
...πππ...
Wanita paruh baya itu terlihat marah pada Savana yang menubruknya. Padahal Savana yang jatuh, bahkan tongkatnya juga berada diatas aspal sekarang. Melihat itu pria yang ada disamping wanita paruh baya itu membantu Savana berdiri dan mengambilkan tongkatnya juga.
"Nona, kau tidak--"
Pria bernama Steve itu tertegun manakala ia melihat wajah Savana dengan dalam. Gadis buta itu, ia mengenali wajahnya. 'Savana'
"Maaf saya tidak sengaja, nyonya." kata Savana sambil mengambil tongkatnya. Bola matanya memandang ke arah lain bukan pada lawan bicaranya. Si wanita paruh baya itu dan suaminya, Steve jadi yakin bahwa Savana buta.
"Pantas saja kau tidak bisa melihat, kau buta ya? Maaf." kata Emma seraya tersenyum mengejek Savana. Dalam hati ia berkata, cantik-cantik tapi buta.
Savana hanya tersenyum tipis saat menanggapinya. Gadis itu tidak banyak bicara, tapi jujur ia kesal dengan ejekan ejekan hari ini. Ingin menjawab? Atau mengelak? Buat apa? Dia kan memang buta dan itu fakta.
"Emma! Jaga bicaramu, itu!" sentak Steve pada istrinya dan membuat sang istri terkejut bukan main. Pasalnya, Steve tidak pernah membentaknya. Apalagi karena orang lain.
"Sayang, kenapa kau membentakku?!" sentak Emma marah. Ia menatap nyalang pada suaminya, Emma paling tidak suka dibentak. Apalagi didepan orang lain. Lagipula siapa yang suka dibentak didepan orang lain?
"Maafkan saya tuan, nyonya, saya akan berjalan dengan hati-hati." kata Savana sambil membalikkan badannya, ia berjalan dengan tongkat sebagai petunjuk jalannya.
Steve miris melihat kondisi Savana yang seperti ini. Dia terus menatap kepergian gadis itu dengan mata berkaca-kaca. Savana, dia adalah putrinya yang sudah lama tidak bertemu dengannya. Setelah bercerai dengan Griselda, Steve pergi meninggalkan Savana dan mantan istrinya. Ia memilih pergi bersama selingkuhannya yaitu Emma yang saat itu sedang hamil. Steve memutus kontak dengan Savana dan fokus pada keluarga barunya. Steve pikir hidup Savana bahagia bersama Griselda setelah kepergiannya, tapi apa ini? Savana buta? Bagaimana bisa?
"Sayang, apa kau mengenal gadis itu?" tanya Emma yang sontak saja membuat Steve tersadar dari lamunannya. Ia mengusap air matanya buru-buru.
"Tidak." sahut Steve cepat.
"Lalu kenapa kau menatapnya seperti itu? Jangan bilang kau suka pada bocah ingusan itu?" tanya Emma tidak senang. Ia selalu dengan pikiran buruknya dan memiliki sifat pencemburu.
"Apa yang kau pikirkan Emma? Mana mungkin aku menyukai gadis yang seumuran dengan putri kita! Sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini." tukas Steve seraya menggandeng tangan Emma.
"Baiklah, kita harus segera menemui Emily." ucap Emma pada suaminya. Ya, tujuan mereka datang ke Chicago adalah untuk menemui Emily, anak mereka yang sedang sibuk dengan perjalanan bisnis di negara ini.
__ADS_1
Steve pun pergi bersama Emma, matanya tertuju pada Emma tapi hatinya gelisah memikirkan Savana. Keadaan gadis kecilnya itu ternyata tidak sebaik yang ia pikirkan selama ini. Tapi darimana Steve tau dan bisa mengenali Savana padahal sudah lama tak bertemu?
Ya, dia tau tentang Savana dari foto yang dikirimkan Griselda padanya. Walaupun sudah bercerai, diam-diam Steve selalu menanyakan keadaan Savana pada Griselda karena ia menganggap bahwa Savana baik-baik saja dan tinggal bersama Griselda. Tak hanya itu, Steve juga selalu kirimkan uang kepada Griselda sebagai bentuk tanggungjawab pada Savana. Tapi apakah Savana tau semua itu? Tidak sama sekali. Savana bahkan membenci ayahnya yang pergi tanpa kabar sama sekali, bahkan ibunya juga meninggalkannya dengan keluarga baru.
'Apa yang sebenarnya terjadi nak? Kenapa kau bisa buta? Kenapa Griselda bilang kau baik-baik saja? Aku harus menanyakan padanya tentang ini. Aku harus bertemu dengannya'
Steve gelisah, tidak tenang, bagaimana pun juga Savana adalah darah dagingnya. Mana mungkin ia tenang melihat putrinya yang saat ini buta. Dan ia pun memutuskan untuk menemuinya Griselda secepatnya.
****
Sementara itu Savana berada di dalam toilet wanita, ia duduk di atas closed duduk. Savana menangis tersedu-sedu disana, entah kenapa sejak ia mengalami kebutaan. Perasaannya sensitif sekali, ia mudah menangis dan baperan.
"Come on Savana, kau hanya buta! Kau tidak cacat, kau tidak mati dan kau masih hidup. Jangan menangis lagi, kau kuat Savana. Jangan cengeng! Cengeng bukanlah dirimu! Bukankah kau Savana si bar-bar?" Savana masih berusaha menenangkan dirinya didalam toilet itu. Tidak disangka ejekan yang biasanya tidak mempengaruhi hatinya dan selalu ia tanggapi dengan santai, ternyata sekarang malah membuatnya menangis seperti sekarang.
πΆπΆπΆ
Dering ponsel terdengar dari dalam tas selempang milik Savana. Gadis itu pun merogoh ponselnya didalam tas tersebut. Sekarang ia memakai ponsel dengan tombol, agar mempermudahnya untuk mengangkat telpon. Bukan ponsel yang disentuh, ini hanya untuk sementara waktu.
"Siapa yang menelpon ya? Apa Elena? Ah ya...aku sudah terlalu lama pergi." gumam gadis itu kemudian ia buru-buru mengangkat tombol untuk mengangkat panggilan telepon.
"Baby girl, ini aku."
"Hubby? Apa kau belum berangkat? Kenapa kau meneleponku?" tanya Savana terheran-heran.
"Aku sedang menunggu jadwal keberangkatan pesawat, mungkin 15 menit lagi dan aku juga sedang menunggu Leo yang lupa mengambil berkas di kantor. Tapi baby, kenapa suaramu?" tanya Javier to the poin, ia langsung merasa aneh dengan suara kekasihnya itu terisak seperti habis menangis.
"Tidak apa-apa, suaraku biasa saja." sangkal Savana dengan suara parau yang tidak ia sadari.
"Ada apa baby? Kau sakit? Apa ada seseorang yang melukaimu?" cecar Javier cemas. Javier yakin ada yang aneh.
"Aku kan sudah bilang, kalau aku baik-baik saja hubby." tegasnya sambil berusaha menutupi rasa paniknya, walaupun Javier tidak bisa melihat wajahnya saat ini.
__ADS_1
"Jangan bohong baby girl." ucap Javier dengan suara tegasnya.
"Sungguh, aku..."
Ketika Savana akan menyanggahnya lagi, suara Leo membuat Javier paksa harus menghentikan obrolannya dan Savana.
"Kita bicara nanti ya sayang, aku harus pergi. Aku janji akan segera kembali."
"Iya, kau tenang saja...aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskanku. Lakukan saja pekerjaanmu dengan baik, hubby." kata Savana seraya menenangkan Javier. Sebenarnya Savana sedih karena selama dia tinggal di mansion Javier, ia banyak menyita waktu pria itu. Terutama dalam pekerjaannya.
"Kau juga."
Tut...
Tak lama kemudian panggilan itu pun terputus. Leo sudah berada di samping Javier dan bersiap untuk pergi ke Meksiko.
"Pak, sudah ada yang bersedia mendonorkan matanya untuk nona!" seru Leo pada Javier dengan wajah yang berseri-seri.
"Benarkah? Lalu aku harus segera menghentikan perjalanan bisnisku Meksiko dan aku harus menemui orang itu." kata Javier senang mendengar berita ini dari Leo, semoga saja ini adalah kabar yang baik dan tidak menjadi harapan palsu seperti sebelum-sebelumnya.
"Pak, kita tidak perlu membatalkan kepergian kita ke Meksiko. Sebab orang baik yang akan mendonorkan kornea matanya pada nona, berada di Meksiko." jelas Leo pada bosnya itu.
"Kalau begitu, mari kita segera pergi kesana. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan orang baik itu dan aku ingin gadis kecilku segera bisa melihat dunia ini lagi." harap Javier sambil tersenyum.
"Ya pak,"
"Kita pergi."
Javier dan Leo pun menaiki pesawat yang akan lepas landas ke negara Meksiko. Mereka berharap bahwa orang baik itu benar-benar jadi mendonorkan matanya kepada Savana, tidak harapan palsu seperti sebelumnya. Javier akan membayar berapapun nominalnya dan mengabulkan apapun permintaan dari orang baik itu, asalkan Savana bisa melihat lagi.
...*****...
__ADS_1
Spoiler bab berikutnya...
"Tidak! Kau tidak boleh meninggalkanku seperti ini! Percuma aku bisa melihat lagi kalau kau TIADA!"