Terjerat Pesona Ayah Sahabatku

Terjerat Pesona Ayah Sahabatku
Bab 50. Satu restu lagi


__ADS_3

Bab ini panjang ya guys.. 😍 baca pelan-pelan okehh...aku tambahin lagi nanti 1 bab kalau komen tembus 20.


...🍁🍁🍁...


Elena yang memang sudah tau password apartemen Savana, langsung masuk begitu saja dengan mudahnya ke dalam apartemen sahabatnya itu. Ia membawa sesuatu di tas plastiknya, sepertinya makanan.


"Dari kemarin sore Savana tidak membalas pesanku. Aku ingin lihat apa dia baik-baik saja atau tidak. Sekalian aku ingin menghabiskan malam Minggu dengannya dan menceritakan tentang Mark." gumam Elena sambil melangkahkan kakinya ke ruang tengah apartemen itu. "Tu-tunggu! Itu apa?" atensi Elena tiba-tiba saja tertuju pada sebuah sepatu hitam di dekat kamar Savana.


"Sepatu itu... seperti sepatu Daddy?" tebak Elena setelah melihat sepatu itu dari dekat. Baiklah, sekarang Elena mulai curiga. Ia berjalan masuk ke kamar Savana yang pintunya terbuka itu.


Alangkah kagetnya Elena saat melihat Javier tengah berciuman dengan Savana. Mereka terlihat mesra, meski terlihat ada bulir air mata jatuh membasahi pipi Savana.


'Ternyata Daddy dan Savana, mereka...' batin Elena tak percaya. Ternyata apa yang dikatakan oleh Elisa sebelum pergi itu benar, bahwa Javier dan Savana memiliki hubungan. Kekasih Savana selama ini adalah Daddynya. Tidak, Elena bisa menerima wanita lain tapi tidak dengan Savana.


"Maafkan aku baby, sungguh aku minta maaf. Aku menyesal, kau tenang saja. Aku akan menikahimu secepatnya." lirih Javier seraya membelai tengkuk Savana dengan lembut.


"Hubby..." lirih Savana dengan bulir air mata yang terus mengalir itu.


"Aku tidak percaya kau akan mengkhianati kepercayaanku seperti ini, Savana!"


Deg!


Suara itu sontak saja membuat Savana dan Javier menjauh satu sama lain. Mereka kompak menoleh kontan pada seorang gadis yang tengah berjalan menghampiri Savana dan Javier.


"E-elena?" Savana tergagap melihat sahabatnya ada disana. Namun Javier nampak santai, ia sudah tau kalau Elena melihat semuanya. Ia bersiap menjelaskan semuanya pada putrinya itu tentang hubungannya dengan Savana.


Plakkk!


Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Savana, sampai meninggalkan jejak merah disana. Javier tercengang melihat putrinya menampar Savana, ia bahkan tak sempat mencegahnya.


"ELENA!" sentak Javier.


"Kenapa dad? Apa Daddy mau bela jalangg ini?" Hati Savana mencelos saat mendengar ucapan Elena. Sungguh sakit hati gadis itu, ia tidak menyangka bahwa orang terdekatnya yang sudah seperti saudara tega mengatakan dia seorang 'Jalangg?'


Karakter Savana di ragukan disini, dia dituduh seolah-olah sudah merayu Javier dan kata jalangg itu sungguh menyakiti hatinya.


"Elena jaga mulutmu! Atas dasar apa kau memanggil calon ibumu seperti ini?!" hardik Javier pada putrinya, ia tak terima Savana di hina begini.


"Kalau bukan jalangg, apa namanya? Oh ya, dia kan munafik! Dia selalu bilang bahwa dia akan selalu menjaga kehormatannya sampai menikah nanti, tapi...hahaha apa ini? Apa tanda-tanda merah ini Savana? Dasar JALANGG!!" mata Elena menatap bekas kemerahan di leher dan bagian dada Savana dengan nyalang. Sekejap rasa sayangnya pada Savana berubah jadi kecewa saat mengetahui fakta bahwa papanya ada hubungan dengan Savana.


"Murahan! Bitcch!!" Elena mengumpat pada Savana. Matanya juga berkaca-kaca saat mengatakannya, rasa kecewa telah menutup mata hatinya. Savana terisak mendengar kata-kata Elena, ia ingin menjawab malah ingin berteriak. Kenapa selalu ia yang disalahkan? Kenapa ia yang selalu menderita?


"Kau boleh memiliki pria lain tapi jangan Daddyku! Kau tidak boleh dengannya dan aku tidak mau!" sentak Elena sambil menangis. Elena tidak bisa membayangkan apabila Savana menjadi ibu tirinya.


"Elena! Terimalah kenyataan, Daddy dan Savana saling mencintai. Kami akan segera menikah, kau tidak bisa melarang kami." tegas Javier pada putrinya.


"Kau bisa menikah dengan wanita lain dad, tapi tidak dengan Savana! TIDAK!" teriak Elena sambil menangis.


Saat Elena akan melangkah pergi dari sana, Savana dengan cepat menahan tangannya. Dia sudah terlalu lelah untuk diam dan sekarang waktunya ia untuk bicara. "El, kenapa kau seperti ini? Kenapa aku tidak boleh bersama dengan Daddymu?!"


"Seharusnya aku yang tanya padamu, kenapa harus daddyku? Kenapa Savana?!"


"El, apakah hati bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta? Aku jatuh cinta pada Daddymu dan aku serius dengannya.Katakan padaku, kenapa kau begini El? Apa aku salah?!"


"Salah besar Savana! Kau dan Daddyku tidak mungkin...ini gila!" seru Elena lalu mendorong Savana hingga gadis itu jatuh ke ranjang.


Elena pun pergi dari sana dengan perasaan galau dan kecewa yang sangat besar. Ia tidak menyangka bahwa Savana dan Javier memiliki hubungan.


"Maafkan aku Savana, aku tidak bisa setuju kau dengan daddyku. Aku tak bisa Savana, sungguh!" gerutu Elena lalu ia masuk ke dalam lift.

__ADS_1


****


Setelah kepergian Elena, Savana terdiam dengan wajah yang sedih dan pucat. Apa yang ia takutkan ternyata jadi nyata. Restu dari Elena lah yang sulit didapatkan, padahal gadis itu adalah sahabat dekatnya.


Savana takut kehilangan Elena, dia tidak mau hubungannya dengan Elena hancur karena sebuah rasa.


"Elena membenciku." gumam Savana sambil tersenyum miris. "Jika dia tidak menyetujui hubungan ini, lebih baik kita putus saja. Aku tidak mau kehilangan Elena selamanya, jika kita putus aku masih bisa bersahabat dengannya."


Raut wajah Javier langsung berubah panik. "Tidak, Elena tidak membencimu sayang. Kau tenang saja, aku akan mencoba bicara padanya. Dia tidak membencimu, aku yakin!"


"Lalu kenapa dia seperti itu? Kenapa dia mengatakan sesuatu yang menghinaku, hubby?" Savana menatap kekasihnya dalam-dalam. Ia masih tidak mengerti kenapa Elena sangat tidak menyetujui hubungannya dengan Javier.


"Dia syok dan dia malu." cicit Javier pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Savana.


"A-apa?"


"Kau tenang saja sayang, aku akan bicara padanya. Sekarang kau istirahatlah, kau masih sakit. Sekali lagi maafkan aku atas semalam, maaf sayang." lirih Javier pada kekasihnya itu.


Khusus untuk hari ini Javier tidak pergi ke kantor dan fokus untuk merawat Savana di apartemennya. Tak lupa dia memerintahkan Leo untuk membuat Mona jera yaitu dengan menarik investasi di perusahaan keluarga Mona dan juga membuat reputasi wanita itu hancur di depan masyarakat. Entah darimana Javier mendapatkan foto-foto seksi Mona bersama beberapa pria dan ia pun menyebarkan berita itu ke semua media.


Mona hancur dalam satu hari ditangan Javier. Tapi untuk pria itu sendiri dia masih belum puas untuk menyiksa Mona. Mona sudah membuatnya kehilangan kendali dan menyakiti Savana. Maka, Mona juga harus merasakan hal yang sama bukan?


*****


Malam itu, Mona yang reputasinya sudah hancur. Dibawa pergi oleh beberapa orang pria tak dikenal dari rumahnya. Mona diikat dan dibawa ke salah satu ruangan pengap.


"Kalian siapa? Kenapa kalian membawaku kemari?!" seru Mona ketakutan melihat empat pria bertopeng itu berada di depannya.


Keempat pria itu tidak bicara sepatah kata pun, hingga salah seorang dari mereka mengambil botol yang berisi air minum berwarna keruh. Kemudian pria itu memaksamuna untuk meminum air di dalam botol tersebut.


"TIDAK! Aku tidak mau! Tidak! Akhh..."


"Ayo habiskan ini jalanng, minumlah!" ujar salah seorang pria sambil tertawa-tawa.


Tak lama kemudian, Mona merasakan kepalanya berdenyut dan suhu tubuhnya memanas secara tiba-tiba. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. "Ada apa dengan tubuhku?"


"Nyonya, apa kau kepanasan?" jangan salah seorang pria itu membelai paha Mona.


"Uhhh...ah..."


Mona mulai terbakar gairah, di dalam dirinya seakan meledak-ledak. Ia ingin disentuh oleh pria-pria didepannya ini. Tapi Mona malu dan berusaha menahan dirinya. Namun rupanya apa yang terjadi di tubuhnya ini tidak bisa dikendalikan lagi.


Akhirnya Mona pun melakukan hubungan intim bersama dengan keempat pria itu dengan buasnya. Sampai tubuhnya kesakitan karena Mona terus meminta lagi dan lagi.


****


1 bulan setelah Elena mengetahui hubungan Papanya dan juga sahabatnya. Ia menjauh dari Savana dan Javier. Berulang kali Savana mengajaknya untuk bicara, namun gadis itu enggan untuk bicara dengan Savana. Keadaan Savana juga sudah lebih baik sejak malam panasnya bersama Javier malam itu.


Bagaimana Savana bisa berpikir positif bahwa Elena tidak membencinya? Sedangkan sikap Elina saja seperti ini sekarang. Ya, Elena masih belum menyetujui hubungan mereka, bahkan ia masih marah pada Savana. Tapi ada kabar baik dari Margaretha, ibu dari Javier itu langsung menyetujui hubungan Savana dan Javier. Tanpa mempedulikan jarak usia diantara mereka berdua. Margaretha juga setuju sebab Martha yaitu mendiang nenek Savana adalah sahabat baiknya dulu. Namun Elena masih belum membuka hatinya.


***


Sore itu Savana putuskan untuk kembali menemui Elena dan Alexa di salah satu lokasi pemotretan. Sudah 1 bulan Savana memohon-mohon seperti ini. Tentunya ia tak bisa menikah tanpa restu Elena, orang yang penting hidupnya juga hidup Javier.


"El, aku mau bicara denganmu. Kumohon izinkan aku menjelaskan semuanya." kata Savana lirih.


Elena langsung terdiri dari tempat duduknya dan memalingkan wajah. Alexa tau sahabatnya itu berniat untuk menghindar lagi dari Savana. Kali ini Alexa tidak tinggal diam, dia tidak mau melihat kedua sahabatnya berseteru terus menerus.


"Elena, kau tidak boleh terus-terusan menghindar seperti ini dan bicaralah dengan Savana. Masalah tidak akan pernah selesai bila kau terus menghindar!" Alexa menahan tangan Elena. Ia menghela nafas kasar. Alexa menatap kedua sahabatnya dengan tajam.

__ADS_1


Alexa lalu keluar dari ruang rias tersebut dan sengaja menguncinya dari luar. Ia membiarkan Elena dan Savana berdua disana.


"Kalian tidak boleh keluar dari sana sebelum kalian berbaikan! Paham!" seru Alexa berteriak, lalu ia pergi dari sana.


Keadaan didalam ruangan itu canggung, Savana tampak bingung harus bicara mulai dari mana. "El..."


"Kalau kau kesini untuk meminta izin tentang hubunganmu dan juga daddyku, jawabanku akan tetap sama. Yaitu tidak." ujar Elena tanpa menoleh sedikitpun ke arah Savana.


"Elena, aku tidak tahan lagi. Sudah satu bulan kau seperti ini...kenapa kau masih marah padaku? Kau benci aku?" tanya Savana sambil memegang tangan Elena, kali ini gadis itu tidak menepisnya.


Jujur, Elena sama sekali tidak membenci Savana. Dia tidak menerima Savana karena dua hal. Pertama malu, kedua dia tidak bisa memanggil Savana sesuka hatinya lagi kalau gadis itu nanti menjadi ibunya.


"El..."


"Baiklah Savana, aku akan jujur padamu. Aku tidak bisa menerimamu karena aku tidak mau memanggilmu ibu! Lucu sekali kalau aku memanggilmu ibu! Kau..." lirih Elena dengan bulir air mata membasahi pipinya. Ia juga tidak tahan bermusuhan seperti ini dengan Savana.


"Elena, jadi kau tidak membenciku?" tanya Savana dengan mata yang berbinar-binar.


'Jadi benar kata hubby, Elena tidak membenciku. Dia hanya syok dan kecewa padaku" batin Savana bahagia.


"Iya, aku tidak membencimu. Tidak! Aku juga tidak tahan bermusuhan denganmu. Tapi jika kau jadi ibuku, aku merasa canggung. Bukankah aku harus memanggilmu ibu? Bukankah nanti aku..." Elena terisak.


Akhirnya kedua sahabat itu pun berpelukan dan saling meminta maaf satu sama lain. Terutama Elena, dia sudah menyebut Savana sebagai wanita jalangg dan murahan. Elena menyesal karena emosinya telah membuat dia mengatakan kata-kata yang tidak seharusnya.


"Jadi, kita baikan ya? Aku senang sekali Elena!"


"Aku juga Savana! Aku senang sekali!" kata Elena sambil memeluk Savana dengan erat.


"Ayo kita keluar dari sini, aku akan bicara pada Daddy dan Oma! Agar pernikahan kalian bisa segera dilaksanakan," kata Elena sambil melepaskan pelukan itu.


"Bukankah pernikahanmu dan Mark yang akan lebih dulu dilaksanakan?" tanya Savana, ya memang rencana pernikahan Elena dan Mark yang lebih dulu akan dilaksanakan. Lebih tepatnya satu minggu lagi.


"Iya juga ya, tapi kita bisa menikah di hari yang sama." cetus Elena senang. "Aku yakin kau akan jadi ibu tiri terbaik di dunia!"


"Baiklah, mari kita bicarakan itu dengan hubby." ucap Savana seraya tersenyum.


Kedua sahabat itu pun keluar dari ruangan rias setelah berbaikan. Alexa senang melihatnya. Kini satu restu yang tersisa itu sudah Savana dapatkan.


*****


Sepulang kerja, mansion Sanderix.


Wajah Javier terlihat pucat pasi, ia bahkan diantar oleh Leo ke Mansionnya. Namun rasa sakitnya seakan hilang saat mendengar tawa dari tiga wanita yang ia cintai didunia ini. Ibunya, Elena dan Savana.


'Apa Elena dan Savana sudah baikan?' batin Javier bertanya-tanya.


"Nak, kau sudah pulang?" sambut Margaretha ceria.


"Daddy!" Elena tersenyum ceria, lalu ia memeluk daddynya itu. "Aku sudah baikan dengan mommy Savana!"


"What? Sudah baikan? Mommy?" tanya Javier tidak menyangka bahwa akhirnya sang putri luluh juga. Javier senang, langkahnya menuju ke pernikahan tinggal sebentar lagi.


"Hubby, kenapa wajahmu pucat?" tanya Savana cemas melihat wajah Javier yang pucat.


Uwekk...Uwekkk...


"Parfummu... sangat menyengat baby...uwekk..."


Javier berlari terburu-buru menuju ke kamar mandi, ia mual-mual setelah mencium bau Savana. Savana dan semua orang yang ada di sana terheran-heran dengan sikap Javier. Kecuali Margaretha, matanya berbinar-binar dan bibirnya menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


"Leo, cepat panggil dokter Cheryl kemari!" ujar Margaretha pada Leo secara tiba-tiba.


...****...


__ADS_2