Ternyata Istriku Anak Bos Perusahaanku

Ternyata Istriku Anak Bos Perusahaanku
Teteh Pasrah Jika Aa Pergi!


__ADS_3

Aku hampir habis akal menghadapi perempuan itu. yang terus membuat di kamar.


Tapi aku dibisiki nenek tentang sesuatu, pasti Athalia keluar, Rupanya Sang nenek khawatir keburu habis kuota, aku pulang wanita itu akan gigit jari.


Setelah sudah aku mendapatkan jurus aku dari nenek kemudian aku praktekkan.


"Neng hati-hati ada cicak di atas, ntar jatuh karena lagi kejar-kejaran mungkin lagi kawinan....!!"ujarku agak sedikit dikuatkan, perempuan itu serta-merta keluar ketakutan.


Merasa tidak ada lagi yang harus aku bicarakan. Aku tidak mau bermanja-manja, tercurah kasih sayang kalau dia adalah anak bos perusahaanku, ketahuan bisa berabe.


Semenjak sekarang aku akan berusaha profesional saja menghadapi perempuan ini, yang dari menit ke menit waktu ke waktu menampakkan kewibawaan, Saat naik mobil tidak terlalu terlihat bangga sebagai pengamen, biasa saja, santai, bahkan ketika aku nyetir dia sempat menyarankan, ketika ada pengendara motor lewat di hadapanku dia memberi saran untuk masuk ke persneling 2.


Prakiraanku mendekati 100%, tapi sekali lagi perlu pembuktian biarlah waktu yang akan berbicara.


Setelah tahu semua, termasuk tempat tinggal dan orang tuanya, akhirnya aku minta izin pulang.


Athalia yang kini sudah keluar dari kamar tampak ketakutan aku tak balik lagi. Ia merasa telah menelantarkan laki-laki itu.


"Teteh pasrah andaikan Aa nggak kembali juga, karena teteh tahu siapa teteh sebenarnya yang hanya pengamen topeng badut yang tidak pantas mendampingi Akang yang milyarder. Hanya satu yang teteh minta jangan memandang rendah dan hina pada para pejuang hidup."pintanya.


Air matanya sudah kering, ia sudah tidak lagi memiliki daya tawar lagi, merasa tidak memiliki keistimewaan lagi, sangat naif berharap menjadi kekasih hati sang pemuda ganteng Austin.


Aku menyanggupi. "Ya neng, sudah pasti aku akan menghargai para pejuang hidup. Aku tidak pernah meremehkan mereka"ujarku berat.


Banyak terjadi kekhawatiran takut kehilangan begitu, aku khawatirnya pergi dan kemudian menghilangkan jejak.


Akan berhenti lagi kalau dia kerja tanpa penjelasan ke mana? Atha orangnya nekat, dia tidak pernah memikirkan dirinya, pedulinya selamat atau tidak yang terpenting tidak bisa menghasilkan uang untuk Sang Nenek dan membeli makeup.


Namun bagaimanapun kalau tuntutan tugas aku harus pulang.


Aku belum makan terus selangkah pada Mamaku aku bertemu dengan Athalia.


Aku pulang dengan diantar oleh dua pasang mata: nenek dan Athalia.


Berat rasa hatiku untuk meninggalkan mereka, rasanya separuh dari aku hilang. Tapi bagaimanapun aku harus melanjutkan perjuanganku. Aku mengikhlaskan apapun yang terjadi dengan aku dan mereka.

__ADS_1


Itu semuanya ada bagian masing-masing, juga seandainya dipertemukan bagi Allah sangat mudah. Sebab akan bisa resikonya ketika aku harus meninggalkan semua yang telah aku punyai termasuk komunitas dan perusahaan serta orang tuaku.


"Ya Allah demikian berat aku melangkahkan kaki, namun terpaksa aku lakukan demi meneruskan cita-cita perjuanganku, aku hanya berharap ketika dia menjadi bagianku, dekatkanlah. namun jika dia bukan dari bagian kau yang lebih tahu.


Ucapku sampai terus melangkah menuju mobilku yang mau tersimpan agak butuh jauh dari pemukiman itu.


***


Kehadiranku di rumahku aku disambut berbagai macam persoalan; yang mestinya aku beristirahat malah aku sendiri dibuat bingung,


Namun bagaimanapun seorang mama tidak akan pernah menyia-nyiakan kondisi anak.


Meski awal-awalnya memberondong dengan pertanyaan sekaligus harapannya, ya tidak lupa menyiapkan air panas untuk aku mandi sementara sarapan sudah tergelar di meja.


Aku berbahagia masih memiliki Mama yang baik hati, sementara mendiami aku telah lama pergi karena penyakit kronis yang dideritanya.


Aku kalau sudah urusan lama semuanya menjadi berhenti, bagaimanapun Mama menjadi inspirasiku, aku tidak mau kehilangan Mama aku tidak mau kecewakan mama dengan kekuatan apapun.


Termasuk aku mendapatkan ujian hari ini, di mana Aku separuh sudah dapat menemukan anak CEO perusahaanku, sementara aku di rumah dihadapkan pada persoalan yang sangat pelik. Di mana aku harus menentukan pilihan, yang pasti tetap perlunya keluargaku adalah ke perempuan yang bernama Fatin.


Semua sudah menyaksikan sendiri bagaimana rumah batin yang bergaya lama tapi menunjukkan kewibawaan rumah tersebut.


"Mama merasa bingung ketika kamu tidak pulang selama dua hari, dua malam ini, ke mana aja kamu Nak??..."tanya perempuan paruh baya itu.


"Ada meeting luar kota Mak jadi aku harus fokus sebab masalahnya ada kontraknya harus diselesaikan dan mereka minta untuk all out, terpaksa aku harus nginep sambil meyakinkan terutama untuk mengecek dokumen-dokumen yang bisa dipastikan menjadi garansi bagi perusahaan mereka!!...."


Mama baru faham, aku memang tidak pernah berbohong pada keluarga. Aku tetap jujur.


Bagaimanapun aku harus jujur terhadap mereka. Apalagi Mamaku suruh kepo langsung mau kegiatan yang aku lakukan di luar.


"Kemarin mamanya Fatin ke sini, dia minta keseriusan dari kita, kapan melakukan lamaran, karena katanya Fatin banyak kejar-kejar oleh keluarga besar Fikri. Pacar sebelumnya Fathin.


Ia terus mendesak Fathin untuk menentukan tanggal menikah, sementara Fatin sudah tidak berkenan lagi untuk melanjutkan hubungannya dengan dia,


Dia hanya bisa berharap kepadamu nak, jadi perut Mama apa lagi yang harus kau pertimbangkan--kamu sudah dewasa, doa adikku sudah menikah--ini sebenarnya yang membuat mama kebingungan.

__ADS_1


Apa yang Ibu katakan tadi memang berat sekali aku mempertimbangkan, sebuah keputusan yang akhirnya membelenggu diri itu sendiri.


Fatin punya pacar yaitu Fikri yang ikhlas Dia adalah orang Saleh yang aku sangat tahu dia bekerja keras dia penyayang terhadap keluarga Jadi kurang apa lagi besok akan aku akan menjalani laki-laki itu ketika aku mengambil Fatin sebagai istriku.


"Kenapa kok diam termenung sebutin yang sedang dipikirkan?


Pertimbangan apalagi yang kau ambil, kurang apa Fatin Dia wanita sholehah dia sarjana ekonomi dari keluarga baik-baik, jadi wanita seperti apa lagi yang kamu cari nak??..."nenek terus mengejarku angkat aku segera membuat keputusan.


Karena menurut nenek sifatnya sudah sangat urgen sekali, gimana tidak berkenan dengan keinginan Fiqri yang terus meminta menikah. Sedangkan Fatin hanya berharap kepadaku.


Aku mengerjitkan dahi, kenapa Fikri segera itu meminta menikah dengan Fatin bukankah yang sudah menempuhnya S2 nya. Ini sudah sangat pasti ada kesibukan kesibukan sendiri.


Aku harus berjuang walaupun ceritanya bukan karena aku sudah memiliki tambatan Hati, tapi aku tidak mau berkhianat pada kawanku sendiri.


Fiqri sudah bilang bahwa dirinya tidak akan mempunyai perempuan lagi kecuali kepada Fatin yang sejak kecil dia ikuti.


5 tahun masa berpacaran sehingga merasa aneh ketika ia menjadi sulit dihubungi.


Masa dengan hanya tidak ikut wisuda saja dirinya tertendang dari keluarga itu.


"Coba Bro ingat bahwa aku akan sudah 5 tahun berpacaran, suka dan duka sudah gua reguk bersama Fatin. Dan yang gua tidak bisa berlari adalah karena gua pernah merasa kecelakaan.


Untuk gua Fatin sudah memberikan sesuatu yang sangat berharga, Ia sudah menyerahkan kesucian saat di kelas 3 SMA, saat itu gua semester 1 di perguruan tinggi, Fatin menyerahkan kesuciannya saat dalam perjalanan dari Riau ke Jakarta.


Dan berlanjut di kos-kosannya dia, selalu aja terjadi hubungan suami istri itu, sederhana saja alasannya karena kami sering sepakat untuk bersatu selamanya, kami tidak mau dipisahkan situasi, aku yang di Riau dia yang di Jakarta.


Hanya kami sepakat untuk menunda dulu, sehingga ketika Fatin telat bulan dia datang ke suatu tempat klinik Fathin mengikuti program aborsi.


Gua orangnya bukan tipe habis manis pas dibuang, gua bertanggung jawab atas apa yang gua lakukan kepada perempuan itu.


Sepintas gua tinggal cari yang baru lagi!! buat apa perempuan yang sudah gua pernah datangi, artinya semua kepada penasaran gua sudah gua ekspresikan, tapi kan gue bukan tipikal laki-laki seperti itu!!..."


Demikian ke terus-terangan pikir terhadap aku membuat aku sulit untuk mempertimbangkan mengambil Fatin sebagai istriku.


Untuk Fikri perempuan itu sudah mengeluarkan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.

__ADS_1


Aku mau naik nafas panjang sangat berat sekali ketika aku harus mengikuti perintah mamaku, sekali lagi untuk hal ini aku berat.


Bersambung****


__ADS_2