Terjerat Pesona Ayah Sahabatku

Terjerat Pesona Ayah Sahabatku
Bab 52. Couvade syndrome


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Meskipun tadinya Savana enggan memakai alat tes kehamilan itu. Tapi akhirnya Savana menurut dan memakainya di kamar mandi. Ia juga merasa 50:50, tentang kehamilannya atau tidak. Sebab ia juga belum mendapatkan tamu bulanan, tapi disisi lain ia tidak merasakan adanya gejala kehamilan. Kecuali lelah dan mudah mengantuk.


"Kalau aku hamil, bagaimana? Ya Tuhan, aku kan belum menikah." gumam Savana gelisah sambil menunggu hasil tes kehamilan yang baru saja ia coba.


Savana malu kalau memang benar ia hamil duluan sebelum menikah. Apalagi cuma karena satu malam? Mana mungkin kan dia hamil secepat itu. Kemungkinannya kecil kan? Pikir gadis itu menimbang-nimbang.


Tak lama kemudian Savana melihat ke arah benda pipih itu dan terlihatlah hasilnya. "Oh MY GOD! Apa ini tidak salah?!" seru Savana tak percaya dengan hasil dari benda pipih itu. Entah ia harus senang atau bagaimana.


"Testtpack-nya masih ada, aku harus periksa lagi. Aku harus memastikan semuanya." kata Savana sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kembali mengetes urinenya dengan alat tes itu untuk meyakinkan bahwa hasil tesnya benar atau tidak. Siapa tau kan kalau testtpack-nya eror?


****


Sementara itu di luar sana, Javier, Margaretha, dokter Cheryl, Leo dan juga Elena terlihat menunggu Savana yang belum kunjung keluar dari kamar mandi.


"Kenapa lama sekali? Apa Savana baik-baik saja? Ah tidak bisa begini, aku harus menyusulnya." kata Javier cemas pada Savana yang sudah hampir 15 menit belum juga keluar dari sana.


"Kau tunggu disini saja Javier, mommy yakin bahwa Savana baik-baik saja dan malah dia akan membawa kabar baik untukmu. Tapi pertama-tama, mommy ingin bertanya padamu." Margaretha menatap putranya dengan tajam.


"Mau tanya apa mom?"


"Apa kau dan Savana sudah melakukan itu?" pertanyaan dari Margaretha tidak bisa di jawab oleh Javier. Ia hanya menganggukkan kepalanya. "ASTAGA Javier! Apa kau melanggar prinsipmu? Apa saat itu Savana juga menginginkannya? Mommy lihat dia bukan gadis seperti itu." cetus Margaretha dengan berdecak kesal. Ia tak percaya bahwa Javier akan berhubungan intim sebelum menikah dengan kekasihnya. Selama ini Javier selalu menjaga dirinya dan ia bukan orang mesum.


"Saat itu aku terkena afrosidiak mom dan aku memperk*sanya. Lebih tepatnya begitu." ucap Javier merasa bersalah kalau teringat malam itu.


"APA?" sentak Margaretha terkejut mendengar pengakuan dari putranya.


"Iya Oma itu benar, si Mona itu yang sudah menjebak Daddy dan akhirnya Daddy jadi melakukannya dengan Sa-eh mommy Savana." ungkap Elena yang tau kejadiannya dari Javier waktu itu.


"ASTAGA! Lalu saat itu apa kau pakai pengaman? Berapa kali kalian melakukannya malam itu?" tanya Margaretha pada putranya.


"Mom, please jangan tanyakan hal itu lagi." Javier memijit pelipisnya dengan gusar. Ia tak mau mengingat malam yang menyakitkan untuk Savana. Namun tadi ia mendengar penjelasan dokter Cheryl bahwa kemungkinan besar Savana sedang mengandung. Javier senang bila itu benar, tapi Savana bagaimana? Sebelumnya dia pernah bilang belum siap punya anak.


Tak lama kemudian,orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Raut wajahnya tampak pucat dan ditangannya memegang 3 benda pipih yang tadi dicobanya di kamar mandi.


"Bagaimana hasilnya sayang?" tanya Margaretha pada Savana yang berjalan ke arahnya saat ini.


Savana tidak bicara, ia menyerahkan 3 benda yang sudah menunjukkan hasilnya itu pada Margaretha. Kemudian wanita tua itu pun melihat hasilnya, semua hasilnya sama yaitu garis 2 yang artinya positif.


"Astaga ya Tuhan....ini benar-benar..." Margaretha tidak mampu berkata-kata, wanita tua itu terlalu senang untuk berita ini. Bahkan dia tidak mengindahkan tentang Savana yang hamil di luar nikah.

__ADS_1


Hidup di negara itu memang tidak mengharuskan wanita yang menikah hatur perawan. Malah banyak yang menikah setelah pasangan tersebut memiliki anak, bahkan ada yang sudah memiliki tiga orang anak namun kedua orang tuanya baru menikah. Ya, itu adalah hal lumrah disana.


"Selamat sayang, selamat! Javier, Elena, selamat!! Hasilnya positif!" Margaretha memeluk Savana dengan hati bahagia. "Aku akan menjadi nenek lagi."


Savana terdiam, tangannya membalas pelukan hangat dari Margaretha. Ia berusaha tersenyum, tapi entah kenapa hambar. Javier menatap kekasihnya yang terlihat bingung itu. Javier menyangka bahwa Savana tidak menyukai berita kehamilannya ini.


"A-aku akan jadi kakak?" gumam Elena.


"Selamat pak Presdir!" seru Leo memberikan ucapan selamat pada Javier. CEO dari Sanderix grup itu hanya tersenyum tipis saat menanggapinya.


"Ya benar, kau akan jadi kakak! Kau senang bukan? Oh ya, dokter Cheryl ayo periksa lagi kandungan calon menantuku." ujar wanita tua itu senang, ia menarik tangan Savana untuk kembali duduk di atas sofa. Dia sangat bahagia karena akan memiliki cucu lagi.


Dokter Cheryl melakukan tugasnya untuk memeriksa kondisi kandungan Savana. Namun katanya untuk pemeriksaan lebih lengkap, akan lebih baik bila dilakukan di rumah sakit besar dengan alat USG. Saat ini dokter Cheryl mengatakan bahwa kandungan Savana baik-baik saja, hanya saja pada perkiraan usia kandungan yang akan menginjak satu bulan itu. Savana harus tetap berhati-hati dalam menjaga pola makannya dan juga dia tidak boleh kelelahan.


"Jika calon istri saya yang hamil, kenapa aku yang mual-mual dan dia tidak?" tanya Javier yang penasaran sebab dirinya lah yang merasakan morning sickness dan ngidam. Namun Savana sendiri baik-baik saja dan tidak merasakan hal itu.


"Tuan mengalami couvade syndrome, nah Istilah couvade syndrome ini rupanya diperuntukkan bagi seorang pria yang mengalami kehamilan simpatik, atau biasa juga disebut ngidam pada ayah. Jadi, bukan nona yang mengidam, melainkan tuan." jelas Cheryl sambil tersenyum. "Tapi tuan tenang saja, ini hanya sementara."


"Haha...lucu juga ya bila Daddy yang ngidam. Biarlah Daddy yang tersiksa." kata Elena terkekeh.


"Dulu waktu mommy mengandungmu, Daddymu yang mengidam seperti ini. Makanya mommy yakin bahwa memang terjadi sesuatu pada Savana dan dugaan mommy benar kan?" celetuk Margaretha dengan yang berseri-seri dan tidak pernah hilang dari wajahnya.


Savana, Elena dan Javier hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Setelah dokter Cheryl dan Leo pergi, Margaretha meminta pada Javier untuk membawa Savana masuk ke dalam kamarnya. Margaretha menghalalkan Savana untuk tinggal di Mansion itu saat ini juga. Ya, tujuannya agar ada banyak menjaga Savana. Gadis itu sedang hamil dan Margaretha akan menjaganya.


Ia pun duduk jongkok di hadapannya dan memegang tangan Savana. "Kalau kau belum siap mengandung anak kita, lebih baik digugurkan saja." ucap Javier dengan berat hati.


Savana langsung mendongakkan kepalanya dan melebarkan kedua matanya begitu dia mendengar ucapan Javier. Savana terlihat tidak senang dengan ucapan pria itu. "Kau ini bicara apa Hubby? Mengapa aku ingin anak ini mati?" tanya wanita itu dingin.


"Bukankah kau sendiri yang pernah mengatakan padaku bahwa kau belum siap mempunyai seorang anak?" tanya Javier balik.


"Saat itu aku mengatakannya karena aku pikir aku tidak akan hamil secepat ini. Tapi, mana mungkin aku tega menggugurkan buah cinta kita. Apalagi dia sudah ada didalam sini." perlahan Savana memegang perut datarnya, ia dapat merasakan bahwa ada sesuatu di dalam sana. Ada nyawa yang nantinya akan lahir menjadi wujud seorang anak. Anak itu nantinya akan memanggil dia dengan sebutan ibu dan memanggil Javier dengan sebutan ayah. Hati Savana tersentuh, walaupun sebelumnya dia menolak untuk hamil lebih dulu. Tapi apalah daya bila Tuhan sudah memberi? Bukankah itu anugerah, masa iya ditolak?


"Jadi kau mau anak kita kan sayang?" tanya Javier lembut.


"Tentu saja, ini kan bayi kita." jawab Savana lalu tersenyum.


Javier menarik Savana ke dalam pelukannya. Ia tersenyum bahagia karena Savana mau menerima bayinya. "Aku janji suami yang baik untukmu dan juga ayah yang baik untuk anak kita." ucap Javier bersungguh-sungguh.


"Iya hubby, aku juga janji akan menjadi istri yang baik untukmu dan juga ibu yang baik untuk anak kita." ucap Savana tulus dari dalam lubuk hatinya.


Saat Savana mendekat dan bermaksud untuk mengecup bibir Javier. Tiba-tiba saja pria itu kembali mual-mual. Perutnya bergejolak seperti akan mengeluarkan sesuatu dari perutnya.

__ADS_1


"Hubby?"


"Maaf sayang sepertinya aku..Uwekkk.."


Javier kembali masuk ke kamar mandi untuk kesekian kalinya pada hari itu. Savana jadi kasihan juga pada Javier, ia mengalami ngidam ayah sedangkan ia tidak merasakan apapun.


****


Waktu pun berlalu, usai pernikahan Elena dan Mark. Seminggu setelahnya, pernikahan Javier dan Savana diadakan di salah satu taman di kota Paris. Selama itu, Savana selalu merawat Javier yang mengalami couvade syndrome dengan penuh perhatian. Syukurlah syndrome itu sepertinya tak berlangsung lama. Hanya 1 bulan saja Javier mengalaminya. Kini giliran Savana yang mengalaminya, di bulan kedua kehamilannya.


"Savana sayang, apa kau baik-baik saja?' tanya Margaretha pada Savana yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu sudah memakai gaun putih khas akad dan mengenal mahkota berlian di kepalanya. Ia terlihat sangat cantik.


"Mom, aku baik-baik saja."


"Kau yakin kuat? Sebentar lagi pernikahanmu akan dimulai." ucap Elena cemas.


"Ya, aku yakin." jawab Savana sambil menghela nafas dalam-dalam. Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam hidupnya. Hari yang akan membuatnya menjadi seorang istri, seorang ibu dan membuat dirinya terikat dengan janji suci pernikahan sekali seumur hidup. Semoga begitu. Savana terus-menerus menghela nafasnya..


"Minumlah ini dulu Savana, tenangkan dirimu ya?" Alexa menyalurkan sebotol air minum untuk sahabatnya. Savana langsung mengambil botol tersebut dan meneguknya.


"Terima kasih Alexa."


"Woah...jadi tinggal aku saja yang masih lajang di sini." celetuk Alexa pada kedua sahabatnya yang sudah menikah sedangkan dia belum. Pacarnya belum memberikan kejelasan ke langkah yang lebih serius.


"Kalau begitu harus mendesak kekasihmu untuk segera menikahimu!" kata Elena pada Alexa.


"Ya, kurasa aku memang harus memaksanya." kata Alexa yang tiba-tiba saja sebel ketika teringat dengan kekasihnya.


Ketiga sahabat itu saling bercanda gurau di dalam ruang rias sebelum acara pernikahan akan dilangsungkan. Hingga, waktu pernikahan pun telah tiba. Steve, ayah dari pengantin wanita juga turut hadir dalam acara itu bersama dengan istri dan anaknya. Ia tidak mau melewatkan penyerahan putrinya kepada Javier, menantunya. Sementara Griselda? Kemana dia? Dia tidak hadir dalam pernikahan putrinya sendiri.


Steve menggandeng tangan Savana, berjalan menuju ke altar. Tempat dimana seorang pria tampan bertubuh tinggi dengan setelan toksedo berwarna putih tengah menunggunya disana.


"Kau terlihat sangat bahagia dan kau sangat cantik." puji Steve pada Savana.


"Iya pa, terima kasih." sahut Savana sambil tersenyum.


Steve tersenyum dan berharap bahwa anaknya akan hidup bahagia dalam rumah tangganya. Semoga pernikahan ini memang sekali seumur hidup. Steve berharap bahwa rumah tangga putrinya tidak seperti rumah tangganya dan Griselda dulu. Ia percaya para Javier bahwa pria itu bisa membahagiakannya.


...****...


Spoiler...

__ADS_1


"Sayang sudah, aku lelah..."


"Sekali lagi please!"


__ADS_2