Ternyata Istriku Anak Bos Perusahaanku

Ternyata Istriku Anak Bos Perusahaanku
Unlimited Disscusion


__ADS_3

Aku tidak pernah membayangkan jika aku harus benar menderita dengan permasalahan pekerjaan.


Bagaimanapun kehidupan harus tetap berjalan dan tetap aku harus mendaki kehidupan tersebut datar menanjak atau turun.


Jika aku harus jatuh siapa yang bisa menahannya tetap harus melewati itu semua.


Dan aku harus mencoba menebak di atas realitas aku.


"Aku itu hanya kasih saran sama lo, lu jangan terlalu jauh dalam mimpi lo, nyari anak ABG dia gitulah nasib yang harus lo terima.


Gue nyadar lo pasti ngejar impian lo, impian untuk mendapatkan perempuan manis cantik dan manja. Akan tampil harusnya adalah siapa? Usia lo berapa tongkrongan lo seperti apa?"


Boim terus niatin aku agar aku on the track, Boim faham bahwa aku selama ini terlalu jauh melenceng dari jalur ke depan yang sebenarnya.


Mau bahas bagaimana ini apakah gua nggak boleh menyukai keindahan, gue rasa semuanya nggak adil sama gue, apa yang gue lakukan bukan mimpi gue lakukan dengan real dan atas kesadaran.


Alright, lu gua anggap mimpi di siang bolong dapetin perempuan cantik ABG lagi, tapi lu nggak nyadar bahwa gue sebenarnya adalah gue banget..."


Ugh..


Ugh..


Ugh!


Boim batuk-batuk, aku sadari bahwa kelakuan bohong itu layaknya menghina aku.


Namun aku sadar aku paham bahwa semuanya harus aku lakukan dan rasaku lewati, Natalia adalah bukan mimpi atau dia adalah nyata dia adalah merupakan sosok wanita yang hadir dalam kehidupan ini.

__ADS_1


It's oke, Boim mungkin tidak paham bahwa apa yang aku lakukan adalah it's real in my life, sister is exist in my life. I think it is not in my imagination.


Ya sudahlah kau memang Boim nggak paham, apa mau dikata. Aku udah habis salat sejujurnya bahwa aku menemukan Natalia bukan on my dream tapi really on my life.


Gue ngomong sama lo seperti gue ngomong sama patung, kapan gue mau bisa bicara utuh nggak sepotong-sepotong kayak begini, tapi gua nyadar orang jomblo kayak lu emang masih banyak halunya, ok!"


Aku diam dikatain seperti itu sama Boim, dia pantas memang ngomong kayak begitu! Kok dia memang jalannya lurus-lurus aja, Ini buat perempuan dapat calon bini lumayan cantik, hidup enak Dia punya toko sendiri punya usaha sendiri hidup nyaman nggak naik turun kaya aku.


Tapi bukankah orang memang mau bikin nasi dan cara sendiri-sendiri tidak harus aku menjadi Boim dan Boim jadi aku, tapi aku sulit untuk menyadari itu semua. Buktinya aku dihadapkan pada persoalan-persoalan yang buat aku sangat sulit untuk diterjemahkan.


Aku faham saat ini memang Fathin sudah agak menjauh, artinya beban hidupku tidak terlalu terkuras hanya memikirkan perempuan itu yang selalu masuk dalam kehidupan aku.


Ya sudahlah kalau aku memang harus sendiri ya sendiri lagi biasa juga sendiri, namun yang aku bayangkan sekarang adalah kondisi makku yang terus menerus menanyakan di mana dan bagaimana kondisi Fatin saat ini.


"Gua masih nyangka lo memikirkan Fatin kan? Lo sadar atau enggak nyadar bahwa orang tua lu pasti menginginkan latin masuk ke dalam kehidupan lo, artinya dalam pemikiran orang tua loh pasti Fatin itu kan sudah the Perfect woman you have now.


Emang aku pantas di bully, tak hingga kini aku juga belum menentukan sikap.


Bosan tidak dapat jawaban yang pasti dan selalu tidak nyambung dalam bercakap-cakap Boim akhirnya undur diri.


"....Lho nggak kayak dulu lagi, Brow Aus, nggak kebanyakan halunya. Aku jadi penasaran kepengen tahu seperti apa sih cantiknya atau dia itu sampai lu klepek-klepek.


Jadi wajar sih lo banyak halunya, dude-detik sebagai anak mami jadi tidak berpikir kerja keras kenceng-kenceng, nyari duit bener... Ya kebiasaan lu ya pasti itu aja nyari yang sesuai dengan batin lu.


Harus nyadar usia gini pantasnya kan beruntung nggak sama mak-mak juga. Jadinya gua saranin lu ngaca dulu lah banyak bermuhasabah menyamar mendekatkan diri pada ilahi semoga Allah ditunjukkan pada orang yang tepat yang sesuai dengan usia lo yang samaan sama lo..."boleh mengingatkan sambil dia terus berlalu.


Selepas kepergian Boim aku kembali termenung, benar juga kata bawain aku terlalu banyak berhalusinasi, tapi lagi aku berpikir aku aku baik-baikin nggak bisa diserupakan aku dengan dia.

__ADS_1


Yah sudahlah emang seperti nasibku Aku berharap di kemudian hari aku bisa menjadi diri sendiri. Sebenarnya aku memikirkan Natalia yang kini aku sudah tahu persis siapa dia sesungguhnya dan siapa dia sebenarnya.


Dan ketertarikan aku pada Atalia karena karakternya bukan karena background kesuksesan bapaknya, preet!


****


Always wrong, and I was wrong..."aku terus menerus dilanda kesepian, selalu menyalahkan diri, makin teringat kata-kata Boim kawanku, usiaku sudah tidak muda lagi, aku banyak sering didesak oleh orang tuaku yang hingga saat ini belum juga menemui jodohku.


Makanya ia sering mempersalahkan kenapa perempuan yang sudah nongol tidak segera diantisipasi, tidak segera dieksekusi, akhirnya banyak godaan.


Udah beberapa kali mama menelepon patin tapi tidak juga dijawab. Akhirnya mamaku kesal dan selalu menyalahkan aku


"Mama tidak menyalahkan Fatin yah Mama serahkan padamu kenapa kamu abai terhadap keinginan dia, Mama faham Fatin seperti itu karena dia juga harus menjaga harkat mata sendiri. Kamu yang diinginkan dan diidam-idamkannya malah acuh sehingga dia juga mungkin berpikir ulang untuk bersama-sama dengan ada di lingkungan kamu Nak.


Mama udah seberapa kali menghubungi dia memintakan maaf atas sikapmu yang acuh tak acuh terhadap dia,


Namun seringkali Mama memintakan maaf untuk kamu agar dia bisa kembali dan bisa bersama-sama menjalin hubungan asmara dengan kamu, tapi justru kamu nya lagi dingin dan terus dingin. Sehingga ia merasa kesal dan udah satu minggu ini dia tidak menghubungi Ibu tidak ada komunikasi sekalipun.


Jadi Mama nggak tahu kamu maunya seperti apa? Kalau kamu memang sudah bisa Mama pegang Kehendak Mama bisa saja datang untuk minta dia kembali sering main ke sini.


Tapi Mama belum yakin kamu bisa mengubah karakter kamu sehingga tetap saja dia sulit kembali."urai Mama.


Aku bingung dengan perkataan Mamaku, apa sebenarnya yang diinginkan dari aku tentang dia.


sudah berusaha sekarang membuka diri, tapi tetap batinku tersiksa.


Bersambung****

__ADS_1


__ADS_2