka sering bercumbu, tapi tak sampai saling buka bukaan begini. Gadis itu malu dengan tubuhnya yang telanjang bulat didepan sang kekasih.
"Hubby...apa kau akan--"
Javier tidak bicara lagi, dirinya sudah diambang batas. Javier menatap Savana dengan nanar, penuh gairah. "SHITT!" umpat Javier saat merasakan Alfonsonya sudah menegang dibawah sana.
Pria itu melumatt bibir Savana dengan rakus dan kasar. Tangannya meraba-raba dua buah gunung padat dan berisi milik kekasihnya itu. Tak hanya itu, Javier juga memelintir bagian tengah dari salah satu gunung kembarnya.
__ADS_1
"Ahh! Hubby...sakit...." ringis Savana kesakitan saat merasakan Javier mengigit bagian tengah gunung kembarnya dan menghisapnya dengan kuat.
Javier bak kuda liar yang bersiap menggempur lawannya. Tanpa foreplay terlebih dahulu, Javier melorotkan celananya dan menampilkan Alfonsonya yang berdiri tegak sempurna itu.
"Hubby, i-itu...kau mau apa..." Savana meneguk salivanya begitu ia melihat benda laras panjang dan pertama kali dia lihat.
"Ack!" pekik Savana terkejut begitu kedua tangan Javier membuka kedua kakinya. Javier menatap sumber lobang Viana milik Savana yang mulus dan terawat itu dengan penuh gairah.
"Hubby, kau sudah janji tidak akan menyentuhku sebelum kita menikah. Lalu kenapa kau tiba-tiba seperti--"
KYAAKK!!
Savana menjerit kesakitan dan terkejut manakala Alfonso terbenam didalam viana milik Savana. Begitu menjepit dan Javier kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya.
"Sakit...hubby sakit... lepaskan aku..hubby!" pinta Savana dengan buliran air mata jatuh dari matanya. Javier terus membenamkan Alfonsonya pada viana Savana. Gadis itu menangis tergugu, rasanya sakit sekali. Ini pertama kali untuknya.
"Fucck!! Ini sempit sekali baby." erang Javier yang sepertinya dia masih berada dalam hilang akal sehatnya.
Javier memaksakan miliknya masuk ke dalam sana, hingga Savana merasa tercabik-cabik dan robek. "Akhh...sakit...hiks..."
Tetesan darah keluar dari bawah sana, tapi Javier seakan hilang akal dan tidak peduli dengan gadis yang saat ini sedang digagahi dibawahnya itu. Javier terus menghentakkan miliknya dengan tempo yang cepat. Entah apa yang dimasukkan oleh Mona ke dalam minuman Javier, rasanya bukan sekedar alkohol saja. Mungkin ada afrodisiak didalam sana. Afrodisiak merupakan zat perangsang yang berpotensi untuk meningkatkan hasrat sekssual, bisa berasal dari buah-buahan, minuman herbal, tanaman, dan juga obat- obatan. Afrodisiak biasanya berasal dari golongan flavonoid, alkaloid, dan juga steroid saponin.
Bak kuda liar, ia menggempur Savana habis-habisan untuk menghilangkan efek obat yang ada di dalam tubuhnya. Meski Savana menangis meminta berhenti, ia tak mengindahkannya sebab pengaruh obat itu sangat kuat.
Kali pertama Savana telah diambil oleh Javier dengan cara yang menyakitkan. Tanpa pemanasan dan membuat tubuhnya nyaris remuk. Tidak hanya di ranjang, Javier mengajak Savana lebih tepatnya menyeret gadis itu untuk bercinta di kamar mandi juga. Brutal, menyakitkan, itulah yang Savana rasakan saat malam pertamanya. Kesan yang buruk.
Permainan mereka itu pun berakhir di atas ranjang, dengan Alfonso yang menyemburkannya benih didalam rahim Savana. Javier pun ambruk di samping Savana, dengan tubuh yang penuh dengan keringat. Lalu ia pun tertidur pulas. Sementara Savana, ia tak bisa tidur karena tubuhnya sakit semua.
"Hubby...kau jahat...hiks...ini sakit...sakit sekali..." gadis itu menangis dibawah selimut, tanpa selain benang pun di tubuhnya.
__ADS_1
...*****...